FLPP Macet, Pengembang Yakin Sanggup Jual 234 Ribu Rumah Murah

NERACA

Serpong – Macetnya pengucuran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan akibat salah kaprah kebijakan Menteri Perumahan, tak menyurutkan target kalangan pengembang untuk menjual 234 ribu unit Rumah Sejahtera Tapak (RST) dalam tahun ini.

“Target penjualan rumah murah itu akan tercapai dengan bantuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bertenor (jangka waktu cicilan) 20 sampai 25 tahun dari perbankan,” jelas Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Setyo Maharso dalam workshop properti di BSD City Marketing Office, Tangerang, Senin (16/7).

Menurut Setyo Maharso, konsumen tidak terlalu peduli dengan soal besaran suku bunga. Tetapi konsumen sangat menghitung soal besaran cicilan KPR yang harus dibayar tiap bulannya.

Setyo Maharso mengutarakan, sebenarnya target penjualan rumah untuk kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dalam tahun ini sekitar 300 ribu unit. Namun pengembang yakin bisa mendeliver rumah ke konsumen MBR tak kurang dari 234 ribu unit. Tahun lalu, REI berhasil memasarkan rumah sederhana untuk kalangan MBR sebanyak 124 ribu unit.

Dia menegaskan, meskipun regulasi pemerintah soal perumahan masih compang-camping, namun pengembang tak akan surut langkahnya dalam menyediakan hunian murah bagi masyarakat.

Setyo Maharso menyebut, REI mengusulkan agar tenor atau kredit pemilikan rumah (KPR) diperpanjang hingga 30 tahun. Saat ini perbankan hanya memberikan tenor KPR hanya mencapai 20-25 tahun.

Batasan maksimal 30 tahun bertujuan agar cicilan bulanan KPR makin ringan hingga semakin banyak masyarakat memiliki rumah. Dengan memperpanjang tenor KPR, imbuhnya, cicilan akan semakin murah. Sehingga masyarakat sebelumnya yang tidak memiliki kemampuan mencicil masuk kategori bankable.

REI akan menggodok kerjasama strategis dengan salah satu bank. Namun Setyo masih enggan menyebut nama bank tersebut.

Sebelumnya REI telah menjalin kerjasama dengan Bank Negara Indonesia (BNI) dalam KPR Griya Idaman. BNI menjanjikan tenor KPR hingga 20 tahun, dengan cicilan termurah mulai dari Rp 600 ribu per bulan. BTN juga sudah menyeluarkan produk KPR dengan tenor 20 tahun.

Properti Asing

Dalam kesempatan itu, Setyo Maharso juga mengungkap, Indonesia adalah satu-satunya negara yang tergabung dalam International Real Estate Federation (FIABCI) yang belum mengizinkan warga negara asing (WNA) untuk memiliki properti.

Dia menyebut, kalangan pengembang di luar negeri menilai Indonesia masih diskriminatif dalam bisnis properti. “Mereka bilang orang Indonesia boleh beli properti di negara mana saja, tapi mereka tak bisa membeli properti di Indonesia,” terangnya.

Menurut Setyo Maharso, ada kesalahan persepsi soal hak kepemilikan untuk orang asing. “Ada kekhawatiran yang salah kaprah, seolah-olah properti untuk konsumen asing adalah menjual tanah dan air,” tandasnya.

Kalau konsumen asing membeli properti, sambungnya, barangnya tetap di situ-situ saja. “Lagipula akan ada pembatasan harga minimal Rp2 miliar, juga kuotanya akan dibatasi untuk asing," tambahnya.

BERITA TERKAIT

Trans Tangerang Bantu Kurangi Macet Kota Tangerang

Trans Tangerang Bantu Kurangi Macet Kota Tangerang NERACA Tangerang - Angkutan Trans Tangerang sebagai transportasi publik di dalam kota telah…

Kementerian PUPR Segera Teken MoU dengan BTN terkait KPR FLPP

  NERACA Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Pembiayaan Perumahan memastikan bahwa PT Bank…

Borneo Sarana Bidik Pendapatan US$ 60 Juta - Genjot Produksi 800 Ribu Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan saham perdananya di pasar modal, PT Borneo Olah Sarana Sukses Tbk (BOSS) langsung menggenjot produksi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

KKP Bikin Percontohan Teknologi RAS Pada Unit Pembenihan Rakyat

NERACA Yogyakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti melakukan tinjauan langsung ke Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di desa wisata…

Dunia Usaha - Penerapan Industry 4.0 Buka Peluang Kerja Baru Lebih Spesifik

NERACA Jakarta – Penerapan sistem Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi…

Impor Ponsel Turun Drastis - Produksi Nasional Disebut Tembus 60 Juta Unit

NERACA Jakarta – Industri telepon seluler (ponsel) di dalam negeri mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang cukup pesat selama lima tahun…