Kaspersky Lab Kembangkan Penelitian Keamanan

Sabtu, 21/07/2012

NERACA

Semenjak Kaspersky Lab didirikan pada 26 Juni 1997, di bawah kepemimpinan Eugene Kaspersky dan co-founder-nya. Pada ulang tahun yang ke-15, Kaspersky Lab dan perusahaan terus bertumbuh serta menjadi contoh kesuksesan bagi perusahaan start-up di bidang teknologi di seluruh dunia. Berawal dari hanya 20 karyawan pada tahun 1997, Kaspersky Lab berkembang menjadi perusahaan keamanan privat terbesar di dunia, dengan lebih dari 2.400 karyawan di sekitar 200 negara di seluruh dunia.

Menurut Eugene Kaspersky, CEO dan co-founder Kaspersky Lab bahwa sampai saat ini, Kaspersky Lab, pengembang terdepan konten keamanan dan solusi manajemen ancaman, menyediakan keamanan IT untuk lebih dari 300 juta pengguna di seluruh dunia, termasuk lebih dari 200.000 perusahaan. Kaspersky Lab dikenal karena perlindungannya yang mudah diatur dan sangat efektif dengan mengikuti strategi perkembangan yang berbeda daripada kompetitornya.

Kaspersky Lab terus mengembangkan solusi keamanannya secara in-house dan tidak melakukan merger dan akusisi. Dengan teknologi yang dirancang oleh para pakar Kaspersky Lab sendiri, produk Kaspersky Lab dibangun dari dasar agar bisa bekerja efisien dan tanpa cela.

Selain itu, tim pakar Kaspersky Lab telah menghasilkan beberapa deteksi dan analisa terkini dari ancaman cyber tingkat lanjut. Dengan tingkat kepakaran seperti ini, Kaspersky Lab baru-baru ini berhasil mengungkap beberapa malware paling kompleks yang pernah ada di dunia, seperti Cabir, Duqu, dan yang paling terkenal, malware Flame.

“Dengan mengungkap serangan-serangan ini, dan menjadi yang terdepan dalam menganalisa ancaman seperti Stuxnet, Kaspersky Lab telah menjadi kekuatan terdepan generasi baru menghadapi kejahatan online terorganisir dan senjata cyber,” terang Eugene.

“Limabelas tahun adalah waktu yang lama untuk berada dalam bisnis yang sama," katanya. Namun percaya atau tidak, dia masih menyukainya. Dia cinta tim ini dan dia cinta pekerjaan ini.

"Dalam 15 tahun terakhir kami bekerja sepanjang waktu setiap hari, menganalisa dan menghadapi segala jenis ancaman IT yang telah berevolusi dalam rentang waktu tersebut mulai dari hooliganisme cyber, penjahat cyber sampai ke perang cyber."

Yang terpenting saat ini adalah bekerjasama menghadapi ancaman digital. Serangan terkini seperti Stuxnet, Duqu dan Flame telah menunjukkan seberapa rapuhnya infrastruktur IT terhadap ancaman militer dan teroris. Namun kami berusaha sekuat kami demi mencegah potensi kerusakan yang bisa terjadi akibat dari penyerangan seperti ini.