Formula Harga BBN Sudah Ditetapkan

Kamis, 19/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan membuat formula penghitungan indeks harga bahan bakar nabati (BBN). Adapun formula itu menyebutkan naik beberapa persen dari sebelumnya dan saat ini sedang menunggu pengesahan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu). "Ada formula untuk mementukan indeks harga. Formula itu dibuat sedemikian rupa sehingga akan selalu mengikuti harga bahan baku,” kata Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Maritje Hutapea, di Jakarta, Rabu (18/7)

Menurut Maritje, kenaikan harga itu membuat produsen BBN tetap bisa menikmati keuntungan. “Jadinya perusahaan selalu pasti dapat margin. Jadi berapa pun harga molases dan CPO, karena ada formulanya, maka perusahaan tidak akan rugi," ujarnya

Lebih jauh Martije menambahkan formula perhitungan dasar untuk biodiesel terdiri dari Harga Patokan Ekspor (HPE) dikali faktor penyeimbang 1,2. Sedangkan untuk bioethanol terdiri dari Argus Thailand faktor penyeimbang 1,32. Sementara untuk harga pokok bioethanol menggunakan harga bioethanol Thailand karena belum ada harga bioethanol Indonesia di Argus. "Harganya ini akan selalu fluktuatif tergantung harga Argus dan HPE-nya berapa. Tapi sudah ada faktor pengkali, kalau yang dulu itu dan yang sekarang masih berlaku untuk biodiesel adalah HPE dikali satu (faktor penyeimbang), jadi ada kenaikan 20%. Dan biodiesel Argus sebelumnya dikali 1,05 jadi ada penaikan 27%," terangnya

Martije menambahkan, formulasi tersebut ditetapkan KESDM bersama dengan produsen lalu dihitung masing-masing komponen harganya, jika formulasi harga tersebut segera disahkan Kemenkeu, akan membangkitkan semangat produsen BBN. "Kita target keluarnya indeks harga as soon as possible. Tapi tahu sendiri kan Kementerian Keuangan, kasnya negeri, selalu mikir sebelum mengeluarkan keputusan karena itu terkait dengan subsidi. Jadi, intinya pemerintah sudah memberi subsidi Rp3.500 untuk bioetanol dan Rp3.000 untuk biodisel," tutup Maritje.

Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) merintis pengembangan bioetanol generasi kedua skala "pilot plan" melalui kerjasama dengan Korea International Cooperation Agency (Koica). "Pilot Plan ini merupakan yang pertama di Indonesia, dan pada 2012 ditargetkan mampu memproduksi bioetanol-lignoselulosa dengan kapasitas 10 liter per hari," kata Peneliti Utama Bioetanol Biomassa Lignoselulosa Pusat Penelitian Kimia LIPI Dr. Yanni Sudiyani

Dikatakan Yanni, kerja sama ini merupakan tantangan dan kesempatan bagi LIPI untuk mengembangkan riset untuk menghasilkan inovasi teknologi produksi etanol generasi kedua dan turunannya (by product) dengan pendekatan multidimensi mulai dari hulu penanganan sumber bahan baku, hingga hilir.

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya kandungan oksigen yang tinggi (35 persen) sehingga jika dibakar sangat bersih, serta ramah lingkungan karena emisi gas karbon monoksida lebih rendah 19-25 persen dibanding BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer. **cahyo