Pembangunan Pabrik Timah Terhambat Soal Izin Amdal

NERACA

Bangka - Rencana PT Timah Tbk (TINS) membangun pabrik tin chemical di kawasan industri Tanjung Ular, Bangka Barat masih terganjal soal izin analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal).

Direktur Utama PT Timah Tbk, Sukrisno mengatakan, pembangunan pabrik tin chemical di Bangka Barat masih menunggu izin amdal, “Saat ini izin analisa mengenai dampak lingkungan masih dilakukan, kami sedang menunggu proses sidang yang akan dilaksanakan 19 Juli 2012,"katanya di Muntok, Kamis (12/7).

Dia menjelaskan, proses pembangunan tin chemical di Muntok akan segera dilaksanakan jika izin amdal dari Kementerian Lingkungan Hidup sudah diterbitkan. Asal tahu sajam, proses peletakan batu pertama sudah 1,5 tahun yang lalu dan sampai sekarang belum ada perkembangannya.

Namun dengan diterbitkannya izin amdal tersebut, kata Sukrisno, perseroan berharap proyek tersebut dapat segera dimulai dan selesai secepatnya. Nantinya, setelah tin chemical berdiri diharapkan mampu mengelola mineral ikutan yang selama ini belum tergarap dan stoknya sudah menumpuk. "Kami juga akan menjadikan mineral ikutan tersebut menjadi barang jadi yang saat ini pangsa pasar internasional sangat terbuka," kata dia.

Selama ini mineral ikutan seperti monazit, kata dia, belum bisa tergarap dengan minimnya teknologi tingkat tinggi yang dimiliki, padahal mineral tersebut memiliki nilai ekonomis tinggi. China sebagai produsen barang dari timah sudah mengurangi ekspornya, sementara kebutuhan dunia semakin meningkat.

Dengan situasi seperti itu, kata dia, pihaknya akan terus mendorong dibangunnya tin chemical di Bangka Barat yang saat ini masih menunggu penerbitan izin amdalnya. Selain perizinan, kata dia, rencana pemangunan tin chemical juga masih terkendala masalah minimnya ketersediaan energi listrik yang ada."Kami sedang merencanakan pembangunan PLTU berkapasitas 2 x 7 mega watt di Muntok dalam upaya memenuhi kebutuhan energi untuk Tin Chemical," ujarnya.

Menurutnya, dengan dibangunnya tin chemical tersebut, diharapkan mampu mengelola industri pertimahan dari hulu sampai hilir, sehingga tidak berserakan seperti saat ini yang berpotensi merugikan masyarakat karena mengandung zat radioaktif. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Pabrik Baru Beroperasi - Tahun Depan, PBID Bidik Penjualan Tumbuh 15%

NERACA Jakarta – Seiring beroperasinya pabrik baru, PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) terus menggenjot kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan…

Bappenas Dorong Pembangunan Papua Berbasis Pendekatan Adat

    NERACA   Jakarta - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan…

Manfaatkan Zakat untuk Pembangunan

      NERACA   Jakarta - Forum Zakat Dunia mengajak kepada semua negara anggotanya untuk mengadopsi zakat sebagai instrumen…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…