Dinilai Tahan Banting, BEI Tingkatkan Investor Ritel

Senin, 16/07/2012

NERACA

Jakarta – Meskipun industri pasar modal sedang mengalami tekanan dari krisis ekonomi global, tidak membuat ciut para investor dalam negeri berburu saham di pasar modal. Pasalnya, investor ritel lokal diyakini tahan terhadap goncangan jika terjadi fluktuasi pasar di tengah krisis Eropa.

Direktut IT BEI Adikin Basirun mengatakan, investor ritel adalah penyeimbang dari jumlah investor institusi yang ada, terutama sebagai bentuk ketahanan mencegah jika ada goncangan pasar. “Kalau investor luar dan apalagi institusi, bila ada apa-apa mereka bisa saja langsung keluar," katanya di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurutnya, saat ini komposisi investor yang bermain di pasar modal Indonesia adalah 60 : 40. Artinya, 60% investor berasal dari luar dan 40% investor lokal. Diharapkan kedepannya, komposisi investor lokal bisa lebih banyak dan minimal 50: 50 agar ketahanannya bisa lebih baik.

Kata Adikin, untuk menjaring semakin banyaknya investor ritel tidaklah mudah. Pasalnya, dibutuhkan sistem pemasaran yang lebih baik agar jumlahnya terus bertambah. "Sekarang pertaruhan bagaimana AB untuk follow up. Kalau sosialisasi dan antusisasme tinggi, tapi kalau tidak di follow up akan masuk ke investasi lain yang lebih agresif dalam menawarkan produknya," ujarnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan keoptimisannya terhadap pasar modal Indonesia yang mampu bersaing ditingkat dunia bertepatan dengan usianya yang menginjak usia 20 tahun. "Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang ingin jadi lady, bukan teen lagi. Semoga BEI bisa semakin meningkatkan daya saing serta kredibilitas tingkat dunia," ujarnya.

Harapan lainnya adalah agar investor semakin meningkatkan nilai investasinya dan semakin tertarik ke dunia investasi. "Kalau dilihat investasi menjadi tulang punggung pembangunan di Indonesia. Jadi investasi ini bukan hanya di produk perbankan kemudian di komoditi, sudah saatnya di bidang equtiy, obligasi dan juga turunannya," jelasnya.

PT Bursa Efek Indonesia mengakui sulit mendongkrak jumlah investor domestik dalam menguasai industri pasar modal dalam negeri, kendatipun saat ini tren kepemilikan saham asing turun menjadi 60% dibanding sebelumnya 70%.

Sebelumnya, Direktur Pengawasan Anggota Bursa BEI Uriep Budhiprasetyo pernah bilang, komposisi jumlah investor domestik harus lebih besar dibandingkan asing. Alasannya, agar bursa saham Indonesia tidak mudah disetir oleh investor asing,”Idealnya komposisi investor itu 70% untuk investor lokal dan 30% asing, bagus untuk menahan pasar saham kita agar tidak terlalu didikte asing,”ungkapnya.

Pihaknya pun berharap agar investor institusi, seperti dana pensiun dan asuransi dapat diperluas untuk berinvestasi di pasar modal. Meski jumlah investor asing masih mendominasi di pasar modal, persentase jumlah investor lokal terus meningkat.

Berdasarkan data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (BEI), aset oleh investor asing terhadap total aset mencapai 54,04% per Juni 2012 dibandingkan Juni 2011 sebesar 59%. Sementara itu, aset oleh investor domestik mencapai 45,96% per Juni 2012 dibandingkan Juni 2011 sekitar 40%.

Sementara komposisi aset lokal itu meningkat dibanding posisi 12 Desember 2011 yang sebesar Rp1.020,774 (44,64 persen), sementara investor asing menurun menjadi Rp1.265,410 triliun (55,35%). (didi)