Budaya Konsumtif Tahan Dampak Krisis Global

KAJIAN BANK DUNIA TIDAK JELAS

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta-Kajian Bank Dunia yang menyebutkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4% pada 2013 terkait skenario terburuk menghadapi krisis global sangatlah diragukan. Alasannya budaya konsumtif masyarakat Indonesia memiliki dampak positif terhadap perekonomian.

“Budaya konsumsi masyarakat Indonesia merupakan penopang utama dari lepasnya krisis ekonomi 2008. Karena itu, melihat tingginya konsumsi masyarakat. Maka pengaruh krisis global takan berpengaruh signifikan,” kata ekonom Indef Enny Sri Hartati kepada Neraca, Kamis (12/7).

Lebih jauh Enny, yakin pengaruh krisis global tak membawa pengaruh apa-apa terhadap Indonesia. Namun demikian pengaruhnya hanya pada sektor perdagangan luar negeri saja. “Ketahanan ekonomi Indonesia, karena kita mempunyai Sumber Daya Alam cukup yang memadai sehingga bisa memperkuat perekonomian,” ungkapnya.

Diakui Enny, selain memperkuat perekonomian domestik. Perlu Juga mengurangi ketergantungan import dan menggenjot investasi domestik dibandingkan investasi luar negeri. “Indonesia merupakan target atau sasaran untuk investasi pihak asing atau dengan kata lain investor seperti mencari gula dimana Indonesia mempunyai pasar luar biasa,” jelasnya

Enny tak membantah pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah lama menjadi auto pilot. Apalagi potensi Indonesia sangat besar khususnya di sektor sumber daya alam. “Kita belum bisa mengelolanya dengan baik, maka diperlukan pengelolaan yang baik dari pemerintah Indonesia,” ucapnya

Begitu juga dengan pandangan dosen FEUI Aris Yunanto. Dia mengakui melemahnya ekspor Indonesia ke luar negeri, karena dampak dari perekonomian China. “Melemahnya, ekspor China ke negara lain juga melemah. Masalahnya selama ini Indonesia paling besar ekspor ke China,” tegasnya kemarin.

Meski menurun, namun Aris tetap optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil. Alasanya di penghujung 2013 itu sudah persiapan kampanye pemilu. “Dan Indonesia pasar dalam negeri akan terbantu dengan belanja pemilu tersebut,” ujarnya.

Menurut Aris, pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan ekonomi yang diisi dengan dukungan produksi dalam negeri yang meningkat

Anggota Komite Ekonomi Nasional (KEN), Ninasapti Triaswati mengaku tetap yakin pertumbuhan ekonomi di atas 6%. Hanya saja, kata Nina lagi, pemerintah harus membenahi logistik, infrastruktur dan adminsitrasi. “Harus segera diperbaiki karena tingginya biaya logistik membuat produk dalam negeri kehilangan daya saing,” ungkapnya.

Diakui Nina, birokrasi yang berbelit-belit m,asih menjadi permasalahan klasik. Terutama di daerah-daerah. Banyak sekali aturan tumpang tindih. Bahkan peraturan dibuat hanya untuk kepentingan kalangan tertentu. “Terlalu banyak Perda hanya untuk kepentingan kepala daerah pada masa jabatannya. Jadi tidak pernah ada sistem dan sanksi yang tegas,” terangnya.

Dia menilai penghasilan pajak daerah seharusnya sudah bisa digunakan untuk membiayai pembangunan daerah, termasuk infrastruktur. “Misalnya, pembangkit listrik yang bisa menunjang perekonomian daerah tersebut. Tapi sekarang realitanya tidak ada yang seperti itu,” tandasnya.

Yang jelas Nina tak membantah banyak pengusaha nasional akhirnya memilih menyimpan dananya di luar negeri ketimbang tanam di Indonesia. Alasanya ebih banyak pungutannya dibandingkan hasil usahanya. “Makanya jangan heran, pengusaha memilih perbankan asing ketimbang lokal,” paparnya.

Disisi lain, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, pemerintah juga melakukan langkah komprehensif mengantisipasi krisis global, termasuk menggunakan pinjaman siaga atau fasilitas pembiayaan kontijensi yang didukung oleh mitra pembangunan internasional. "Pembiayaan kontijensi merupakan fasilitas serupa asuransi yang dimaksudkan untuk memberikan back-up pembiayaan bagi pemerintah selama 2012 dan 2013," ujarnya.

Mahendra menjelaskan fasilitas senilai lima miliar dolar AS ini akan ditarik jika terjadi kondisi ekstrim di pasar keuangan dan akan dimanfaatkan setelah langkah proaktif lainnya dijalankan, yakni diaktifkannya BSF dan sumber pembiayaan lain seperti SAL (sisa anggaran lebih). "Fasilitas sejenis pernah diperoleh pemerintah pada 2009 sampai 2010 yang sangat membantu dalam meningkatkan kepercayaan pasar," ujarnya.

Lembaga keuangan multilateral Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia masing-masing berkontribusi sebesar US$2 miliar dan US$500 juta, sedangkan mitra bilateral seperti Australia menyiapkan satu miliar dolar Australia dan Jepang melalui Bank Pembangunan Internasional Jepang berkontribusi US$1,5 miliar. "Pemerintah berkomitmen tetap menjaga tingkat utang pada level aman, meskipun fasilitas dimaksud sifatnya berupa pinjaman siaga," tuturnya

Hingga saat ini, posisi keuangan pemerintah didukung oleh pemenuhan pembiayaan yang telah mencapai 18 miliar dolar AS yang diperoleh melalui pasar keuangan serta jumlah SAL yang besar. Menurut rencana, sisa pemenuhan pembiayaan sebesar 11 miliar dolar AS akan dipenuhi selama paruh kedua tahun ini.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia, Stefan Koeberle menyatakan Indonesia tidak kebal dari dampak krisis global sehingga tidak tertutup kemungkinan pertumbuhan ekonomi 2013 turun ke 4,0%."Indonesia tidak dapat menghindar dari dampak penurunan ekonomi global,” katanya, Kamis.

Namun Stefan yakin Indonesia mampu melewati gejolak perekonomian global dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi selama tahun 2012 sekitar 6,0%."Indonesia masih menikmati pertumbuhan kuat dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya berkat kuatnya konsumsi domestik dan investasi," ujarnya

Bank Dunia melalui laporannya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 sebesar 6,4%. Namun krisis ekonomi global yang parah dapat menekan pertumbuhan ekonomi turun ke sekitar 4,0%. "Pemerintah Indonesia telah membuat kemajuan penting, seperti telah mempersiapkan protokol manajemen krisis dan mengatur pembiayaan kontinjensi bagi pemerintah jika terjadi pengetatan likuiditas di pasar," sebut laporan itu. iwan/mohar/novi/bari/cahyo