Mungkinkah Membendung Impor?

Fauzi Aziz, Pemerhati Kebijakan Industri dan Perdagangan

Selasa, 17/07/2012

Ini sebuah pertanyaan yang berat untuk dijawab. Tergantung dari perspektif dan kerangka pikir yang akan kita gunakan untuk dapat menjawab atas pertanyaan yang sangat mengelitik pikiran kita. Abaikan dulu faktor persoalan nasionalisme dan persoalan patriotisme agar kita dapat jernih melihat persoalan yang akhir-akhir ini banyak mengundang kerisauan kita bersama akibat makin banyaknya barang impor yang membanjiri pasar dalam negeri.

Impor Indonesia tahun 2011 yang lalu tatkala ekonomi tumbuh 6,5%, nilainya mencapai 24,9% dari total PDB Rp 7.427,1 triliun. Artinya nilai impor menjadi senilai Rp 1.484,8 triliun, dengan pertumbuhan 13,3%. Tahun 2013, pemerintah bersama DPR telah menyepakati bahwa pertumbuhan ekonomi akan berada pada kisaran 6,8-7,2%, dan impor diperkirakan akan berkontribusi sekitar 27,9%.

Dengan melihat kenyataan seperti itu, maka impor hampir pasti sulit untuk ditekan karena kegiatan investasi pasti akan memerlukan barang modal asal impor karena industri barang modal di dalam negeri tidak berkembang dengan baik.

Tahun 2013 investasi diperkirakan menyumbang terhadap PDB sekitar 34,9% dan ekspor akan menyumbang sekitar 29,3% yang pasti akan memerlukan bahan baku/bahan penolong untuk memproduksi barang ekspor karena industri masih sangat bergantung kepada bahan baku/penolong asal impor sekitar 70%.

Belum pengeluaran belanja konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah sebagian kebutuhannya juga masih dipenuhi dari barang impor. Yang terakir ini konsumsi domestik tersebut pada tahun 2011 yang lalu menyumbang PDB sebesar 63,6% (berasal dari konsumsi rumah tangga sebesar 54,6%) dan belanja pemerintah sebesar 9%.

Kedua unsur belanja konsumsi domestik tersebut masing-masing akan menjadi sebesar Rp 3.713,5 triliun, dan Rp 668,8 triliun dari total nilai PDB tahun 2011. Kalau progam P3DN diharapkan dapat mengurangi impor dalam nilai yang signifikan, maka yang paling strategis adalah dengan membangun industri hulu, antara dan hilir yang menghasilkan bahan baku, bahan penolong part dan komponen dan barang-barang jadi melalui kegiatan investasi.

Selama progam ini tidak berjalan, maka ketergantungan industri terhadap barang dan bahan asal impor akan terus berlangsung meskipun kalau tingkat keberhasilannya tinggi tidak berarti impor akan menjadi tidak diperlukan sama sekali. Jadi daya ungkitnya yang bersifat strategis agar P3DN dapat berhasil adalah melalui kegiatan investasi di sektor industrinya sendir atau di sektor-sektor lainnya.

Masalah pokoknya yang membuat impor Indonesia masih sangat besar karena sektor industri masih bergantung pada bahan baku/penolong sekitar 70% dan barang modal sekitar 20%. Sementara porsi impor barang konsumsi hanya sekitar 7-10% saja dari total impor, dan kalau kita pakai angka PDB 2011, maka jumlahnya hanya sekitar Rp 742,7 triliun, dan jika angka 10% tadi kita perhitungkan dengan total nilai impornya sebesar Rp1.484,8 triliun, maka impor barang konsumsi hanya sekitar Rp 148,4 triliun dan sisanya adalah Rp 1.336,4 triliun adalah berasal dari impor bahan baku/penolong, part dan komponen, barang modal dan barang-barang yang lain termasuk impor jasa-jasa.