Sucofindo Desak Percepat Konversi BBM ke LPG

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta-- Pemerintah diharapkan segera melakukan program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke "liquified petroleum gas" (LPG) untuk kendaraan bermotor sebagai salah satu solusi penghematan subsidi BBM. "Dari hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh lembaga independen penyedia jasa pengujian dan analisa PT Sucofindo (Persero), pemanfaatan LPG ternyata bisa diaplikasikan sebagai bahan bakar untuk segala jenis kendaraan bermotor," kata Direktur Utama PT Sucofindo, Arief Safari, di Jakarta, Kamis.

Lebih jauh Arief menambahka Sucofindo telah berhasil mengaplikasikan program konversi BBM ke LPG pada dua unit kendaraan dinas mereka, yakni satu unit mobil jenis MPV dan satu unit motor jenis skuter otomatis yang telah dimodifikasi menggunakan alat konversi (converter kit). "Program konversi BBM ke BBG dalam hal ini LPG bisa dilakukan tanpa harus menunggu kesiapan infrastruktur SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) yang membutuhkan investasi yang besar,” terangnya.

Menurut Arief, pemerintah sebaiknya menggunakan jaringan SPBU sebagai agen untuk menjual LPG kepada konsumen. Sehingga tak menunggu lama membangun SPBG. “Untuk mempercepat program konversi BBM ke LPG ini pemerintah cukup memanfaatkan jaringan SPBU yang telah ada sebagai agen penjualan LPG seperti yang dilakukan dalam program konversi minyak tanah ke LPG," paparnya.

Untuk bisa mengaplikasikan teknologi konversi BBM ke LPG, lanjut Arief lagi, konsumen tidak perlu mengeluarkan dana yang besar karena pemasangan satu unit alat konversi BBM ke LPG termasuk harga tabung LPG hanya berkisar Rp4 juta untuk sepeda motor dan Rp12 juta untuk mobil. "Jika alat konversi dan tabungnya sudah diproduksi massal di dalam negeri, tentunya harganya bisa jauh lebih murah," tuturnya.

Dari hasil pengujian awal yang dilakukan PT Sucofindo, pengaplikasian teknologi konversi BBM ke LPG untuk kendaraan bermotor bisa diterapkan dengan aman, asalkan seluruh pihak yang terkait bisa memastikan seluruh prosesnya. "Untuk memastikan keamanan, maka mulai dari fabrikasi, instalasi, distribusi, 'authorized station' (SPBU), serta operasionalnya, dilakukan Sertifikasi QA/QC dan inspeksi sesuai standar ASME, SNI, dan ISO," tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran dan Niaga PT Pertamina (Persero), Hanung Budya mengungkapkan, penghematan subsidi yang diperoleh dari program konversi minyak tanah ke elpiji tabung 3 kg sudah mencapai Rp61,6 triliun. "Nilai penghematan itu merupakan akumulasi dari pelaksanaan program konversi periode 2007 sampai Mei 2012," katanya di Jakarta, Minggu.

Menurut Hanung, konsumsi elpiji 3 kg terus mengalami peningkatan seiring keberhasilan program konversi yang pertama diluncurkan pada 2007. "Kami bersyukur atas pencapaian ini dan bertekad menuntaskan program konversi ini segera," ujarnya.

Selama periode 2007-Mei 2012, lanjut Hanung, distribusi paket perdana mencapai 53,9 juta yang tersebar di 23 provinsi. **cahyo