Pelaporan DHE Bisa Jaga Nilai Rupiah

NERACA

Jakarta—Kewajiban melaporkan devisa hasil ekspor (DHE) serta utang luar negeri kepada Bank Indonesia (BI) diperlukan untuk menjaga fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah. "BI sebenarnya sudah membuat peraturan devisa hasil ekspor serta utang luar negeri, namun yang pemerintah belum lakukan yaitu kalau mau impor serta bayar utang harus lapor juga," kata Pengamat ekonomi Aviliani di Jakarta, Rabu,18/7

Menurut Aviliani, hal tersebut harus dilakukankarena kalau tidak dilakukan dapat menyebabkan gejolak nilai tukar rupiah. Nilai rupiah yang stabil dapat mengurangi inflasi.

Dikatakan Aviliani, inflasi bukan hanya disebabkan oleh faktor infrastruktur saja melainkan mata uang atau fluktuasi nilai tukar. "Karena ketika nilai tukar rupiah melemah inflasi kita tinggi," tambahnya.

Komisaris BRI ini menambahkan inflasi masih tinggi karena kebutuhan pangan nasional masih tergantung impor. Karena itu pemerintah harus menjaga rupiah.

Sementara itu, mata uang rupiah terhadap dolar AS masih tertekan sebesar 39 poin pada Rabu sore dipicu dari belum adanya bentuk operasional terhadap solusi krisis Uni Eropa (UE).

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta itu bergerak melemah 39 poin menjadi Rp9.469 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.430 per dolar AS. "Euforia mengenai penyelesaian krisis di UE belum dilanjutkan dalam bentuk operasional sehingga investor masih pesimis. Akibatnya tekanan mata uang euro terhadap dolar AS meningkat, membawa efek terhadap rupiah," kata pengamat pasar uang Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta.

Dikatakan Lana, permintaan terhadap dolar AS meningkat kembali setelah IMF memangkas proyeksi turun pertumbuhan ekonomi AS dari 2,1% menjadi dua persen sebagai efek menurunnya ekonomi Uni Eropa dan China.

Menurut Lana, indeks manufaktur di China dan Jerman menurun mengindikasikan melemahnya permintaan. Kondisi itu juga membuat permintaan terhadap aset dolar AS terus naik.

Bahkan Dosen FEUI ini memperkirakan, untuk minggu ke-3 Juli ini tampaknya rupiah belum cukup kuat untuk melanjutkan apresiasinya seiring permintaan terhadap dolar AS masih tinggi.

Sedangkan Pengamat pasar Monex Investindo Futures Johanes Ginting menambahkan, depresiasi euro terhadap dolar AS masih berlanjut dan berimbas negatif pada nilai tukar rupiah. "Pasca testimoni Ketua Federal Reserve AS yang tidak memberikan indikasi lebih lanjut tentang program stimulus moneter telah memicu penguatan dolar AS di pasar uang global," ujarnya

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (18/7) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.463 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.474 per dolar AS. **cahyo

BERITA TERKAIT

Pemkot Depok Ajak Masyarakat Aktif Jaga Lingkungan

Pemkot Depok Ajak Masyarakat Aktif Jaga Lingkungan NERACA Depok - Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna mengajak seluruh komponen masyarakat…

Wakil Presiden - Muslim Indonesia Kurang Terapkan Nilai-nilai Islami

Jusuf Kalla Wakil Presiden  Muslim Indonesia Kurang Terapkan Nilai-nilai Islami Bengkulu - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai umat muslim di…

Wacana Kenaikan HPP Gula Bisa Dorong Biaya Produksi UMKM

NERACA Jakarta – Wacana untuk menaikkan HPP gula akan membawa dampak bagi industri, salah satunya berpotensi menambah biaya produksi UMKM.…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Holding BPR Bisa Terjadi

      NERACA   Padang – Pemerintah sedang gencar untuk menyatukan perusahaan-perusahaan BUMN yang satu lini bisnis. Seperti misalnya…

Suku Bunga Acuan Ditahan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) untuk keempat-kalinya secara berturut-turut mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse…

BI Jamin Longgarkan Likuiditas dan Kebijakan Makroprudensial

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menjamin kondisi likuiditas yang longgar bagi perbankan dan akan memberikan stimulus…