Industri Bahan Tambahan Pangan Jarang Dilirik Pengusaha

Rabu, 18/07/2012

NERACA

Jakarta - Tanpa disadari bahan tambahan pangan (BTP) yang digunakan industri makanan dan minuman di Indonesia ternyata sebesar 80% masih diimpor, negara terbanyak yang memasok BTP tersebut adalah Eropa, Amerika Serikat dan China. Sangat disayangkan, Negeri ini memiliki raw material yang sangat banyak. Tetapi karena tidak adanya jiwa industriawan, maka untuk membuat pabrik BTP senilai Rp40-50 miliar untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman jarang sekali yang mau mengembangkannya.

Padahal potensi pasar BTP masih sangat besar, pendapatan industri makanan dan minuman tahun 2011 saja telah mencapai Rp650 triliun, sedangkan pertumbuhannya mencapai 11%-12% setiap tahunnya. Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor Purwiyatno Hariyadi menekankan bahwa Indonesia kaya akan bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong.

Akan tetapi, pemanfaatan dan pengembangan bahan-bahan tersebut masih kurang. "Banyak sekali kita kaya, apalagi rempah-rempah," ujarnya, dalam acara media briefing Food Ingredients Asia 2012 di Jakarta, Selasa (17/7).

Dia menjelaskan, BTP atau sering juga dikenal ingredients adalah bahan-bahan yang digunakan untuk memproduksi pangan. Bahan-bahan itu bisa berupa bahan baku, bahan tambahan, dan bahan penolong. Salah satu contoh kekayaan alam yang mengandung tokotrienol adalah minyak sawit. "Dari kelapa sawit kandungan tokotrienol sangat tinggi dibandingkan sumber yang lain tapi itu kita belum kembangkan,” jelas Purwiyanto.

Perlu Dukungan

Belum lagi, minyak sawit dan minyak buah merah yang ternyata bisa dikembangkan menjadi sumber karoten. Banyak negara sudah mengembangkannya, tetapi di Indonesia belum ada yang mau mengembangkannya. Sebagai solusi, dia pun menyarankan agar para pelaku usaha ataupun masyarakat Indonesia mengenal dan mengembangkan kekayaan alam di Indonesia sebagai ingredients. Perlu juga dukungan penelitian untuk mengembangkan sejumlah potensi tersebut.

Tapi sejauh ini, menurut Purwiyanto, investor masih banyak yang tidak tertarik untuk mengembangkannya, kemungkinan karena pengetahuan atau potensi pemasaran yang mungkin dianggapnya kecil. “Atau memang masih banyak yang berpikiran sebagai pedagang, tidak mau menciptakan industri, padahal lihat saja kita masih impor hingga 80%, pertumbuhannya 11%-12%. Artinya, pasarnya ada dan bahan bakunya bisa didapatkan dari negeri kita sendiri,” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum Bidang Program dan Kerjasama Komite Program Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAPMMI) Lena Prawira mengakui, sebagian besar BTP masih diimpor. Masih banyaknya bahan tambahan pangan yang diimpor karena ada sejumlah produk yang tidak dibuat di Indonesia. Misalnya saja, pemanis aspartam yang berbahan dasar jagung. "Bahan utama jagung, tapi Indonesia kan bukan penghasil jagung dalam jumlah besar," ujarnya.

Faktor Ekonomis

Kendala lainnya yang membuat pengusaha makanan dan minuman mengimpor BTP adalah teknologi. Faktor ekonomis juga bisa alasan lainnya. "Ada beberapa pelaku usaha makanan dan minuman lebih memilih beli, ketimbang membuat pabrik BTP karena pertimbangan lebih ekonomis," terang Lena.

Dia mengungkapkan, Eropa merupakan pengimpor terbesar untuk BTP kategori flavour, sementara untuk yang lainnya Amerika Serikat dan China. "Tapi, China lebih rumit di masalah importasi, karena kendala masalah halal," tuturnya.

Lena juga mengakui, masih minimnya keinginan investor untuk mendirikan pabrik BTP agar industri makanan dan minuman tidak bergantung dengan impor, karena dengan adanya BTP dari lokal maka dapat menurunkan ongkos produksi hingga 5%. “Mungkin karena kurangnya dukungan Pemerintah, insentif yang kurang, terlalu banyak aturan untuk membuat pabrik. Sehingga membuat investor juga menimbang resiko-resikonya, ditambah jiwa pengusaha kita masih tipe pedagang,” pungkasnya.