Pinjaman ke IMF Bisa Untungkan Indonesia

Selasa, 17/07/2012

NERACA

Jakarta--- Rencana pemerintah Indonesia membeli surat berharga International Monetary Fund (IMF) dengan nilai US$1 miliar dinilai sebagai bentuk saling membantu. Bahkan suatu saat juga akan menguntungkan Indonesia. “Sama saja seperti gotong royong. Untungnya pada saat membutuhkan dibantu dan pada saat kita diminta membantu ya membantu dong," kata Mantan Wapres Jusuf Kalla di Jakarta,16/7

Menurut JK panggilan akrabnya, peminjaman ke IMF lebih baik daripada pemerintah mengendapkan dana itu di Bank Indonesia. "Karena tidak jauh bedanya," tegasnya

Lebih jauh Kalla menambahkan pembelian surat utang IMF ini merupakan bentuk solidaritas antara Indonesia dengan IMF. Sebab, IMF telah menolong Indonesia dengan memberikan pinjaman saat terjadi krisis ekonomi pada 1998.

Selain itu, lanjut Kalla, pembelian surat berharga IMF ini akan menguntungkan Indonesia. Sebab, jika suatu saat Indonesia kembali menghadapi krisis, maka IMF akan mudah meminjamkan dananya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menilai posisi Indonesia sebagai salah satu negara anggota G20 terpanggil turut andil membenahi perekonomian dunia. Terlebih lagi, negara lain juga ikut tergabung dalam aksi global tersebut.

Pemerintah menjamin, dana pembelian surat berharga IMF tersebut takkan diambil dari APBN. Sumber dana akan diupayakan dari semacam devisa yang dikelola BI.

Beberapa waktu lalu, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution memastikan bantuan kepada Internasional Monetery Fund (IMF) sebesar U$S1 miliar, tidak akan mengurangi porsi cadangan devisa Indonesia yang saat ini sebesar US$106,5 miliar. "Kita membantu dengan meminjamkan cadangan devisa, tapi tak mengurangi cadangan devisa kita," paparnya

Dikatakan Darmin, komposisi cadangan devisa Indonesia tak hanya disimpan dalam bentuk dolar, tapi sebagian dalam bentuk surat berharga negara tetangga seperti Australia, Kanada, Inggris dan Jerman. Jika dilihat komposisi cadangan devisa dari berbagai bentuk mata uang. "Dan itu semua tetap cadangan devisa," ujarnya.

Dengan alasan itu, lanjut Darmin, BI memutuskan membantu IMF. Sebab jika mengandalkan pemerintah, maka harus menggunakan dana dari APBN. "Kalau APBN uang pergi tidak ada lagi di APBN. Tapi kalau cadangan devisa bisa dipakai sebagai cadangan lagi," jelasnya

Sementara terkait nilai sebesar US$1 miliar, Darmin mengatakan angka itu merupakan kesepakatan voting para pemimpin dunia. Beberapa negara seperti Malaysia dan Singapura juga memberikan bantuan dalam jumlah yang sama. Hal ini juga merupakan kesepakatan BI dan pemerintah yang akan membantu IMF.

Sementara Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono menambahkan keputusan pembelian surat utang IMF merupakan keputusan pemimpin bangsa, yaitu Presiden. BI yang melakukan transaksi karena wakil negara Indonesia di IMF adalah BI. "BI membeli surat berharga, transaksi surat utang, itu lazim dilakukan bank sentral. Tak ada spekulasi," ujarnya. **cahyo