Peru Jadi Mitra Dagang Strategis

Diversifikasi Pasar Ekspor ke Amerika Latin

Kamis, 12/07/2012

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan mengatakan, Peru merupakan salah satu mitra dagang yang potensial dan strategis, karena banyak saling melengkapi dan persamaan antara kedua negara. Peru adalah inisiator dari Aliansi Amerika Latin Pasifik, yang terdiri dari para pelaku negara di Amerika Latin. Aliansi ini berharap untuk memiliki kerjasama ekonomi lebih lanjut dengan negara-negara ASEAN.

Perekonomian Peru terbesar ke-6 di Amerika Latin dengan Produk Domestik Bruto (PDB) US$275,7 miliar. Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor Indonesia ke pasar non tradisional Amerika Latin mencapai 25% tahun ini. “Masih banyak produk kita yang potensial untuk diekspor ke Peru, seperti minyak kelapa sawit, karet alam, kertas dan karton, bagian motor, furnitur, alas kaki, tekstil dan garmen, pupuk, dan produk perikanan, sedangkan di Peru bisa ekspor tepung ikan, minyak ikan, anggur, kentang, dan asparagus ke Indonesia,” terang Gita melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Rabu (11/7).

Nota kesepahaman yang memuat kerjasama antara Kementerian Perdagangan RI dan Kementerian Perdagangan Luar Negeri dan Pariwisata Peru pun telah ditandatangai saat ASEAN-Latin Forum 2012, baru-baru ini. Kerjasama dibidang promosi perdagangan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu wahana di dalam upaya untuk meningkatkan perdagangan bilateral kedua negara, antara lain melalui kegiatan pertukaran informasi, kerja sama di dalam pelaksanaan riset pasar di masing-masing negara dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Menurut Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Gusmardi Bustami, Peru merupakan salah satu negara pasar tujuan ekspor non tradisional Indonesia di Amerika Latin. “Peru dan Indonesia dapat saling mengisi dan melengkapi di bidang perdagangan,” ujarnya.

Total perdagangan Indonesia dan Peru pada tahun 2011 sebesar US$213,4 juta, meningkat 9,83% dibandingkan tahun 2010 yang senilai US$125,6 juta. Ekspor Indonesia ke Peru pada 2011 senilai US$162 juta atau naik 71,99% dari US$ 94,2 juta pada tahun 2010, sedangkan impor Indonesia dari Peru mencapai US$51,4 juta pada tahun 2011, meningkat 63,36% dari US$31,5 juta pada tahun 2010. Sehingga, Indonesia mengalami surplus pada tahun 2011 yang senilai US$110,6 juta atau meningkat 76,32% dari 2010 yang senilai US$62,7 juta.

Harus Direalisasikan

Sementara, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto menghimbau agar pertemuan ASEAN-Latin beberapa hari kemarin, jangan hanya sekedar ritual seremonial belaka, namun harus segera direalisasikan. Kerjasama dengan negara-negara latin harus mempunyai potensi ekonomi yang berguna bagi kedua negara. "Kalau hanya ngomong di depan forum, sama saja bohong. Sebaiknya enam bulan ke depan bisa terealisasi," tegasnya.

Menurut Suryo, banyak peluang yang bisa digarap bersama negara-negara Amerika Latin. Seperti, Brasil lebih maju dalam teknologi pangan dan peternakan, sementara Peru dan Chili lebih maju dalam hal perikanan dan pertambangan. Maka, keunggulan masing-masing negara itu, bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan industri serupa di dalam negeri. ”Kita hanya perlu lebih sering bertemu saja, antara pengusaha Indonesia dan pengusaha negara-negara latin ini,” jelasnya.

Implementasi dari kerjasama Indonesia dengan Brasil, yang seharusnya sudah bisa dilakukan sesegera mungkin. Hal itu bertujuan untuk segera mengejar target perdagangan kedua negara menjadi US$20 miliar. "Begitu pula dengan implementasi kerja sama dengan negara Latin lainnya, seperti Peru dan Meksiko," pungkas Suryo.