Investasi Proyek Kereta Layang Bekasi-Slipi Rp10 T

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta---PT Hutama Karya Persero (HK) memproyeksikan pembangunan infrastruktur kereta layang Bekasi-Slipi sepanjang 22 km membutuhkan investasi sekitar Rp10 triliun. "Ya mungkin, setelah disubsidi harga tiketnya menjadi Rp9.000 dan itu salah satu alasan menggunakan dana APBN," kata Direktur Utama HK, Tri Widjajanto Joedosastro di Jakarta,12/7

Menurut Tri, konstruksi pembangunan kereta layang ini diharapkan berasal dari pendanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Rencana pembangunan kereta layang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Kereta layang Bekasi-Slipi pun menawarkan model transportasi intermoda yang menggabungkan seluruh konsep transportasi darat. "Satu stasiun menjadi titik temu antara kereta listrik dengan busway, KRL. Nanti, sentralnya di Cawang," tuturnya.

Lebih jauh kata Tri, untuk merealisasikan pembangunan kereta layang ini, Hutama karya akan berkolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia Persero. Tahap pertama, pembangunannya dimulai dari Bekasi-Slipi. Kemudian, Bogor-Cawang-Slipi, Slipi-Serpong, serta Serpong-Bandara Soekarno-Hatta. "Namun, pembangunannya akan bertahap. Yang pasti model transportasi intermoda ini terintegrasi, mulai dari kereta listrik, busway, hingga MRT," paparnya.

Pembangunan kereta layang ini, lanjutnya, akan menggunakan median jalan tol yang selama ini tidak dimanfaatkan. Artinya, pembangunan kereta layang dipastikan tidak mengganggu pengguna jalan tol. Intinya, kereta layang diharapkan mampu mengangkut orang dengan jumlah banyak.

Bahkan Tri mengakui rencana pembangunan kereta layang mengadopsi apa yang telah diterapkan di negara-negara maju. Kereta layang akan menggunakan tenaga matahari (solar cell) yang ramah terhadap lingkungan. "Ya, konsepnya jalan kereta api tapi listrik. Kami usulkan sesegera mungkin, sudah diskusi dengan instansi terkait bagaimana cara mengatasi kemacetan di Jakarta," ungkapnya.

Kereta layang dari Bekasi hingga Slipi direncanakan akan mengenakan ongkos sekitar Rp 9.000 per orang sekali perjalanan. Tarif ini terbilang murah, karena pendanaan pembangunannya juga direncanakan akan menggunakan anggaran negara atau APBN, dengan kata lain, disubsidi. "Ya mungkin setelah disubsidi menjadi Rp 9.000, dan itu salah satu alasan menggunakan dana APBN. Konstruksinya mestinya dibangun dengan APBN, salah satu solusi yang ditawarkan," paparnya

Sementara itu, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku terkesan dengan konsep pembangunan kereta layang milik Hutama Karya. "Saya sudah lihat konsepnya. Sangat bagus dan dapat mengatasi kemacetan Jakarta," tutur Dahlan.

Sebelumnya, Dahlan telah menyetujui konsep ini dan menyarankan Hutama Karya untuk mengajukannya kepada Kementerian Perhubungan. Selain itu mengusulkan biaya pembangunan tersebut berasal dari APBN dengan alasan untuk kepentingan rakyat. "Ini tidak ada hubungannya dengan BUMN, Ini Kementerian Perhubungan," ungkap Dahlan beberapa waktu lalu. **cahyo