Minat Pakai Kartu Kredit Terus Meningkat

Menjelang Lebaran, Natal dan Tahun Baru

Sabtu, 21/07/2012

Nilai transaksi kartu kredit akan terus meningkat seiring dengan tiga musim yang secara historis memiliki nilai transaksi tinggi. Antara lain liburan sekolah, puasa berikut Lebaran dan Natal serta Tahun Baru.

NERACA

Gaya hidup konsumtif di Indonesa semakin terlihat dengan maraknya kebutuhan masyarakat yang meningkat. Gaya hidup konsumtif yang meningkat bisa dilihat dari menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan dan masyarakat juga sangat antuasias untuk menyambutnya.

Padahal menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan ini semakin mendorong masyarakat untuk berlaku lebih konsumtif dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana layaknya kota metropolis pembangunan fisik selalu diutamakan. Sifat konsumtif menimbulkan kesadaran seseorang untuk bisa memiliki alat bantu yang bisa mempermudah proses transaksi, tanpa harus membawa uang tunai dalam jumlah besar.

Keadaan ini dimanfaatkan para pengusaha untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan menawarkan produk-produk dengan makin gencar, salah satunya adalah pengusaha kartu kredit atau bank.

Jakarta misalnya, salah satu kota yang bisa masuk kategori sangat makmur. Mulai mall yang sekadar untuk tempat nongkrong hingga mall papan atas yang khusus menjual barang barang bermerek mahal semuanya tersedia.

Gaya hidup konsumtif dengan dukungan serbuan mall ini dapat dipandang sebagai show of force (unjuk gigi) kepada publik bahwa kota tertentu di Indonesia memang kota metropolis dan seolah ingin berlomba untuk menjadi lebih baik.

Sedangkan dilihat dari transaksi kartu kredit sejak awal 2012 terus menunjukkan peningkatannya. Hingga akhir Mei 2012 transaksi kartu kredit telah mencapai Rp 17,5 triliun. Angka tersebut merupakan angka tertinggi dalam 5 bulan terakhir pada 2012 ini.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), transaksi kartu kredit pada awal 2012 mencapai Rp 15,8 triliun kemudian sempat turun pada akhir Februari 2012 menjadi Rp 15,1 triliun. Namun transaksi kartu kredit kembali melonjak hingga Rp 16,4 triliun pada Maret 2012 dan Rp 17,5 triliun pada Mei 2012.

Adapun total volume transaksinya hingga akhir Mei 2012 mencapai 19,09 juta. Jumlah pemegang kartu kredit pada periode tersebut tercatat sebanyak 15,06 juta nasabah. Sementara itu penerbit kartu kredit pada 2012 mencapai 20 penerbit.

General Manager Kartu Kredit PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Dodit Wiweko Probojakti mengungkapkan, nilai transaksi kartu kredit akan terus meningkat seiring dengan tiga musim yang secara historis memiliki nilai transaksi tinggi.

"Antara lain liburan sekolah, puasa berikut Lebaran dan Natal serta Tahun Baru," katanya.

Dodit mengatakan nilai transaksi kartu kredti BNI sendiri hingga Juni 2012 mencapai Rp 8,5 triliun atau tumbuh 38%. BNI sendiri menurut Dodit yakin target akhir tahun bisa terlewati.

"BNI yakin, target nilai transaksi pada 2012 sebesar Rp 18 triliun akan terlampaui," tegasnya.

Kepemilikan kartu debit memang lebih banyak dibandingkan dengan kartu kredit karena sikap orang Indonesia yang tidak mau pusing memikirkan utang sehingga lebih memilih kartu debit. Kartu kredit menawarkan banyak kemudahan-kemudahan. Kemudahan dan manfaat yang menjanjikan tersebut menarik banyak nasabah untuk memiliki kartu kredit.

Gaya hidup konsumtif yang ditunjang dengan mudahnya mendapatkan persetujuan kartu kredit menunjukkan bahwa kartu kredit telah menjadi suatu kebutuhan yang dianggap cukup penting bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Kebiasaan bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit dan bukan dengan uang tunai menjadi sangat diminati khususnya oleh masyarakat kota karena bisa menghemat waktu dan memberikan banyak keuntungan bila digunakan, misalnya mendapat bonus poin atau potongan harga.

Belanja tentunya tidak jauh dari sebuah minat atau dorongan yang muncul dari dalam diri. Secara teoritis, minat dirumuskan sebagai kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.

Dalam konteks ini, minat berbelanja dengan menggunakan kartu kredit dapat diartikan sebagai kecenderungan atau keinginan seseorang untuk melakukan transaksi dengan menggunakan kartu kredit.

Kartu kredit adalah sebuah alat pembayaran yang berupa sebuah kartu yang tertera nama dan tanda tangan pemilik dan dapat digunakan untuk membayar barang yang dibeli dengan dana yang dipinjamkan oleh suatu instansi di tempat-tempat yang bersedia menerima pembayaran tanpa harus mengeluarkan uang tunai.

Berpangkal dari konsep minat dan kartu kredit seperti yang diuraikan di atas, dapat disimpulkan bahwa minat menggunakan kartu kredit adalah perasaan tertarik yang disertai dengan perasaan senang untuk menggunakan alat pembayaran berupa kartu yang dananya dipinjamkan oleh suatu instansi di tempat-tempat yang bersedia menerima pembayaran tanpa harus mengeluarkan uang tunai.

Pembatasan Kartu Kredit

Selain menertibkan suku bunga kartu kredit, Bank Indonesia juga akan membatasi kepemilikan kartu kredit berdasarkan kemampuan keuangan pemiliknya, sehingga mengurangi risiko gagal bayar bagi para pemiliknya.

"Kami juga membuat aturan tidak semua orang boleh punya kartu kredit sebanyak-banyaknya. Kita akan atur itu, nanti ada di aturan pelaksanaan, maksimum dua kartu kredit dari dua provider saja, jangan banyak-banyak," kata kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta.

Selain itu, BI juga akan mengatur pengenaan bunga berbunga dari tagihan kartu kredit yang selama ini berlaku. "Jangan semua bunga berbunga, sekali saja bunganya, meterai kok bunga berbunga, itukan tidak betul," katanya.

BI juga akan mengatur beberapa hal agar nasabah kartu kredit mengetahui jumlah tagihannya dengan pemberitahuan reguler ke nasabah, sehingga bisa mengikuti jumlah yang harus dibayar.

Darmin menambahkan, pihaknya meyakini kebijakan ini tidak akan menekan industri kartu kredit karena dengan aturan ini perkembangan kartu kredit menjadi lebih aman.

"Kita tidak ingin perkembangan kartu kredit meledak tapi aturan mainnya terlalu longgar. Harus ada aturan main yang cukup jelas. Kita pilih perkembangan pertumbuhan yang masuk akal tetapi lebih safe (aman, red) daripada perkembangan yang berlebihan tapi safety kurang," katanya.