31 AB Ramaikan Tren Sistem Online Trading

NERACA

Jakarta – Bisnis online trading yang saat ini banyak digeluti perusahaan sekuritas di pasar modal tengah mengalami persaingan sengit. Alasannya, selain bisa menghasilkan keuntungan lebih juga dinilai layanan transaksi elektornik ini atau online trading bisa meningkatkan frekuensi transaksi di pasar saham.

Tengok saja, saat ini PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan ada 31 perusahaan sekuritas yang menjadi anggota bursa (AB) dalam proses mempersiapkan sistem perdagangan saham secara elektronik (online trading). "Dengan 'online trading' maka akan membuat perdagangan lebih tinggi, saat ini ada 31 AB yang mengajukan proses,"kata Direktur IT BEI, Adikin Basirun di Jakarta akhir pekan kemarin.

Bahkan dia menegaskan, dalam waktu dekat ini akan ada enam AB yang akan merampungkan sistem perdagangan saham secara elektronik dan hingga saat ini terdapat 70 AB yang menggunakan sistem online trading yang sisanya masih dalam tahapan.

Meski demikian, Adikin tidak dapat memastikan berapa lama Angota Bursa dapat mempersiapkan fasilitas itu, pasalnya hal itu tergantung dari infrastruktur yang dimiliki oleh masing-masing AB. "Yang pasti mereka sedang pengajuan, dan akhir tahun jumlahnya akan bertambah,"ujarnya.

Dia menambahkan, dengan fasilitas "online trading" itu diharapkan juga dapat menambah jumlah investor baru di pasar modal dalam negeri. Selain itu, investor domestik diharapkan dapat berpartisipasi lebih besar di pasar modal Indonesia.

Hal itu dimaksudkan agar indeks saham dapat stabil bila ada gejolak karena sentimen eksternal dan saat ini, lanjut Adikin Basirun jumlah investor di pasar modal Indonesia perbandingannya 60% asing dan 40% lokal. Posisi jumlah itu bertambah dibanding sebelumnya di 70:30.

Sebelumnya, Direktur Utama BEI, Ito Warsito mengatakan, seiring dengan berkembangnya "online trading" di dalam negeri pihaknya juga menyiapkan sistem pengawasan transaksi.

Dikatakan dia, penerapan sistem pengawasan transaksi merupakan salah satu implementasi dari perubahan peraturan A-III tentang Keanggotaan Bursa. Dalam peraturan itu disebutkan, anggota bursa wajib memiliki "front dan back office system" yang memadai dan dapat mendukung "bussines continuity plan" (BCP) melalui sistem perdagangan jarak jauh (remote trading) yang dikembangkan Bursa.

Dalam peraturan itu juga disebutkan, anggota bursa untuk memiliki sistem pengawasan dan petugas yang mengawasi pola transaksi nasabah di luar kewajaran bagi AB yang menyediakan fasilitas penyampaian pesanan secara langsung bagi nasabah. (bani)

BERITA TERKAIT

Sistem QR Code Bank Mandiri akan Diluncurkan Awal 2019

    NERACA   Jakarta - Presiden Direktur PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, Mandiri Pay sebagai sistem…

Tren IHSG Belum Beranjak di Zona Merah - Defisit Transaksi Berjalan Melebar

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Senin (12/11) awal pekan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup melemah 97,10 poin atau…

DPMPTSP Kota Sukabumi Terus Bantu Pengusaha Dalam Penggunaan Sistem OSS

DPMPTSP Kota Sukabumi Terus Bantu Pengusaha Dalam Penggunaan Sistem OSS NERACA Sukabumi - Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…

Strategi Hilirisasi - Pabrik Feronikel Antam Rampung Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Komitmen PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjalankan strategi hilirisasi terus dilakukan dengan pembangunan pabrik Feronikel Haltim dengan…