Friendster Menjelma Jadi Sosial Media Game

NERACA

Karena sulit bersaing dengan media lain, Friendster menjelma dari media sosial menjadi situs games online sosial. Para pengguna tetap bisa saling terhubung satu sama lain, hanya dengan fokus bermain games, bukan sekadar berkenalan.

Twitter dan Facebook saat ini menjadi raksasa situs sosial media dunia, walaupun akhir-akhir ini Facebook lambat dalam pertumbuhannya.

Namun, masih ingatkah dengan media sosial yang sempat booming sebelum ada Facebook dan Twitter?. Ya, apalagi kalau bukan Friendster yang pada tahun 2000-an menjadi rajanya situs media social. Pada awal kemunculannya media social ini cukup “digilai” di Indonesia dan Asia Tenggara.

Namun, keadaanya kini berbeda. Media social yang penggunanya mulai dari usia sekolah hingga dewasa ini tidak memiliki umur yang panjang. Sejak kehadiran Facebook dan Twitter, belakangan juga Google+, media sosial ini seolah tenggelam.

Banyak yang dulu pengguna aktif namun memutuskan untuk menutup akun Friendsternya, setelah banyak aktif di Facebook, Twitter dan beberapa jejaring sosial lainnya

Lambat laun Friendster mulai ditinggalkan oleh para user. Sampai akhirnya Friendster dijual dan kemudian dibeli oleh perusahaan Malaysia. Namun tetap saja, masih belum dapat mengembalikan kejayaannya.

Untuk mengakali agar situs itu tidak mati, kembali ke kancah pertarungan media sosial, dan berusaha mengambil kejayaannya yang pernah dimilikinya dahulu, mulai 25 April lalu Friendster mengubah formatnya menjadi situs games online.

Secara perlahan, aplikasi games mulai ditambahkan. Agaknya, Friendster sudah sulit bersaing dengan media sosial lain yang tengah merajai dunia maya, seperti Facebook dan Twitter. Maka pemiliknya mengubah format dari media sosial menjadi situs games online sosial. Para pengguna tetap bisa saling terhubung satu sama lain, hanya dengan fokus bermain games, bukan sekadar berkenalan.

“Sejak memperbanyak games, user kami setiap bulan mengalami peningkatan 50%,” ujar CEO Ganesh Kumar Bangah dalam pernyataan resminya. Mayoritas para pengguna berasal dari Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Kini, tercatat ratusan game tersedia gratis di Friendster. Sekitar 40 game memang mewajibkan berbayar untuk penggunanya. Taglinenya pun berubah menjadi 'Living The Game' dengan tetap mengandalkan logo smiley.

Salah satu games andalan mereka adalah Boomz yang dimainkan lebih dari 200.000 pemain. Namun, jumlah ini masih di bawah Facebook yang satu games-nya bisa dimainkan oleh 40 juta user.

BERITA TERKAIT

Media Asing Soroti Kebijakan Polkam dan Ekonomi RI

NERACA Jakarta - Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan, kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang telah melewati…

"Public Chaos", Ujung Interpretasi Media yang Salah

  Oleh : Ricky Rinaldi, Peneliti Madya Lembaga Studi Informasi Strategis (LSIS) Tidak dapat dipungkiri bahwa aktor yang paling berperan…

Revolusi Media Digital Untuk Layanan Kereta Api - Industri Transportasi

NERACA Jakarta - Saat ini DKI Jakarta dan sekitarnya sedang menggalakkan pembangunan infrastruktur untuk memenuhi kebutuhan transportasi umum di dalam…

BERITA LAINNYA DI

Sisa Kanal 3G Jadi Rebutan - Pemerintah Undur Jadwal Lelang

    NERACA Persaingan operator seluler makin tak terbendung. Peningkatan kualitas layanan serta tranformasi teknologi komunikasi adalah sebagian dari pemicunya,…

Operator Seluler Tangkap Peluang Ramadan - Momentum untuk Bersilaturahmi

Ramadan memberikan berkah tersendiri bagi operator. Ini dipicu karakter masyarakat Indonesia yang memanfaatkan Ramadan sebagai momentum untuk bersilaturahmi maupun mempererat hubungan…

Kuota Habis, Internet Tetap Jalan

NERACA AlwaysOn, memberi keleluasaan mengakses internet tanpa khawatir dibatasi kuota maupun masa aktif yang terlalu singkat. Akses internet telah menjadi…