Bapepam-LK Terbitkan Aturan Nilai Wajar Efek Reksadana

NERACA

Jakarta – Dalam rangka menertibkan portofolio reksadana, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menerbitkan peraturan mengenai nilai pasar wajar efek dalam portofolio reksadana melalui Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor: KEP-367/BL/2012.

Informasi tersebut disampaikan dalam siaran persnya di Jakarta, akhir pekan kemarin. Disebutkan, penerbitan keputusan itu dalam rangka memberikan landasan hukum bagi manajer investasi (MI) untuk menggunakan harga pasar wajar yang ditetapkan oleh Lembaga Penilaian Harga Efek (LPHE) sebagai acuan penghitungan nilai pasar dari efek dalam portofolio reksadana.

Ketentuan lebih rinci mengenai nilai pasar wajar dari efek dalam portofolio reksadana itu diatur dalam Peraturan Nomor IV.C2 sebagaimana dimuat dalam Lampiran Keputusan bertanggal 9 Juli 2012 itu.

MI yang mengelola reksadana wajib menghitung nilai pasar wajar dari efek dalam portofolio reksadana sesuai dengan Peraturan Nomor IV C.2 Lampiran Keputusan itu sejak 1 Januari 2013. Sejak ditetapkan keputusan baru hingga 31 Desember 2012, penghitungan nilai pasar wajar dari efek dalam portofolio reksadana dilakukan sesuai peraturan Nomor IV C.2 Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK Nomor Kep-402/BL/2008 tanggal 9 Oktober 2008 tentang Nilai Pasar Wajar dari Efek Dalam Portofolio Reksadana.

Peraturan lama itu dicabut dan dinyatakan tidak berlaku sejak 1 Januari 2013. Lampiran Keputusan Ketua Bapepam-LK itu antara lain menyebutkan efek bersifat utang adalah efek yang menunjukkan hubungan utang piutang antara kreditor (pemegang efek) dengan pihak yang menerbitkan efek.

Nilai pasar wajar dari efek adalah nilai yang dapat diperoleh dari transaksi efek yang dilakukan antar pihak yang bebas bukan karena paksaan atau likuidasi. LPHE adalah pihak yang telah memperoleh izin usaha dari Bapepam-LK untuk melakukan penilaian harga efek dalam rangka menetapkan harga pasar wajar.

Nilai pasar wajar efek dalam portofolio reksadana wajib dihitung dan disampaikan oleh MI kepada Bank Kustodian paling lambat pukul 17.00 WIB setiap hari bursa. LPHE wajib menentukan standar deviasi atas harga pasar wajar atas efek yang ditetapkan dan mempunyai prosedur operasi standar atau mekanisme untuk memperbaiki harga pasar wajar atas efek dimaksud jikga terjadi kesalahan penilaian.

LPHE wajib menyediakan dua hal tanpa memungut biaya yaitu akses digital secara online kepada MI yang mengelola reksadana untuk mengetahui harga pasar wajar dari efek dalam portofolio reksadana dimaksud. Selain itu menyediakan harga pasar wajar atas efek yang terdapat dalam portofolio reksadana yang dikelola oleh masing-masing MI untuk hari yang bersangkutan dan satu hari sebelumnya. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Pemerintah Terbitkan Dua Seri Surat Utang Valas

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua valuta asing (dual-currency) yaitu denominasi dolar…

Pefindo Kebajiran Mandat Pemeringkat Efek - Surat Utang Jatuh Tempo Rp 60 Triliun

NERACA Jakarta –Naiknya peringkat surat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat Moody’s Investor Service dengan prospek positif dari Baa3 menjadi Baa2…

Pinnacle Investment Rilis Reksadana Campuran - Volatilitas Pasar Yang Tinggi

NERACA Jakarta – Besarnya pertumbuhan industri reksa dana di pasar modal, mendorong perusahaan manajer investasi untuk terus berinovasi dengan merilis…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Multi Bintang Bagikan Dividen Rp 1,32 Triliun

NERACA Jakarta - Masih tumbuh positifnya industri pariwisata memberikan dampak berarti terhadap penjualan PT Multi Bintang Indonesia Tbk (MLBI) sebagai…

Graha Layar Bakal Stock Split Saham

Guna memenuhi aturan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk ketentuan free float saham atau jumlah saham yang beredar di publik,…

MMLP Bidik Rights Issue Rp 447,79 Miliar

Dalam rangka perkuat modal, PT Mega Manunggal Property Tbk (MMLP), emiten pengelola pergudangan berencana untuk melaksanakan penambahan modal tanpa hak…