Pelaporan DHE Bisa Jaga Nilai Rupiah

Kamis, 19/07/2012

NERACA

Jakarta—Kewajiban melaporkan devisa hasil ekspor (DHE) serta utang luar negeri kepada Bank Indonesia (BI) diperlukan untuk menjaga fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah. "BI sebenarnya sudah membuat peraturan devisa hasil ekspor serta utang luar negeri, namun yang pemerintah belum lakukan yaitu kalau mau impor serta bayar utang harus lapor juga," kata Pengamat ekonomi Aviliani di Jakarta, Rabu,18/7

Menurut Aviliani, hal tersebut harus dilakukankarena kalau tidak dilakukan dapat menyebabkan gejolak nilai tukar rupiah. Nilai rupiah yang stabil dapat mengurangi inflasi.

Dikatakan Aviliani, inflasi bukan hanya disebabkan oleh faktor infrastruktur saja melainkan mata uang atau fluktuasi nilai tukar. "Karena ketika nilai tukar rupiah melemah inflasi kita tinggi," tambahnya.

Komisaris BRI ini menambahkan inflasi masih tinggi karena kebutuhan pangan nasional masih tergantung impor. Karena itu pemerintah harus menjaga rupiah.

Sementara itu, mata uang rupiah terhadap dolar AS masih tertekan sebesar 39 poin pada Rabu sore dipicu dari belum adanya bentuk operasional terhadap solusi krisis Uni Eropa (UE).

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta itu bergerak melemah 39 poin menjadi Rp9.469 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.430 per dolar AS. "Euforia mengenai penyelesaian krisis di UE belum dilanjutkan dalam bentuk operasional sehingga investor masih pesimis. Akibatnya tekanan mata uang euro terhadap dolar AS meningkat, membawa efek terhadap rupiah," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta.

Dikatakan Lana, permintaan terhadap dolar AS meningkat kembali setelah IMF memangkas proyeksi turun pertumbuhan ekonomi AS dari 2,1% menjadi dua persen sebagai efek menurunnya ekonomi Uni Eropa dan China.

Menurut Lana, indeks manufaktur di China dan Jerman menurun mengindikasikan melemahnya permintaan. Kondisi itu juga membuat permintaan terhadap aset dolar AS terus naik.

Bahkan Dosen FEUI ini memperkirakan, untuk minggu ke-3 Juli ini tampaknya rupiah belum cukup kuat untuk melanjutkan apresiasinya seiring permintaan terhadap dolar AS masih tinggi.

Sedangkan Pengamat pasar Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, depresiasi euro terhadap dolar AS masih berlanjut dan berimbas negatif pada nilai tukar rupiah. "Pasca testimoni Ketua Federal Reserve AS yang tidak memberikan indikasi lebih lanjut tentang program stimulus moneter telah memicu penguatan dolar AS di pasar uang global," ujarnya

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (18/7) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.463 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.474 per dolar AS. **cahyo