Produk Herbal RI Diminati Pasar Dunia

Senin, 16/07/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan menegaskan produk makanan ringan, cokelat, jelly, nata de coco, kue lapis, cabe olahan, teh, sari temulawak, dan jamu herbal sangat diminati para investor. Taiwan, China, Hong Kong, Singapura, Filipina, Jerman, AS, Guatemala, dan Nigeria sangat minati produk alam berupa produk makanan dan minuman kesehatan, seperti temulawak, lidah buaya.

Bahkan, pembeli internasional menunjukkan minat yang besar untuk melakukan kerja sama bisnis business to business dengan pengusaha Indonesia dan melakukan pemesanan trial order. Paling tidak Indonesia meraih penjualan sekitar US$ 343.000 pada food Taipei 2012 yang merupakan pameran industri makanan terbesar di Taiwan dan pameran industri makanan pertama di kawasan Asia.

"Keikutsertaan Indonesia pada pameran ini agar perusahaan Indonesia dapat mempromosikan produk dan memperluas pangsa pasar internasional," ujar Direktur Promosi dan Citra Ditrektirat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Kementerian Perdagangan, Pradnyawati dalam rilis yang diterima Neraca di Jakarta, Minggu (15/7).

Food Taipei 2012 merupakan ajang tahunan yang telah diselenggarakan sebanyak 22 kali oleh Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) dengan menampilkan aneka ragam produk makanan dan minuman internasional, perlengkapan katering, peralatan masak perhotelan, dan produk kemasan.

Tahun ini, acara tersebut diikuti oleh sekitar 1.530 eksibitor yang berasal dari 30 negara di dunia, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Korea, India, Yunani, Guatemala, Macau, dan Indonesia. Total pengunjung yang datang mencapai 55.000 orang pembeli dari domestik maupun luar negeri.

Paviliun Indonesia menampilkan sembilan perusahaan Indonesia yang sudah memiliki reputasi dalam industri makanan di Indonesia maupun internasional, yaitu PT Garuda Food Putra Putri Jaya, PT Nyonya Meneer, PT Niramas Utama, PT BT Cocoa, PT Forisa Nusapersada, PT Sinar Sosro, PT Helmigs, PT Marizarasa Sarimurni, dan CV Dua Banteng.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perindustrian MS Hidayat menyatakan keberadaan industri kosmetik dan produk herbal Indonesia memiliki prospek bisnis cerah. Namun, penyediaan bahan baku lokal masih menjadi tantangan pengembangan industri tersebut. "Omzet kosmetik nasional Rp7 triliun, sedangkan produk herbal nasional mencapai Rp11 triliun pada 2011,"kata Hidayat.

Menurut Hidayat, ada tren di masyarakat untuk menggunakan kosmetik berbahan alami. Hal itu didukung dengan potensi tanaman obat, kosmetik, dan aromatik di Indonesia dengan jumlah 30 ribu jenis.

Kendati demikian, industri kosmetik dan produk herbal memiliki tantangan dalam pengembangannya. Salah satunya adalah penyediaan bahan baku lokal yang berkualitas dan memenuhi standar.

"Saat ini bahan baku kosmetik dan produk herbal masih impor. Saya hanya meminta agar impor bahan baku semakin dikurangi karena kita juga harus waspada bahwa Malaysia dan China yang juga menjadi produsen," tuturnya.

Dia mengharapkan perusahaan melakukan upaya pengembangan riset, sumber daya manusia (SDM) serta teknologi pengolahan yang dapat menghasilkan bahan baku serta produk kosmetik dan herbal yang berkualitas. Hidayat menambahkan, tren di masyarakat untuk menggunakan kosmetik berbahan alami semakin meningkat. Oleh karena itu, peluang dan kreativitas industri kosmetik di dalam negeri menjadi terbuka. "Potensi tanaman obat, kosmetik, dan aromatik yang banyak tumbuh di Tanah Air dengan jumlah sekitar 30 ribu spesies. Sebab Indonesia merupakan negara penghasil tanaman obat setelah Brasil," jelasnya.