Pemerintah Masih Yakin Pertumbuhan Lebihi 6,8%

Selasa, 17/07/2012

NERACA

Jakarta---Pemerintah masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2013 mendatang bisa mencapai antara 6,8% hingga 7,2%. Alasanya, proyeksi pertumbuhan tahun depan itu dapat dicapai, dengan melihat komposisi konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor.

“Kami masih berkeyakinan pertumbuhan ekonomi pada range 6,8%-7,2 % pada 2013 itu masih bisa kita capai, hanya tinggal angkanya nanti apakah mendekati 6,8% atau mendekati 7,2 %," kata Wakil Menteri Keuanga, Anny Ratnawati dalam Diskusi terkait asumsi pertumbuhan ekonomi, di Menara Kadin, Jakarta, Senin (16/7).

Diakui Anny, angka ekspor melandai karena penurunan permintaan dunia, namun hal itu bisa ditutupi oleh peningkatan investasi. "Konsumsi saya lihat trend-nya naik, kontribusi GDP itu terbesar dari konsumsi. Jadi konsumsi publik ini tidak boleh terganggu. Kemudian government expenditure (pengeluaran pemerintah),” tambahnya

Ditempat yang sama,Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Natsir Mansyur, memiliki pandangan bahwa BI Rate yang dipatok sebesar 5,75 % akan mengalami kenaikan. "Saya pikir kurang akurat melihat indikator suku bunga acuan yang ditetapkan sebesar 5,75 % Soalnya, inflasi ke depan akan naik. Kan sebentar lagi mau bulan Suci Ramadhan, maka otomatis harga-harga akan naik,” kata Natsir

Natsir mengatakan, inflasi ke depan pasti akan naik mengingat masyarakat Indonesia akan meningkatkan daya belinya di bulan Ramadhan. Artinya, inflasi akan naik dengan hal itu. "Menurut saya naik. Sekitar 1 % naiknya. Nah, BI Rate harusnya naik juga bila melihat indikatornya inflasi. Pasti naiklah,” terangnya.

Kenaikan ini menurutnya karena kenaikan bahan baku pangan yang beredar di masyrakat. Dengan masih tergantungnya bahan pangan dari import, maka harga-harga akan naik."60 % pangan masih import jadi kemungkinan bakal naik," jelasnya.

Dikatakan Natsir, Bank Indonesia (BI) juga perlu berpihak kepada sektor riil. Soalnya, BI dinilai belum berpihak kepada sektor riil. Hal ini terlihat dari SBDK yang masih double digit. "Bisa saja upaya keberpihakan BI dengan penurunan SBDK. Kan selama ini double digit. Nah, kita maunya agar suku bunga perbankan bisa single digit," katanya.

Pada kesempatan yang sama,Natsir juga mengungkapkan hingga sekarang pemerintah dan DPR belum bersinergi dalam upaya peningkatan pertumbuhan sektor riil. Padahal, sinergi bisa mendukung pertumbuhan ekonomi. “Harusnya pemerintah, DPR, dan swasta bersinergi dan saling mendukung untuk pertumbuhan sektor riil pada waktu mendatang,” ujarnya

Menurut Natsir, lembaga-lembaga yang ada masih berada pada posisi ego sektoral masing-masing. “Mereka masih ego sektoral masing-masing. Padahal harusnya saling bersinergi. Kalau perlu beri punsihment bagi Kementerian yang belum berpihak kepada pertumbuhan sektor riil. Misalnya, potong anggaran bagi Kementerian yang tidak berpihak,” pungkasnya. **iwan