GSP Jadi Kunci Pengembangan Ekspor di AS

Jumat, 20/07/2012

NERACA

Jakarta - Program GSP (General System of Preferences) Amerika Serikat (AS) masih merupakan salah satu kunci penting dalam mengembangkan pasar Indonesia di AS. Tanpa GSP, Indonesia akan mengalami kesulitan untuk berkompetisi dengan negara lain di pasar AS. Karena itu, Pemerintah Indonesia berharap agar Pemerintah AS dapat mempertimbangkan kembali pemberian GSP untuk beberapa produk Indonesia.

Melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Kamis (19/7), Direktur Jenderal Kerjasama Perdagangan Internasional Iman Pambagyo berharap Amerika Serikat dapat meningkatkan status Indonesia yang saat ini berada pada posisi Priority Watch List. Sementara itu, isu yang menjadi fokus Amerika Serikat adalah menjadikan Indonesia sebagai akses pasar untuk produk hortikultura dan ternak hidup, IPR (Intellectual Property Rights), Permendag No. 27/2012 tentang Ketentuan Angka Pengenal Impor (API), Permendag No. 57/2010 tentang ketentuan impor produk tertentu, Permendag No. 2/2010 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan produk Tekstil (TPT), dan persyaratan kandungan lokal di sektor mineral Indonesia.

Asisten Perwakilan Dagang Amerika Serikat untuk Asia Tenggara dan Kawasan Pasifik Barbara Weisel mengungkapkan, pemerintah Amerika Serikat sepakat untuk bekerja sama dan tidak hanya melakukan ekspor impor. Ada begitu banyak kesempatan bagi kedua negara yang perlu ditingkatkan. Amerika Serikat adalah negara tujuan ekspor Indonesia peringkat nomor 3 dan Indonesia adalah penyedia bahan baku urutan ke-24 bagi AS. “Namun demikian, angka tersebut tidak mencerimkan kesempatan kami sepenuhnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi pernah mengatakan alasan mengapa potensi pasar Amerika Serikat masih sangat besar. Pertama, yang melambat adalah pertumbuhan ekonominya, tapi dari sisi ukuran pasar masih terbilang besar. Kedua, semua ekonomi yang turun akan naik, sehingga jika sekarang ekonominya sedang melemah, dia yakin, ekonomi negara tersebut akan kembali tumbuh. Ketiga, Indonesia tetap harus menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat. Bahkan kerja sama dua negara harus bisa ditingkatkan. "Amerika tentu bersemangat meningkatkan ekspornya ke Indonesia dan sebaliknya," ujar Bayu.

Tingkatkan Ekspor

Oleh sebab itu, dengan adanya program GSP dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan ekspor ke AS. Produk‐produk ekspor Indonesia tertentu dapat menjadi lebih kompetitif di pasar AS jika memanfaatkan program GSP dari Pemerintah AS. “Karena melalui program ini, produk‐produk ekspor kita diberi kemudahan fasilitas bebas bea masuk ke pasar AS,” ujar Bayu.

Program GSP adalah program yang diberikan oleh AS kepada negara berkembang dan negara kurang berkembang (Least Developed Countries – LDCs) untuk membantu negara‐negara tersebut meningkatkan perekonomiannya. Presiden Barrack Obama telah menandatangani perpanjangan program GSP pada Oktober 2011 untuk lebih dari 3,400 jenis produk impor dari 129 negara, termasuk Indonesia. Indonesia merupakan negara keempat yang paling banyak memanfaatkan program GSP dari Pemerintah AS dengan mengekspor 652 jenis produk melalui skema GSP.

“Sebagai peringkat keempat yang memanfaatkan GSP dari AS, kita sesungguhnya sudah cukup aktif. Namun, kalau dilihat dari 3.400 jenis produk yang ditawarkan AS dan kita baru memanfaatkan sebanyak 652 jenis atau sekitar 20%, maka masih banyak jenis produk yang belum kita manfaatkan fasilitas GSP‐nya,” kata Bayu.

Belum maksimalnya pemanfaatan fasilitas GSP, disebabkan kurangnya pengetahuan para pengusaha Indonesia mengenai manfaat GSP dan prosedur penggunaannya. “Saya sangat mengapresiasi insiatif untuk mensosialisasikan pemanfaatan GSP ini kepada para pengusaha. Ini dapat berdampak sangat positif bagi peningkatan ekspor Indonesia ke AS,” pungkasnya.