Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksikan Hanya 6,2% - Pada Semester I 2012

NERACA

Jakarta--Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I/2012 diproyeksikan hanya mampu sebesar 6,2%. Proyeksi pertumbuhan sebesar itu disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dengan adanya harga minyak dunia yang cenderung turun belakangan ini sehingga harga ekspor Indonesia juga turun. "Pertumbuhan akan sedikit turun, jadi semester I/2012 ini diproyeksikan sekitar 6,2%," kata Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono di jakarta,18/7

Ada beberapa komoditi ekspor yang turun, kata Toni, misalnya, batubara, sawit, ikut turun karena harga minyak dunia turun, akibatnya ekspor kita lemah dan mempengaruhi defisit neraca perdagangan selama dua bulan terakhir ini. "Akibatnya, terjadi perlambatan ekonomi, memang masih tumbuh tapi melambat. Tapi menurut saya kalau bisa lebih dari 6,0 %itu pertumbuhannya sudah bagus. India saja sekarang sudah kepala 5, China sudah kepala 7 yakni 7,6 %dari kuartal I/2012 sebesar 8,1%. Jadi kalau bisa dikisaran enam %kita sudah bagus," ujarnya.

Dikatakan Toni, kondisi perekonomian global saat ini memang sudah dirasakan dampaknya, baik itu negara berkembang maupun negara maju. Bahkan, Dana Moneter International (IMF) telah merevisi proyeksi pertumbuhan global pada tahun ini.

Terkait proyeksi IMF, Toni menambahkan proyeksi terakhir ini dengan asumsi tidak ada langkah kebijakan yang cukup untuk perbaikan kondisi finansial di pinggiran Zona Euro secara bertahap. "Saya setuju dengan proyeksi IMF, yang penting target pertumbuhan yang ditetapkan pemerintah asal kepala enam saja itu sudah bagus, asal jangan sampai kepala lima," jelasnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menginginkan target pertumbuhan ekonomi tahun depan masih dalam jangkauan pemerintah yaitu pada kisaran 6,8%-7,2 %. Sehingga terlihat realistis dalam kondisi ketidakpastian global.

"Kita memang harus menerima bahwa pada saat yang lalu itu rangenya 6,8 % hingga 7,2%," ujarnya

Menkeu mengatakan target pertumbuhan tersebut ditetapkan pemerintah dalam RAPBN 2013 karena ada kemungkinan perkembangan krisis di Eropa makin membaik. "Kita melihat bahwa yang kemarin ini disusun adalah dengan kondisi ada perubahan membaiknya perkembangan di Eropa," ujarnya.

Namun, kata Agus, apabila ada situasi diluar kendali yang mengharuskan pemerintah merevisi target pertumbuhan pada 2013, maka pemerintah sangat memungkinkan untuk mengubah target pertumbuhan tersebut. "Kalau situasi itu memang di luar kendali kita, ya kita mungkin nanti harus bicara, karena kita yang penting (memiliki pertumbuhan) realistis dan nantinya kredibel," paparnya

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan Indonesia akan kembali meningkat pada tahun 2013 dengan meningkatnya stabilitas internasional bergerak menjadi 6,4 %dari 6,0 %pada tahun 2012.

Menurut Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia Shubham Chaudhuri, pertumbuhan investasi akan mengalami penurunan dan mencerminkan kelemahan relatif dari permintaan luar negeri, sedangkan ekspor netto kembali memberikan kontribusi yang negatif pada pertumbuhan.

Namun, apabila terjadi kebekuan parah di pasar keuangan internasional yang berkontribusi terhadap penurunan pertumbuhan mitra perdagangan, penurunan komoditas dunia dan turunnya tingkat kepercayaan investor maka pertumbuhan pada 2012 diproyeksikan 5,8 %dan menjadi 4,7 %di tahun 2013. "Yang menjadi masalah adalah apakah guncangan ini akan membesar atau tidak. Walaupun perekonomian Indonesia tampak kuat namun tetap saja harus mempersiapkan diri," ujar Shubham. **bari/cahyo

Related posts