Afrika Lebih Sukai Mobil Asal Indonesia

Ekspor Mobil Diperkirakan Naik 10%

Jumat, 13/07/2012

NERACA

Jakarta – Seiring tingginya investasi prinsipal asal Jepang yang berinvestasi di Indonesia, sejumlah negara di Afrika lebih memilih mobil buatan Jepang yang diproduksi Indonesia dibandingkan dengan produksi asal Eropa.

“Pasalnya, perawatannya tidak memerlukan biaya yang mahal,” ungkap Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kemenperin, Budi Darmadi di kantornya, Kamis (12/7).

Lebih jauh lagi Budi menargetkan ekspor mobil hingga akhir tahun mencapai 120.000 unit. “Permintaan mobil dari negara-negara di Afrika dan Timur Tengah terus meningkat. Tahun ini, ekspor mobil diperkirakan meningkat 10% dari tahun lalu yang mencapai 105.000 unit,” kata dia.

Budi menuturkan, Kemenperin akan menggerakan Agen Pemegang Merek (APM) untuk meningkatkan ekspor. Sampai dengan semester I tahun ini, ekspor mobil mencapai setengah dari target pemerintah.

“Semester I ekspor mobil mencapai 57.000 unit dan permintaan akan terus meningkat seiring membaiknya perekonomian di beberapa negara Afrika. Selain itu, potensi pasar ekspor mobil di Timur Tengah masih potensial,” ujarnya.

Budi menambahkan, untuk APM seperti Daihatsu sudah menjajaki pasar ekspor dengan produk Xenia, Terios serta Gran Max. “Sebesar 14% dari produksi Daihatsu di Indonesia diperuntukkan bagi ekspor, namun Daihatsu masih kewalahan memenuhi permintaan mobil dari dalam negeri,” tukasnya.

Dia juga mengaku masih optimistis penjualan mobil bisa menyentuh angka 940.000 unit pada 2012, naik 10% dari realisasi penjualan tahun lalu. Budi mengharapkan pihak lembaga pembiayaan kendaraan bermotor mempunyai strategi untuk meningkatkan penjualan kendaraan. “Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan uang muka kendaraan sebesar 30% terlalu memberatkan konsumen. Namun, lembaga pembiayaan diharapkan mencari terobosan dengan pembayaran uang muka secara bertahap,” paparnya.

Lembaga pembiayaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penjualan mobil di Indonesia. “Tercatat 70% konsumen di dalam negeri membeli mobil secara kredit dan lembaga pembiayaan mempunyai pengaruh yang penting terhadap penjualan mobil,” ujarnya.

Budi menilai pasar mobil di dalam negeri memiliki potensi yang tinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya. “Indonesia memiliki pertumbuhan yang tinggi untuk industri otomotif dan kebijakan uang muka diharapkan tidak menurunkan penjualan mobil secara nasional,” harapnya.

Pengaruhi Investor

Di tempat berbeda, pengamat otomotif Suhari Sargo memaparkan, investasi di sektor komponen otomotif sangat bergantung dengan penjualan kendaraan di pasar dalam negeri dan minimnya infrastruktur akan mempengaruhi minat investor untuk menanamkan modalnya disektor tersebut.

“Pertumbuhan industri komponen dapat dilihat dari peningkatan penjualan mobil di dalam negeri, tahun ini penjualan mobil diperkirakan menyamai penjualan tahun lalu sekitar 870.000 unit. Hal tersebut diakibatkan kenaikan uang muka kendaraan sebesar 30%,” tukasnya.

Suhari menuturkan selama ini infrastruktur di dalam negeri tidak mendukung investasi yang masuk dan biaya logistik masih sangat tinggi. “Minimnya pelabuhan dan jalan yang tidak memadai membuat investor mempertimbangkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi,” ujarnya.

Sedangkan kondisi perekonomian secara global akan mempengaruhi pertumbuhan di sektor otomotif. Krisis yang melanda Eropa serta Amerika Serikat akan menurunkan tingkat penjualan mobil di Tanah Air.

“Tahun ini penjualan mobil diperkirakan akan stagnan, hal tersebut merupakan dampak dari krisis global yang menimpa Amerika Serikat dan Eropa. Ini akan berpengaruh terhadap investasi di sektor komponen kendaraan dan target penjualan mobil yang dicanangkan pemerintah sebesar satu juta unit,” paparnya.

Suhari menegaskan industri otomotif merupakan pendorong industri non-migas karena pertumbuhan ekonomi mendorong peningkatan lalu lintas barang dan orang. “Dibandingkan dengan Thailand yang merupakan salah satu basis produksi otomotif terbesar di Asia, Indonesia tetap memiliki potensi pasar yang lebih besar, terutama untuk roda dua,” katanya.