BNI Securities Targetkan Transaksi Tumbuh 20% - Hadirkan E-Smart Syariah

NERACA

Jakarta – Besarnya populasi umat Islam di Indonesia menjadi peluang emas bagi PT BNI Securities untuk mendongkrak nilai transaksi di pasar modal sesuai syariah. Maka menjawab itu, semua BNI Securities meluncurkan eSmart Syariah sebuah layanan transaksi reguler maupun online berbasis syariah.

Direktur Utama BNI Securities Jimmy Nyo mengatakan, kehadiran produk syariah ini akan mampu mendongkrak pertumbuhan sebesar 20% dari sisi volume trading bisnis syariah, “Kita berharap bisnis syariah ini bisa menopang pelemahan bisnis yang terjadi di konvensional,"katanya di Jakarta,Selasa (17/7).

Menurutnya, potensi bisnis ini sangat besar di Indonesia, terutama di daerah-daerah tapal kuda seperti Aceh, Semarang, Jombang, Banjarmasin, dan Jakarta. "Di kantong-kantong muslim yang ada di sana memang meminta kita untuk membuat produk syariah," ungkapnya.

Karenanya, lanjutnya, BNIS berusaha memikirkan kenyamanan dan keyakinan para investor potensial ini untuk bertransaksi di pasar modal sesuai syariah. eSmart Syariah sendiri telah memperoleh sertifikat yang diterbitkan oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).

Sertifikasi ini membuat BNI Securities secara resmi telah diizinkan bertransaksi efek saham berbasis syariah, “Diversifikasi bisnis ke layanan berbasis syariah menjadi salah satu strategi perusahaan di tahun ini. Nasabah pun kini memiliki pilihan dalam bertransaksi efek,"ujarnya.

Jimmy menjelaskan, dengan sertifikasi tersebut kini BNIS merupakan perusahaan sekuritas BUMN pertama yang memiliki layanan transaksi efek saham sesuai ketentuan syariah. "Upaya sosialisasi kini terus dilakukan secara berkelanjutan, di antaranya melalui kunjungan ke cabang-cabang," papar Jimmy.

Untuk lebih mengoptimalkan layanan eSmart Syariah, pada kesempatan yang bersamaan sinergi Perusahaan dengan BNI Group pun dilakukan dalam bentuk penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Presiden Direktur BNI Securities Jimmy Nyo dan Direktur Bisnis BNI Syariah Imam Teguh Saptono.

Transaksi Turun

Selain itu, BNI Securities (BNIS) memprediksi akan terjadi penurunan target transaksi sebesar 30% di 2012."Target transaksi 2012 sepertinya akan turun sebesar 30% dari yang ditargetkan sebelumnya sebesar Rp250 miliar," kata Jimmy Nyo.

Per Semester I 2012 rata-rata transaksi perusahaan tercatat turun menjadi hanya Rp150 miliar dari periode yang sama 2011 sebesar Rp170 miliar. Penurunan transaksi, kata Jimmy Nyo disebabkan banyak fund manager yang menunda melakukan transaksi karena kondisi krisis global, terutama di Eropa.

Menurutnya, penurunan transaksi ini juga terjadi di bursa, di mana dari target sebesar Rp5,5 triliun di 2012 ini, saat ini baru tercapai Rp4 triliun. Karenanya, Jimmy berharap terjadi pertumbuhan bisnis di syariah, sehingga bisa menopang bisnis di konvensional, sehingga penurunannya tidak terlalu drastis. "Kita berharap bisnis syariah ini bisa menyumbang pertumbuhan sebesar 20% sepanjang sisa tahun ini," katanya. (bani)

BERITA TERKAIT

OJK Tegaskan Dukung Pasar Modal Syariah - Tepis Keraguan Pasar

NERACA Jakarta - Besarnya potensi pasar modal syariah di dalam negeri, namun belum digarap optimal menjadi perhatian besar Otoritas Jasa…

Jamkrida Terancam Kehilangan 50% Pendapatan - Jadi Bank Syariah

    NERACA   Mataram - Perseroan Terbatas Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Nusa Tenggara Barat terancam kehilangan 50 persen pendapatan…

Pemerintah Targetkan Koneksi Internet Cepat Sebelum 2024

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan bahwa seluruh Indonesia akan terjangkau dan terkoneksi dengan internet berkecepatan tinggi sebelum tahun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan INTP Capai 1,7 Juta Ton

NERACA Jakarta - Hingga Oktober 2017, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) mencatat volume penjualan sebesar 1,7 juta ton semen…

Masuk Morgan Stanley Capital - Saham BTN Diyakini Banyak Diburu Asing

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menilai masuknya saham perseroan ke dalam Morgan Stanley Capital International (MSCI)…

Belum Ada Kejelasan Pengendali META

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan terus melakukan suspensi atau penghentian perdagangan saham sementara PT Nusantara Infrastructure Tbk (META),…