Investasi di Indonesia Tumbuh 32%

Semester I-2012

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta – Pertumbuhan year on year (yoy) investasi di Indonesia adalah sebesar 32% sepanjang semester I-2012. “YoY investasi kita tumbuh 32%, dan ini cukup besar. Investasi masih kuat karena pasar Indonesia masih dianggap investor sebagai pasar yang potensial,” kata M. Chatib Basri, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di kantornya, Kamis (12/).

Namun Chatib masih enggan menjelaskan berapa realisasi jumlah investasi pada semester pertama 2012. “Untuk realisasi investasi, kita harus tunggu angkanya sampai akhir Juli ini. (Investasi) yang paling besar adalah Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 51,2%, dan sisanya yaitu 48,8% adalah Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN),” ungkapnya.

Capital goods di Indonesia masih tumbuh sebanyak 6%, sedangkan impor barang modalnya adalah 37%. Jadi menurut Chatib investasi masih akan terus tumbuh sampai akhir tahun ini. ”Investasi masih bisa berjalan selama 6 bulan ke depan atau bisa dibilang bahwa Indonesia masih akan kuat sampai awal 2013. Bahkan pada semester kedua 2012, diharapkan ada tambahan investasi sebesar US$ 300 juta,” tutur Chatib.

Tetapi karena kondisi ekonomi dunia yang masih rapuh akibat krisis global maka Indonesia diperkirakan juga akan mengalami masa berat pada 2013. ”Kita harus jaga dan hati-hati (terhadap pertumbuhan investasi) terutama pada kuartal keempat 2012 atau awal tahun 2013,” jelas Chatib.

Menurut dia, Indonesia memang harus bisa meningkatkan investasi ke dalam negeri, karena hal ini akan bisa menjamin pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap bagus. Kalau banyak investor datang ke Indonesia, otomatis juga akan mempengaruhi perkembangan ekonomi di kawasan terdekatnya, khususnya ASEAN.

”Kita tidak bisa hanya mengandalkan konsumsi saja, karena consumption goods sifatnya hanya sementara. Kita harus bisa mencontoh Cina yang pertumbuhan ekonominya dijalankan oleh investasi; dan dengan itu bahkan negara-negara Asia Timur lainnya akan mendapatkan keuntungan yang sama. Indonesia juga bisa seperti itu. Apalagi AS dan Eropa akan berkurang ketergantungannya kepada (negara-negara) Timur Tengah, jadi mereka akan memilih berinvestasi di Indonesia,” jelas Chatib.

Menurutnya lebih lanjut, bahwa memang penting untuk mempertahankan foreign direct investment dengan segala upaya. Dan BKPM sendiri memang sudah melakukan reformasi di dalamnya untuk mempermudah pihak yang akan berinvestasi.

”Untuk meningkatkan investasi, kami sudah melakukan reformasi dalam beberapa hal, salah satunya dengan meningkatkan akuntabilitas. Misalnya melengkapi situs kami dengan informasi yang mempermudah pihak pemodal mendapatkan informasi ketika mereka ingin berinvestasi di Indonesia, seperti mencantumkan persyaratan dan peraturan yang terkait dengan penanaman modal,” tutur Chatib.

Kemudian, Chatib juga mengatakan bahwa BKPM bisa membantu para investor dengan menjadi clearing house-nya. ”Misalnya ketika kita presentasi di depan investor asing, maka yang disuruh bicara adalah gubernur dari masing-masing daerah, seperti waktu itu adalah Gubernur Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Jadi kita memfasilitasi pertemuan langsung dengan para investor,” kata Chatib.

Dia menambahkan pada tahun ini terjadi perubahan yang menarik dari sisi investor, yakni dengan Korea Selatan menjadi investor ketiga terbesar di Indonesia, setelah Cina dan Jepang. ”Memang salah satu cerita sukses tentang penanaman modal oleh asing di Indonesia adalah perusahaan Hankook Tire dari Korea Selatan, dengan investasi awalnya US$ 6 juta, dan sekarang sudah berhasil dan bisa memperluas pabriknya,” ujarnya.

Kemudian, terkait dengan pertemuan ASEAN-Latin Business Forum kemarin, ia juga bicara bahwa Brazil memang tertarik untuk investasi di Indonesia. “Brazil memang sudah ada minat (investasi) di sini, khususnya di sektor makanan, peternakan, transportasi (bus), dan perbankan. Tapi yang terakhir ini masih memakan waktu lama, tutupnya.