Mentan: Kenaikan Tak Boleh Lebih Dari 15% - Harga Kebutuhan Pokok Melonjak

NERACA

Jakarta - Seperti biasanya, menjelang puasa dan lebaran, harga sejumlah kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Hal ini merupakan fenomena dan tren tahunan yang selalu terjadi. Menteri Pertanian Suswono menyebut hal tersebut biasa karena ada hukum pasar, di mana ada peningkatan permintaan. Tapi dia mengakui bahwa gejolak harga atau kenaikan harga sering dilakukan oleh para pedagang dan spekulan yang memanfaatkan tingginya permintaan.

Namun, ada batas kewajaran dalam kenaikan harga di pasaran menjelang puasa dan lebaran. Kenaikan harga itu tak boleh lebih dari 15%. "Sepanjang biasanya kita mengambil toleransi 15%, itu artinya masih wajar. Kalau sudah di atas itu memang ini kita harus cari faktornya apa," ujar Suswono di Jakarta, Selasa (17/7).

Dia menuturkan, sesungguhnya tidak ada masalah berarti terkait pasokan bahan pangan. Dia meminta masyarakat atau konsumen tidak panik menghadapi kondisi di pasar. Sebab, jika masyarakat panik dan khawatir terjadi kelangkaan bahan pangan, hal ini justru akan dimanfaatkan oleh spekulan untuk memainkan harga.

"Persoalannya tidak ada lembaga yang punya penugasan seperti Bulog untuk melakukan operasi pasar. Yang bisa kita lakukan mengimbau kepada pelaku usaha supaya jangan memberatkan kenaikan yang sudah menjadi-jadi yang justru pada akhirnya dia akan rugi karena kalau dia tidak lepas dan menumpuk stok maka harga akan jatuh juga," jelasnya.

Dia menyebutkan, pasokan atau ketersediaan daging sapi dan bahan kebutuhan lainnya, sejauh ini masih aman. Jika ditemukan adanya kelangkaan, hal itu semata-mata karena terhambat masalah distribusi saja.

"Yang menghambat itu pasti akan berpengaruh, ini yang kita harapkan distribusi logistik bisa mendapat dukungan terhadap produk-produk pertanian, kalau itu berjalan baik, sebetulnya itu tidak akan terjadi kelangkaan," paparnya.

Sementara pihak Kementerian Perhubungan sudah menjanjikan untuk tidak mengesampingkan distribusi bahan pangan ke daerah daerah. "Ini yang sedang diatur karena problem kita di transportasi antar pulau," tambahnya.

Stabilkan Harga

Menko Perekonomian Hatta Rajasa memastikan pemerintah akan menjaga distribusi barang dan jasa untuk mengantisipasi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa. "Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, Menteri Perhubungan dan menteri-menteri terkait harus menjaga betul agar tidak terjadi gangguan pada pasokan," ujar Hatta.

Hatta mengakui ada beberapa harga kebutuhan pokok seperti daging ayam dan telur yang mengalami kenaikan di beberapa daerah. Untuk itu, lanjut dia, berbagai upaya harus dilakukan pemerintah untuk mempertahankan kestabilan harga. "Memang saya prihatin terhadap kecenderungan peningkatan harga-harga, terutama daging ayam dan telur. Kalau beras relatif stabil," katanya.

Hatta menginginkan kebijakan untuk menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok tersebut, tidak menganggu para petani maupun para peternak dalam negeri yaitu dengan mengurangi ketergantungan kepada impor. "Saya ingin peternak-peternak sapi kita tidak terganggu dengan impor, karena kita bertekad untuk meningkatkan pengadaan atau tersedianya daging secara dalam negeri," ujarnya.

Selain itu, Hatta menegaskan pemerintah akan memperbaiki sistem distribusi barang sehingga para spekulan tidak lagi leluasa dalam mempermainkan harga dan merugikan para petani. "Tidak boleh terjadi spekulan-spekulan yang melakukan penimbunan dengan mengharapkan kenaikan harga dan mendapatkan keuntungan yang berlebihan," katanya.

Menurut dia, selalu terjadi kenaikan harga menjelang puasa yang disebabkan ulah spekulan dan situasi tersebut tidak menguntungkan petani serta konsumen secara keseluruhan. "Saya tidak ingin menuduh tapi selalu ada saja didalam kenaikan harga diatas normal, bukan petani yang paling banyak mendapatkan pendapatan tetapi diantara petani dan end user (konsumen)," kata Hatta.

Dia menjelaskan pemerintah juga mencari kemungkinan lain dari kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti biaya logisitik yang mahal, dan membuat antisipasi dari permasalahan tersebut. "Apa kenaikan diakibatkan logistik yang mahal dan berlebihan sehingga cost habis disitu, atau memang ada rent seeker yang mendapatkan keuntungan berlebihan, ini harus kita atasi," jelas Hatta.

BERITA TERKAIT

NU Care Selamatkan TKI Eti dari Hukuman Mati di Saudi

Jakarta, Melalui program NU Peduli TKI, NU Care-LAZISNU selama tujuh bulan menghimpun dana untuk membantu pembebasan Eti, seorang TKI di…

DPR Minta Tak Ada Lagi Calon Tunggal Pimpinan BI - JAGA INDEPENDENSI

NERACA Jakarta - Komisi XI DPR-RI akan mengirimkan surat kepada pimpinan DPR-RI untuk meminta pemerintah tidak lagi mengajukan calon tunggal…

Wakil Ketua MPR RI - Ideologi Pancasila Jaga Indonesia dari Perpecahan

Hidayat Nur Wahid Wakil Ketua MPR RI Ideologi Pancasila Jaga Indonesia dari Perpecahan  Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Hidayat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI-Turki Sepakat Selesaikan Perjanjian Komprehensif Tahun Ini

NERACA Jakarta – Indonesia dan Turki sepakat menyelesaikan perjanjian komprehensif ekonomi atau Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) tahun 2019…

Australia Diminta Buka Akses Pasar Hortikultura

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Australia guna membahas isu-isu peternakan, hortikultura,…

Pasar Industri Plastik dan Karet Masih Prospektif

NERACA Jakarta – Industri plastik dan karet merupakan sektor manufaktur yang dinilai masih memiliki peluang pasar cukup besar. Produk yang…