Kemendag Dorong Penerapan Sertifikasi Kopi

Jamin Kualitas Produk

Kamis, 12/07/2012

NERACA

Jakarta – Industri kopi nasional cukup diminati oleh berbagai negara di dunia dan menghasilkan devisa cukup besar untuk negara diharapkan untuk menerapkan sertifikasi kopi dari dalam negeri. Kementerian Perdagangan menilai, adanya sertifikasi kopi lokal itu akan membuat kualitas kopi Indonesia lebih terjamin. Hal ini disampaikan oleh Mardjoko, Direktur Ekspor Hasil Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag di Jakarta, Rabu (11/7).

Lebih jauh lagi Mardjoko mengusulkan, agar Gaeki (Gabungan Eksportir Kopi Indonesia) membentuk sebuah lembaga sertifikasi khusus untuk kopi yang berasal dari dalam negeri. "Kemendag mendukung, sepanjang hal itu memberikan dampak kondusif bagi industri kopi dalam negeri," jelas Mardjoko.

Meskipun belum ada pembicaraan terkait konten dari sertifikasi itu, namun Mardjoko bilang sertifikasi harus mendorong peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia. Sertifikasi juga harus bisa meningkatkan kepercayaan pembeli terhadap kualitas kopi yang diekspor.

Mardjoko menceritakan, selama ini sertifikasi kopi masih sangat bergantung dengan negara-negara importir atau konsumen. Selain penerapan standar yang berbeda-beda antar negara konsumen, sertifikasi yang berasal dari negara importir membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Meski bentuk konkret dari penerapan standarisasi belum dibuat, namun Mardjoko bilang aspek yang terkandung dalam sertifikasi bisa dapat diadopsi dari negara-negara konsumen.

Sertifikasi Kopi

Sebelumnya, Hutama Sugandhi, Ketua Umum Gaeki berharap agar nanti ada sertifikasi kopi dalam negeri. "Dengan sertifikasi kopi lokal itu, pedagang kopi Indonesia tidak lagi di dikte negara-negara konsumen," tegas Hutama. Meski masih dalam tahap pembahasan, namun Gaeki mengusulkan sertifikasi kopi yang dibuat berasal badan independen dalam negeri.

Di tempat berbeda, Wakil Ketua Umum Gaeki Bidang Spesialis dan Industri Kopi Pranoto Soenarto meyakini, Indonesia akan mampu menyalip Brasil dan Vietnam dalam hal produksi kopi beberapa waktu ke depan. Sebagai salah satu upaya, pelaku industri kopi nasional pun akan belajar dari Brasil. "Produksi kopi kita sekarang nomor tiga di dunia setelah Brasil dan Vietnam," ungkap Pranoto.

Dia menjelaskan, dalam hal total produksi, baik itu kopi jenis robusta maupun arabika, Indonesia memang berada di peringkat ketiga dunia. Tapi, untuk jenis robusta saja, Indonesia menjadi produsen kedua di dunia setelah Vietnam.

Pranoto menyebutkan, produktivitas kopi nasional memang masih rendah ketimbang Vietnam. Padahal negara ASEAN tersebut dulu belajar menanam kopi dari Indonesia. "Lumayan jauh beda produksinya, kita ini dengan 1,3 juta hektar lahan tapi produksinya hanya 700.000 metrik ton, sedangkan Vietnam dengan 500-600.000 hektar bisa menghasilkan 1,3 juta metrik ton," kata Pranoto.

Tapi, selisih produksi yang terbilang besar tersebut tidak lantas membuat pelaku industri kopi nasional enggan berkompetisi. Dia mengatakan, Gaeki punya niat untuk bisa menyalip Vietnam bahkan Brasil. "Kita bisa menyalip tapi kita kita harus perbaiki produksi. Dalam 15 tahunan kita harus bisa menyusul Brasil, dan dalam lima tahun ke depan kita bisa menyusul Vietnam," kata Pranoto.

Gaeki melihat ada kelemahan dari cara berproduksi Vietnam. Menurut Pranoto, produksi kopi negara itu cenderung dipaksakan. Pertanian kopi Vietnam banyak menggunakan pupuk kimia. Cara ini, kata dia, tentu tidak baik untuk jangka panjang. Oleh sebab itu, Gaeki akan tetap berupaya mendorong pertanian kopi nasional bisa menggunakan pupuk organik. Produktivitas memang lambat tumbuh tetapi ini demi jangka panjang. "Kita pakai pupuk organik memang pelan tapi mencapai sesuatu," katanya yang juga mengatakan kualitas kopi bisa lebih baik dengan pupuk ini.

Lalu, ahli pertanian dari Brasil pun akan didatangkan. Mereka diharapkan bisa mengajari pelaku industri kopi nasional mengenai teknik-teknik budidaya kopi. "Dengan cara pemangkasan tertentu, ya ada teknik dan bimbingan negara maju seperti dari pertanian Brasil," ungkap Pranoto.

Dia pun menyimpulkan, Indonesia akan berupaya menggenjot produksi kopinya. Salah satu faktor pendorong adalah potensi permintaan kopi yang masih besar. "Di dunia masih shortage 6% arabika. Dan China bila menjadi pengimpor maka kekurangan bisa di atas satu juta metrik ton," kata Pranoto.