Koperasi Masih Identik Keprihatinan - Belum Berkembang

NERACA

Jakarta---Ketidakberhasilan pengembangan koperasi di Indonesia. Karena kurangnya minat masyarakat Indonesia terhadap lembaga koperasi. Bukan itu saja, bahkan koperasi masih dianggap bukan lembaga bisnis. "Koperasi masih identik dengan keprihatinan," kata Wakil Direktur Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi Manajemen Institut Pertanian Bogor, Lukman M Baga dalam Seminar bertajuk Menyongsong Ekonomi Indonesia Demokratis dan Maju itu diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI) dalam rangka memperingati Hari Koperasi 12 Juli, Selasa,17/7

Menurut Lukman, masih banyak yang kurang memahami pengertian koperasi termasuk diantaranya para akademisi. Fakta pendidikan koperasi di universitas-universitas di Indonesia tahun 2011 menemukan bahwa dari para dosen pengajar studi koperasi hanya 9% yang bergelar doktor dan sebanyak 24% yang bergelar magister. “Sementara hanya 5% dosen pengajar koperasi yang membaca jurnal koperasi dan sebanyak 17% yang membaca majalah koperasi. Sebanyak 90% pengajar koperasi setuju universitas tidak mampu mencetak alumni yang berfokus pada pengembangan koperasi,” tambahnya.

Lebih jauh kata Lukman, harus ada perubahan paradigma masyarakat dalam menilai potensi koperasi. Selain itu pengembangan koperasi juga harus diprioritaskan pada segmentasi masyarakat terdidik. Sementara pengembangan para wirausaha koperasi juga dinilainya berperan penting. Hal tersebut karena praktik koperasi tidak dilakukan secara individual melainkan secara bersama.

Dikatakan Lukman, menjadi wirausaha koperasi lebih mudah dilakukan daripada menjadi wirausaha individual. Wirausaha koperasi tidak membutuhkan hal-hal yang diperlukan oleh seorang wirausaha individual yakni lahan dan modal. "Ribuan petani mau bekerja di lahan mereka sendiri, modal sendiri, asal wirausaha koperasi itu bisa sediakan pasarnya," katanya terkait keunggulan menjadi wirausaha koperasi.

Kendati demikian, Lukman menilai konsep wirausaha koperasi masih belum tersosialisasi dengan baik. Padahal koperasi seharusnya menjadi wadah pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sehingga dapat lebih cepat berkembang. "Harus jadi wadah untuk berkembangnya UMKM, jangan jalurnya sendiri-sendiri," jelasnya

Yang jelas, kata Lukman, banyaknya usaha mikro merupakan tantangan tersendiri karena sektor usaha itu cenderung sulit berkembang. Berdasar data 2009 yang dimilikinya, Lukman menyebutkan, jumlah UMKM mencapai 52,76 juta. Dari jumlah tersebut, sebanyak 52,17 juta (99,88%) merupakan usaha mikro, 546 ribu kategori usaha kecil, dan 41 ribu merupakan usaha menengah. "Usaha mikro sulit berkembang, ibarat teri yang badannya tidak bisa tumbuh besar," katanya.

Lukman menambahkan usaha mikro harus dikembangkan melalui koperasi dengan pemberdayaan, efisiensi dan skala usaha bersama. **cahyo

BERITA TERKAIT

Kemenkop Terus Kembangkan Notaris Khusus Koperasi

Kemenkop Terus Kembangkan Notaris Khusus Koperasi NERACA Jakarta - Deputi Bidang Kelembagaan Meliadi Sembiring menegaskan bahwa pada 2018 ini pihaknya…

Koperasi 212 Tambah Gerai ke-68 di Depok

Koperasi 212 Tambah Gerai ke-68 di Depok NERACA Depok - Koperasi Syariah 212 Mart menambah gerainya yang ke-68 di Cimanggis,…

OJK Belum Terima Dokumen Rights Issue PADI

Gembar gembor PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) yang bakal mengakuisisi PT Bank Muamalat Indonesia Tbk lewat penerbitan saham…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Fokus Perbaiki Indikator yang Masih Jelek - Indeks Kemudahan Berusaha

      NERACA   Jakarta - Pemerintah terus bertekad untuk memperbaiki peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business/EoDB) Indonesia,…

Konsumen FMCG Mulai Perhatikan Media Digital

      NERACA   Jakarta – Perusahan riset Kantar Worldpanel menyatakan bahwa lanskap media di Indonesia telah mengalami perubahan.…

Tak Hanya Diusut, KPK Diminta Sita Aset - Kasus BLBI

    NERACA   Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk mengusut kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang…