Pemahaman Imunisasi untuk Kesehatan

Sabtu, 21/07/2012

NERACA

Pemikiran yang keliru tentang imunisasi melalui berbagai saluran media massa beberapa tahun terakhir ini dipandang dapat mengganggu kemajuan program imunisasi di Indonesia. Perlu dilakukan penjelasan terhadap pemikiran yang keliru tersebut agar kejadian dan kematian penyakit infeksi berat dapat dicegah dan ditekan melalui imunisasi.

Berdasarkan data terakhir WHO sampai saat ini, angka kematian balita akibat penyakit infeksi yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi masih tinggi, terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa per tahun, misalnya batuk rejan 294.000 (20%), tetanus 198.000 (14%), campak 540.000 (38%). Di Indonesia sendiri, UNICEF mencatat sekitar 30.000-40.000 anak setiap tahun menderita serangan campak.”

Ketua PP-IDAI Dr. Badrul Hegar mengatakan, imunisasi merupakan kewajiban kita dalam mensejahterakan anak Indonesia sesuai dengan hak anak yang tercantum dalam Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia tahun 1990, yaitu hak untuk dilindungi.

"Kita masih melihat cukup banyak anak Indonesia meninggal dunia karena suatu penyakit, padahal seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Sebagai warga negara Indonesia, kita harus berperan untuk mengatasinya."

Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K), pada kesempatan yang sama mengemukakan, pencegahan penyakit melalui imunisasi merupakan cara perlindungan terhadap infeksi yang paling efektif dan jauh lebih murah dibanding mengobati seseorang apabila telah jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

“Melalui imunisasi, anak akan terhindar dari penyakit infeksi yang berbahaya sehingga memiliki kesempatan untuk beraktivitas, bermain, belajar tanpa terganggu dengan masalah kesehatan,” tuturnya.

Adanya pemikiran yang keliru mengenai imunisasi (miskonsepsi) merupakan salah satu masalah yang terjadi di berbagai negara di dunia, termasuk di Indonesia. Pemikiran yang sering muncul antara lain isu vaksin tidak halal karena menggunakan media yang tidak sesuai syariat, efek samping karena mengandung zat-zat yang berbahaya, isu konspirasi dari negara Barat untuk memperbodoh dan meracuni penduduk negara berkembang serta adanya bisnis besar di balik program imunisasi.

Diperlukan informasi untuk menjelaskan masalah ini sehingga masyarakat akan mendukung sepenuhnya program imunisasi. Orangtua harus fokus kepada penyakitnya dan bukan efek samping yang pada umumnya ringan.

Prof.Sri mengemukakan, “Di samping isu-isu tersebut, masih terdapat beberapa hal yang menghalangi dilakukannya imunisasi pada bayi antara lain masalah pro-kontra ASI, kekebalan alamiah dan imunisasi,” tuturnya.

Masih banyak orang yang berpendapat, anak yang telah diberi ASI tidak perlu lagi diimunisasi karena telah memiliki kekebalan alamiah. Memberikan ASI secara benar dapat membebaskan bayi dari berbagai penyakit. Jadi pastikan bayi Anda mendapatkan ASI eksklusif hingga usia enam bulan.

Selain mengandung zat gizi yang dibutuhkan, ASI kaya akan zat imun pencegah penyakit. Namun, ASI tidak bisa menggantikan imunisasi, karena tidak mencukupi untuk membentuk kekebalan spesifik.

Air susu ibu memperkuat pertahanan tubuh secara umum, namun tidak membentuk kekebalan spesifik terhadap kuman tertentu yang berbahaya. Bila jumlah kuman banyak dan ganas, perlindungan umum tidak mampu melindungi bayi, sehingga masih bisa sakit berat, cacat atau mati.

Hal yang justru penting diperhatikan dan sering terlupakan adalah keteraturan dalam pemberian imunisasi. Imunisasi sebaiknya dilakukan sesuai jadwal dan melakukan imunisasi ulangan sesuai dengan usia yang ditentukan. Sebagian besar vaksin dasar diberikan pada usia enam bulan pertama kehidupan.