BI Kembali Tahan BI Rate 5,75%

NERACA

Jakarta--- Bank Indonesia kembali memutuskan BI rate tetap pada 5,75 %. Alasannya, karena masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai sasaran 2012 dan 2013 sebesar 3,5%-5,5 %. "Ke depan tekanan inflasi diperkirakan moderat dan tetap berada dalam kisaran sasarannya," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution usai Rapat Dewan Gubernur di Jakarta,12/7

Menurut Darmi, Indek Harga Konsumen (IHK) pada triwulan II tercatat sebesar 0,9 % sehingga secara tahunan tercatat sebesar 4,53 % (yoy), secara fundamental masih terkendali sebagaimana tercermin pada inflasi inti di level 4,15 % (yoy) seiring dengan penurunan harga komoditas global dan ekspektasi yang membaik.

Dijelaskan Darmin, BI juga terus mewaspadai kecenderungan perekonomian global yang mengalami pelemahan dan diliputi ketidakpastian yang cukup besar akibat penyelesaian krisis Eropa yang masih memerlukan waktu panjang. Di samping berlanjutnya persepsi negatif di pasar keuangan global, ekonomi Eropa akan mengalami resesi pada tahun ini sebelum berangsur membaik pada 2013.

Melemahnya perekonomian dunia mulai berdampak pada kinerja sisi eksternal perekonomian Indonesia sehingga pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih rendah dari sebelumnya.

Dengan menurunnya kinerja ekspor, pertumbuhan ekonomi triwulan III diperkirakan tumbuh lebih rendah yaitu sebesar 6,3 % dan berada pada kisaran 6,1 - 6,5 % pada 2012 dan 6,3 - 6,7 % pada 2013.

Ke depan, BI tetap fokus pada upaya menjaga keseimbangan eksternal terutama untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Karena BI mendata, selama triwulan kedua, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 2,62 % secara kuartal ke kuartal ke level Rp9.393 per dolar AS. "Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,65 % (quartal ke quartal) ke level Rp9393 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 2,27 % menjadi Rp9.277 per dolar AS," jelasnya

Tekanan terhadap nilai tukar rupiah, lanjut Darmin, dipengaruhi oleh dinamika krisis di Eropa yang mendorong meningkatnya permintaan valas terkait portfolio rebalancing oleh pelaku nonresiden. "Selain itu, permintaan valas domestik juga meningkat seiring dengan impor yang tinggi. BI terus menempuh langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan di pasar valas maupun pengembangan instrumen moneter valas untuk mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah," lanjut dia.

Ke depan, BI berjanji akan terus memperkuat pengelolaan nilai tukar sesuai fundamental dengan melanjutkan operasi moneter dan pendalaman pasar valas dalam menjaga agar penyesuaian keseimbangan eksternal berjalan teratur. **cahyo

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Laba OCBC NISP Tumbuh 11%

  NERACA Jakarta - Bank OCBC NISP membukukan laba bersih di 2019 sebesar Rp2,9 triliun atau naik 11% bila dibandingkan…

LinkAja Gandeng JNE untuk Permudah Transaksi

  NERACA Jakarta - LinkAja berkolaborasi dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) dalam rangka mempermudah pembayaran jasa pengiriman logistik…

Prudential Beri Perlindungan Tambahan Hadapi Virus Corona

  NERACA Jakarta – Perusahaan asuransi PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) memberikan perlindungan tambahan terhadap ancaman virus corona jenis…