Pasar Indonesia Kebanjiran Produk Mainan Asal China

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta - Pasar Indonesia saat ini dibanjiri oleh produk impor. Salah satu jenis produk impor adalah produk mainan anak-anak, yang didominasi oleh China. Dari data yang diperoleh, sekitar 70% dari US$5,07 juta potensi pasar mainan di dalam negeri dikuasai oleh produk-produk mainan impor. Dari angka total tersebut, produk asal China mencapai 80% atau US$ 2,84 juta.

Membanjirnya produk mainan impor ini dikeluhkan beberapa pengusaha di industri mainan dan dianggap memukul industri dalam negeri. Pasalnya, produk China yang ditawarkan di pasar Indonesia lebih murah dari produk dalam negeri dan lebih inovatif. "Produk China punya inovasi sendiri seperti pemberian chip dan mekanik pada unsur boneka, mereka sangat established," ungkap Agus, Dirut PT. Kanage Internasional di Intercotinental MidPlaza, Jakarta (12/07/12).

Di samping harga yang relatif sangat murah, tidak dapat dipungkiri produk buatan China memang terlihat lebih atraktif dan dinamis. Untuk soft toys seperti boneka misalnya, mereka membenamkan chip yang mampu menghasilkan gerak dan bunyi. "Ini merupakan tantangan bagi para industri mainan lokal, saat ini Indonesia masih lebih kearah konvensional, dan unsur teknologi sangat minim," jelas Agus.

Akan tetapi, dari sisi nilai pasar, tingginya impor dapat dilihat sebagai trend yang positif bagi industri mainan anak. Terjadinya peningkatan nilai impor tersebut tentu disebabkan adanya peningkatan permintaan (demand) pasar. Artinya, industri mainan mengalami pertumbuhan yang sangat baik.

Selain menunjukkan trend pasar yang positif, pasar lokal tidak perlu khawatir dengan produk-produk impor luar negeri, khususnya China. Meskipun dijual dengan harga murah namun tidak ada jaminan tentang kesalamatan penggunaan mainan-mainan tersebut, karena beberapa mainan tersebut didatangkan secara ilegal.

Berdasarkan pengujian yang dilakukan oleh YLKI Maret 2011 lalu, beberapa macam mainan edukasi yang dibeli di beberapa tempat penjualan dan pasar mainan di beberapa wilayah DKI Jakarta dinyatakan mengandung zat kimia berbahaya.

Oleh karena itu, banyaknya produk impor mainan anak tidak perlu dikhawatirkan para pebisnis di indusri mainan, karena retail tentu dapat melihat bagaimana produk impor, khususnya China pasti memiliki risiko atau ketidakjelasan kualitas.

“Untuk mainan impor kita sendiri banyak boneka plastik dari china tetapi kita tidak gentar dengan produk china, retail juga bisa melihat bagaimana produk china seperti custom, waktu, uncertain quality, dan ada risiko di sana, ” jelas Agus.

Keikutsertaan RI

Di tempat yang sama, Ernest Kick, CEO Spielwarenmesse International Toy, mengatakan dalam Spielwarenmesse International Toy Fair yang akan diselenggarakan di Nuremberg, Jerman 30 Januari- 4 Februari 2013. Indonesia diperkirakan akan ikut serta dalam acara tersebut. "Kurang lebih ada sekitar 16 Perusahaan yang ikut serta tahun 2013 jauh lebih meningkat dibandingkan tahun 2012 yang hanya mengikutsertakan 2 perusahaan saja," jelasnya.

Dalam keikutsertaannya, perusahaan Indonesia mengandalkan produk kerajinan tangan soft toys untuk mainan anak-anak. Selain permintaan pasar yang sangat besar terhadap mainan anak, seperti boneka, produk kerajinan tangan Indonesia tidak kalah saing dengan produk-produk di Jerman. "Menurut saya hampir sama dengan tahun lalu Indonesia tetap mengandalkan produk kerajinan tangan terutama permainan untuk anak dan boneka," kata Ernest.

Spielwarenmesse International Toy Fair adalah pameran mainan internasional/global yang rutin diselenggarakan oleh Jerman. Pameran ini menawarkan 2.700 produsen mainan suatu tempat untuk mengembangkan bisnis dan kontak. "Pameran internasional Toy Fair ialah suatu jendela yang menarik dan sangat baik untuk dihadiri serta sesuai dengan industri, untuk membantu kita menghasilkan produk terbaik dan masuk ke pasar yang ada,” tandas Ernest.

Lebih lanjut Ernest menambahkan, tahun 2012 sendiri, telah terjadi transaksi mainan dari acara ini sebanyak 5 Billion Euro. Dua Perusahaan dari Indonesia hadir dalam event ini. Pengunjung dari Indonesia sendiri tercatat sebanyak 2.776 orang.

Kick menambahkan, para peserta yang ikut serta dalam acara ini memang harus merogoh kocek dalam. Untuk catatan saja, untuk akomodasi ke Jerman dibutuhkan sekitar 3500-4000 Euro, ini sudah termasuk transport, visa, penginapan, dan insurance. Adapun untuk biaya partisipasi harus merogoh kocek sebesar 150-180 Euro/meter persegi.