Mentan: RI Defisit Perdagangan Singkong

Kamis, 12/07/2012

NERACA

Jakarta - Menteri Pertanian Suswono menegaskan Indonesia masih mengalami defisit dalam perdagangan singkong. Kondisi ini bukan karena RI hanya mengimpor singkong, namun ekspor komoditas ini jauh lebih rendah ketimbang impornya. Karena itu, Mentan mengatakan, Indonesia mengalami defisit perdagangan singkong US$ 50 ribu. "Kita defisit hanya US$ 50 ribuan," kata Suswono di Jakarta, Selasa malam (10/7).

Menurut Suswono, pada 2011, lalu Indonesia mengekspor singkong dan turunannya ke berbagai negara dengan nilai kurang lebih US$ 350.000, antara lain ekspor gaplek 11.868 ton, tapioka 83.150 ton, bentuk lainnya 1.024 ton dan lain-lain. Tapi impor produk singkong seperti tapioka pada tahun yang sama kurang lebih 98.000 ton, total nilainya seluruh yang diimpor US$ 402.000.

Dalam pandangannya, fakta ini merupakan hal yang lazim dalam perdagangan antar negara, karena tak ada negara yang bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. "Kaitan dengan singkong, perdagangan kadang-kadang industri ini membutuhkan bahan baku spesifik. Ada jenis singkong yang dibutuhkan industri, bisa jadi mereka mengimpor, kekurangan bahan baku, tapi sebaliknya ada singkong dari kita yang kita ekspor," ujarnya.

Suswono menandaskan, para pelaku industri memerlukan bahan baku yang spesifik sehingga membutuhkan bahan baku dari negara lain. Sebaliknya negara lain butuh jenis singkong dari Indonesia. "I ni perdagangan biasa," tandasnya.

Selain ribut-ribut soal defisit perdagangan singkong, data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan setiap tahun terjadi tren kenaikan impor produk hortikultura khususnya buah-buahan impor dari berbagai negara. Kementerian Pertanian mencatat buah impor yang masuk ke pasar dalam negeri hanya 7% dari total produksi buah dalam negeri, namun sudah mampu membuat defisit perdagangan buah-buahan Indonesia.

"Volume antara yang diproduksi dan diimpor sebetulnya tidak sampai 10%, yang impor sebenarnya hanya 7% dibandingkan dengan produksi lokal. Ini seolah-olah mana produksi dalam negeri? Padahal produksi buah dalam negeri meliputi 93%," kata Suswono.

Dia menjelaskan, kendati hanya 7% namun jika dibandingkan volume buah impor tahun sebelumnya cenderung mengalami kenaikan signifikan. Mengutip data Kementerian Pertanian, misalnya saja di 2010 perbandingan impor terhadap produksi buah lokal baru mencapai sekitar 3,5%, yaitu produksi buah lokal 19,03 juta ton sementara volume impor buah 667.000 ton. Lalu data 2009, dari produksi buah lokal sebanyak 18,6 juta ton, impor hanya 640.000 ton atau hanya 3,43% dari produksi. Di 2008 dari produksi 18,02 juta ton volume impor 502.000 ton.

Selain itu, Suswono menuturkan fenomena buah impor terkesan membanjiri pasar dalam negeri memang sangat mencolok jika hanya melihat pasar supermarket karena buah impor dominan dalam etalase supermarket. Namun di pasar lainnya justru sebaliknya. "Di supermarket memang terjadi ada beberapa. Kita akui defisit antara yang kita ekspor dengan yang diimpor, yang kita ekspor juga ada seperti nanas, salak, manggis," cetus Suswono.

Sebenarnya, defisit perdagangan, khususnya buah impor setidaknya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu lalu. Misalnya saja di 2009 ekspor buah Indonesia hanya US$ 162 juta namun nilai impornya melambung hingga US$ 626 juta. "Namun kalau kita spesifik hortikultuta antara buah-buahan kita yang ekspor dengan buah-buahan impor ini yang kita masih minus," katanya.

Apabila diukur diukur dari perdagangan produk pertanian secara keseluruhan antara yang diekspor dan diimpor, lanjutnya, justru Indonesia masih surplus Us$ 24 miliar pada tahun lalu, namun itu lebih banyak tertolong dari sektor sawit. "Jadi kalau kita bicara keseluruhan antara produk pertanian kita yang diekspor perkebunan sawit, CPO, kakao, karet, kopi dan lain-lain," terangnya.