Maju Dengan Paradigma Baru

Director PT American President Line (APL) Indonesia : Bambang Sabekti

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Sosok yang banyak makan asam garam (banyak pengalaman dan pengetahuan) ini, memang menjadi sumber yang tepat untuk bertanya seputar bisnis shipping dan logistic, bukan hanya di Indonesia namun mancanegara. Dialah Bambang Sabekti, pria kelahiran Klaten yang sarat aktifitas sebagai Direktur PT APL Indonesia, Direktur PT APL Logistic, dan Presiden Director PT Java Hesa Mulia.

Bagi Bambang, akrab ia disapa, membagi ilmu merupakan hal yang biasa ia lakukan. Tak aneh jika dirinya kerap menjadi narasumber media massa maupun sebagai pembicara dalam pelbagai kesempatan untuk mengulas tata kelola bisnis shipping maupun logistic.

“Saya senang berbagi ilmu dan pengetahuan dari pengalaman yang saya miliki,” ungkap sosok yang telah 20 tahun menekuni bidangnya. Maka benar kata orang bila pengalaman adalah guru terbaik.

Menurut Bambang, perkembangan bisnis logistic dan shipping di Indonesia sangat menjanjikan, selain wilayahnya yang berkepulauan, perkembangan daerah satu dengan yang lainnya juga belum terkelola dengan baik sesuai standar yang ditetapkan. Itulah mengapa kita menemukan kasus bila untuk mengantar barang ke Kalimantan, cost-nya akan lebih besar ketimbang mengirimnya ke Bangkok.

Menurut pria lulusan Business Administration Universitas Indonesia (UI) tahun 1987, dan penyandang gelar Magister Management pada Universitas Airlangga tahun 1998 ini, bahwa banyak pelabuhan didaerah yang cukup potensial namun belum memiliki dermaga yang cukup baik sehingga kadang menjadi kendala untuk berkembangan.

Selain dermaga, tambah Bambang, kelaikan dan dukungan infrastruktur seperti jalan yang memenuhi syarat juga patut diperhitungkan, “Saya rasa pemerintah daerah juga turut berperan mendorong pencapaian ketersediaan infrastruktur yang memadai,” ungkap Chairman of Middle East Shipping Conference tahun 2003-2004 lalu ini.

Pencapaian pelabuhan yang modern memang masih menjadi harapan. Karena dengan pelabuhan yang modern tentu akan disinggahi kapal-kapal yang juga modern. Dengan kesiapan infrastruktur atau peralatan yang menunjang dalam menunjang produktifitas dan efisiensi. “Bila melakukan bongkar muat saja sudah terlalu lama, tentu akan meningkatkan cost,” ujarnya.

Ia meyakini bila setiap pelabuhan memiliki karateristik yang berbeda, “Kita tidak bisa menyamakan Pelabuhan di Sumatera dengan Jakarta, atau Jakarta dengan Kalimantan, karena masing-masing daerah memiliki kultur dan budaya yang berbeda,” ungkap penggemar kuliner pelbagai menu soto ini.

Namun yang dapat dipastikan, kata dia, pelabuhan yang umumnya terkonektifitas dengan dunia internasional maka pelabuhan maupun perekonomian daerah tersebut akan lebih cepat berkembang.

“Saya sangat apresiatif dengan kinerja Pelindo dibawah kepemimpinan Pak Lino (Dirut Pelindo Richard Joost Lino), yang telah bekerja keras secara terus menerus dalam mewujudkan dan mengembangkan banyak pelabuhan di Indonesia,” ujarnya, namun ia pun berharap agar kinerja yang sudah dilakukan dapat juga mendapat dukungan pemerintah daerah terkait, sehingga harapan kemajuan perekonomian, termasuk roda pembangunan didaerah terkait dapat cepat terwujud.

Suami dari perempuan cantik bernama Imaculata Tri Setyasih Utami dan ayah dari tiga orang putra putrinya, yaitu Mayang Prisma Tami, Nadia Prininta dan Muhammad Hafizh Adha ini menututurkan bahwa model joint venture dalam meningkatkan kinerja menjadi langkah yang patut diperhitungkan.

Selain dapat memenuhi sisi permodalan dalam usaha dan transformasi teknologi, joint venture dalam pengelolaan pelabuhan bertujuan untuk meningkatkan produktifitas yang akan menarik banyak peluang bisnis, “Saya pikir akselerasi melalui joint venture menjadi langkah terbaik dalam memacu berkembangnya tata kelola yang lebih baik,” ungkapnya.

Joint venture, jelas Bambang, bukan dalam arti sempit hadirnya permodalan dan teknologi semata, namun ada paradigma yang sangat mendasar dari tata kelola pelabuhan, “Saya melihat ada perubahan dalam pengelolaan pelabuhan, dengan meninggalkan budaya birokrat ke arah pengelolaan yang lebih pada costumer focus,” ujarnya.

Sosok yang berprinsip menghindari konfrontasi dalam memecahkan persoalan dan lebih memfokuskan pada solution goal ini, “Saat ini thing globally, act locally tak lagi sesuai dengan tuntutan jaman, kita sudah harus merubah mainsheet agar dapat thing locally, act locally. Karena kita memang berbisnis di sini (Indonesia),” ucapnya memberi kiat dalam mencapai kemajuan dengan paradigma baru.