Tunduk pada Aksi Spekulan

Oleh: Munib Ansori

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Bulan Ramadhan ternyata tidak hanya jadi momentum kaum muslimin meningkatkan pendakian spiritual, akan tetapi juga menjadi mimpi buruk bagi siapapun yang bersentuhan--baik langsung maupun tak langsung--dengan transaksi untuk kebutuhan pokok sehari-hari.

Semakin dekat puasa, semakin dekat lebaran, maka semakin tinggi pula lonjakan harga kebutuhan pokok. Beberapa hari menjelang puasa, kenaikan harga begitu terasa, hampir di seluruh pasar di Indonesia. Di Jakarta, umpamanya, untuk harga beras kualitas rendah naik dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.500. Sementara kualitas sedang dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000. Sedangkan kualitas bagus naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 9.000 per kilogram.

Begitupun harga daging sapi yang naik menjadi Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram. Sedangkan daging ayam dari Rp 25 ribu menjadi Rp 30 ribu per kilogram. Bahkan cabai keriting juga naik dari Rp 22 ribu menjadi Rp 25 ribu per kilogram. Demikian pula harga cabai rawit melonjak dari Rp 22 ribu menjadi Rp 24 ribu per kilogram.

Tentu saja, semua orang tahu, kenaikan harga pangan telah menjadi masalah rutin tiap tahun. Bahkan, lebih dari sekedar rutinitas, lonjakan harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa dan lebaran sudah jadi masalah akut menahun. Namun, pemerintah selalu “jatuh” di lubang yang sama.

Tata kelola harga pangan benar-benar dibiarkan liar dengan dalih mekanisme pasar. Seiring permintaan pasar yang meningkat tajam, maka pemerintah seperti membiarkan para pedagang menanggok untung lebih besar, bahkan membiarkan puasa dan lebaran menjadi peak season sekaligus jadwal mengambil keuntungan (profit taking), apalagi bertepatan dengan liburan anak sekolah.

Liberalisme perdagangan inilah yang membuat para spekulan punya ruang yang begitu luas untuk mempermainkan harga. Ketidakmampuan pemerintah menindak tegas para spekulan yang mempermainkan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab rutinitas kenaikan harga pangan menjelang Ramadhan.

Pemerintah seperti tunduk di bawah ulah spekulan yang giat menimbun barang. Dengan modal besar dan jaringan yang mapan, pemerintah seperti tak berdaya bahkan takluk di bawah aksi mereka. Maka tak heran, kenaikan harga kebutuhan pokok diprediksi melebihi 20% dibandingkan tahun lalu. Tentu saja, lonjakan permintaan barang dan jasa ini akan menyebabkan lonjakan impor.

Kenaikan harga seara liar ini sejatinya merupakan akibat adanya kombinasi ekspektasi dari konsumen dan tingkah laku dari pedagang yang tidak ingin kehabisan stok. Itu sebabnya, pemerintah harus melakukan berbagai langkah terobosan dalam rantai distribusi, karena secara produksi banyak bahan pokok sedang dalam masa panen.

Namun kenaikan yang terjadi menunjukan bahwa adanya spekulasi harga di luar faktor produksi, dan bukan lantaran melimpahnya produksi. Tentu kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah agar melakukan langkah antisipasi secara maksimal di tingkat produksi dan melakukan stabilitasi harga dalam rantai distribusi.

BERITA TERKAIT

DJP TERIMA DATA DARI SWISS PADA SEPTEMBER 2019 - KPK: Pasar Modal Rentan Kegiatan TPPU

Jakarta-Wakil Ketua KPK Alexander Marwata mengungkapkan, pasar modal merupakan salah satu sektor yang rentan terhadap tindak pidana pencucian uang (TPPU).…

PMII Cabang Kota Sukabumi Lakukan Aksi - Menjelang Program Seratus Hari Kerja Walikota Sukabumi

PMII Cabang Kota Sukabumi Lakukan Aksi Menjelang Program Seratus Hari Kerja Walikota Sukabumi NERACA Sukabumi - Puluhan mahasiswa yang tergabung…

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018 NERACA Serang - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Rahmat Hernowo…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Pemasangan Listrik Gratis - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centgre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

2 Desember 2018, boleh jadi adalah hari istimewa untuk warga Bantarjati Atas, Kota Bogor, Jawa Barat. Pasalnya, hari itu mereka…

Batam Butuh Regulasi Pasti

  Oleh: Dr. Enny Sri Hartati Direktur Indef Pertama, kita sering gagal paham. Dulu pak Habibie membangun Batam adalah sebagai…

Investasi, Divestasi, Privatisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mekanisme bisnis di bidang apa saja akan berjalan melalui proses yang umumnya…