Pengembangan Energi Terbarukan Dipercepat

Rabu, 18/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah menyatakan keseriusannya mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai sumber pasokan listrik baru nasional. Alsanya, ada tiga perintah Presiden SBY yang harus diperhatikan, salah satunya memajukan energi baru dan terbarukan di Indonesia. "Untuk kepentingan itu, saya sudah memerintahkan dirjen saya untuk mempercepat pelaksanaannya," Menteri ESDM, Jero Wacik, saat membuka acara Renewable Energy and Energy Conservation Conference & Exhibition (EBTKE) 2012, di Jakarta Convention Center, Jakarta Selatan, Selasa (17/7).

Lebih jauh kata Jero, Pemerintah siap mengakselerasi proses itu dengan mengeluarkan kebijakan dan mengawasi pelaksanaannya. "Saya akan memonitornya har-perhari," tandasnya sambil menyaksikan penandatanganan 21 buah dokumen memorandum of understanding (MoU) diantara berbagai pihak terkait pengembangan energi terbarukan. Salah satunya adalah MoU antara Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarujan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM dengan PT.Basel Investindo serta Shanghai Aerospace Automobile Electromechanical Co.,Ltd, tentang pembangunan solar power plant berkapasitas 200 MW di Indonesia.

Menurut Direktur Utama PT.Basel Investindo, Edwin Henawan Soekowati, Indonesia adalah negeri paling berpotensial untuk memanfaatkan teknologi solar panel (tenaga surya) untuk memenuhi kebutuhan energi, khususnya listrik. Sebab Indonesia dianugerahi sinar surya 24 jam sehari.

Pengembangan itu sangat penting karena Indonesia sangat tergantung pada energi fosil, yakni 95%, sementara suplai energi terbarukan hanyalah 5%. Apabila berniat serius, kata Edwin, pemerintah tentunya akan bisa mengurangi secara drastis subsidi listrik yang tahun ini saja mencapai Rp 231 triliun. "Ini bisa menjadi semakin mengerikan karena kita sudah jadi net importir BBM. Ke depan, harga energi fosil ini akan makin mahal. Sekarang Pemerintah mengejar batubara, tapi itu ada batasnya juga karena tak terbarukan. Makanya kita harus manfaatkan potensi energi surya," kata Edwin.

Lewat MoU itu, ujar Edwin lagi, pemerintah dan Basel akan menggandeng Shanghai Aerospace, sebuah BUMN asal Cina yang mempunyai kekhususan dalam panel surya untuk mensuplai energi dibutuhkan satelit. Sisanya lalu dikembangkan Shanghai untuk mensuplai energi listrik ke masyarakat umum. "Ini pola yang cocok dipakai di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang belum tersentuh listrik," tuturnya.

MoU itu akan menjadi awal pembangunan solr power plant di Indonesia, yang akan menghabiskan investasi sekitar USD 3 juta per 1 MW daya yang dihasilkan. Angka itu memang lebih mahal dibanding powerplant batubara yang hanya menghabiskan biaya sekitar USD 1,5 juta.

Namun, kata Edwin, solar power plant hemat di biaya maintenance serta tak perlu membeli batubara secara berkala. "Problem kita adalah pemerintah lambat. Dari sisi pendanaan dan APBN kurang diperhatikan,” paparnya

Selain itu, kata Edwin, hambatan lainnya adalah menanti komitmen Pemerintah untuk menentukan dimana lokasi pembangunan power plant, serta komitmen kebijakan harga listrik dari energi terbarukan. "Pak Menteri ESDM sudah janji akan menaikkan tarif listrik khusus untuk energi terbarukan. Janji itu haruslah dipenuhi presiden sehingga akan ada impact luar biasa pengembangan wilayah ekonomi baru Indonesia," tandasnya.

Dia menegaskan diperlukan juga komitmen Pemerintah Daerah dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) agar program kedaulatan energi yang dicanangkan Pemerintah tak sekedar wacana. Saat ini, di Indonesia, ada beberapa perusahaan bidang energi solar panel seperti Sharp, Samsung, Basel Investindo dan Shanghai Aeronautics, dan Infinity. **cahyo