BEI Ajukan Perizinan Penyelenggaran Derivatif Akhir Agustus

NERACA

Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengajukan perizinan penyelenggaraan perdagangan derivatif kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) akhir Agustus 2012.

Saat ini otoritas penyelenggara pasar modal tersebut tengah mempersiapkan sistem perdagangan produk derivatif yang disatukan dengan sistem perdagangan saham dan obligasi.“Saat ini kami tengah dalam persiapan pembuatan regulasi (rule making rule) dengan anggota bursa. Jika tidak ada kendala maka setelah lebaran kami ajukan izinnya ke Bapepam-LK untuk difinalisasi,” kata Direktur Perdagangan dan Keanggotaan BEI Samsul Hidayat, di Jakarta, Senin, (16/7).

Menurut Samsul, saat ini pihaknya terus mempersiapkan penyatuan sistem perdagangan produk derivatif ke dalam sistem perdagangan yang dimilikinya, yakni Jakarta Automatic Trading System Next Generation (JATS Next G). Sehingga nantinya sistem perdagangan derivatif ini dapat dilihat dalam satu platform.

Samsul menambahkan, pada dasarnya sistem JATS Next G saat ini sudah dapat mengimplikasikan perdagangan produk derivatif, namun yang tengah dipersiapkan pihaknya adalah proses integrasi sistem dengan back office anggota bursa untuk dapat bertransaksi derivatif tersebut.

Produk derivatif sendiri sebenarnya bukanlah hal yang baru di BEI karena produk seperti Kontrak Opsi Saham atau Indeks Future sudah pernah ditransaksikan sebelumnya. Ada tiga produk derivatif yang akan diluncurkan ulang BEI dalam waktu dekat seperti structured warrants, kontrak opsi saham (new option) dan Indeks Futures LQ-45.“Akan tetapi perdagangannya relatif sepi peminat. Oleh karena itu, kami melakukan revitalisasi dengan aset dasarnya adalah saham dan indeks LQ-45. Jika produk derivatif ini sudah aktif ditransaksikan investor maka dapat dimanfaatkan anggota bursa untuk lindung nilai (hedging) atas portofolio investasinya,” jelas Samsul.

Sementara itu, pelaku pasar modal menyambut antusias rencana BEI untuk melakukan revitalisasi sistem perdagangan produk derivatif. Menurut Direktur Eksekutif PT Trimegah Securities Karman Pamurahardjo, produk derivatif memang perlu dikembangkan karena produk derivatif bisa untuk lindung nilai (hedging), tingkat pinjaman broker kepada nasabah (leverage) atau bisa juga sebagai pemasukan (income). “Jadi, kalau menurut saya memang harus dikembangkan,” katanya

Sementara itu, Managing Director PT Valbury Asia Securities, Johanes Soetikno ditempat terpisah mengatakan, minat investor Indonesia terhadap produk derivatif sebenarnya sangat tinggi. Namun, tidak likuidnya perdagangan beberapa produk derivatif seperti kontrak opsi saham (KOS) karena adanya beberapa pembatasan yang tidak perlu dilakukan oleh otoritas bursa pada saat itu. “Pembatasan margin awal 10% dari nilai kontrak membuat KOS saat itu menjadi tidak menarik minat investor,” ujarnya.

Seperti diketahui, usaha BEI dalam melakukan revitalisasi produk derivatif ini sendiri untuk menggiatkan produk derivatif lebih baik lagi. Hal ini melihat produk derivatif yang ditransaksikan di bursa negara lain ternyata cukup aktif ditransaksikan khususnya ketika pasar sedang bergerak fluktuatif. (didi)

BERITA TERKAIT

BEI Jajaki Kerjasama Dengan Go-Jek - Pacu Pertumbuhan Investor

NERACA Jakarta – Dalam rangka perluas penetrasi pasar modal dan menggenjot pertumbuhan investor, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menjajaki…

BEI Bakal Cabut Suspensi Saham BLTA

Cukup lama disuspensi atau dihentikan sementara perdagangan saham PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA), PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali…

BEI Resmi Operasikan Sistem JATS Next-G

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan transaksi di pasar modal, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berbenah diri dengan mengembangkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harum Energy Bagikan Dividen US$ 45 juta

Sukses membukukan kinerja positif dengan perolehan laba bersih melesat tajam, PT Harum Energy Tbk (HRUM) akhirnya memutuskan untuk membagikan dividen…

PTPN X Terbitkan MTN Rp 500 Miliar

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menerbitkan "Medium Term Notes" (MTN) atau surat utang jangka menengah tahun 2018 senilai Rp500 miliar,…

Mitra Investindo Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, perdagangan saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) masuk dalam pengawasan PT Bursa…