Tantangan Membangun dan Memajukan Bangsa

Business Development Manager PT Seven Offshore Indonesia : Satriadi Wijaya Yudha

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Hijrahnya sejumlah tenaga profesional muda bidang pertambangan ke diluar negeri, mengundang keperihatinan sosok Satriadi Wijaya Yudha. Ia menilai bahwa kesempatan, tantangan dan apresiasi terhadap tenaga profesional anak negeri yang masih minim menjadi alasan tak sedikit tenaga ahli asal Indonesia yang justru mengaktualisasikan kepandaiannya untuk bekerja dibeberapa negara. “Kita masih memandang tenaga asing (ekspatriat) lebih baik dari tenaga Indonesia, dan itu tidak sepenuhnya benar,” ungkapnya.

Business Development Manager PT Seven Offshore Indonesia ini menuturkan bahwa sangat banyak tenaga profesional muda Indonesia yang telah mampu menyerap pengetahuan dan teknologi dengan sangat baik yang digunakan dalam bisnis oil and gas, “Saya yakin sangat banyak tenaga profesional kita yang mampu menerapkannya, dan memberi benefit bagi perusahaan dan bangsa Indonesia,” ujar dia meyakini.

Yudha akrab ia disapa memandang bahwa salah satu kunci menarik para profesional dibidang pertambangan untuk berkiprah di negeri sendiri adalah memberinya tantangan atau kepercayaan, “Berikan kita tantangan untuk berkiprah di Indonesia,” ungkapnya.

Anak pasangan Bapak Sabirin dan Ibu Rr. Endang Soelistyowatie yang kini memiliki seorang putra gagah Muhammad Nauval Alkautsar (11) buah pernikahannya dengan Yurniati memandang pula bila sebenarnya banyak ragam dari bentuk pengabdian bagi bangsa.

Sebenarnya, kata Yudha, profesional asal Indonesia yang bekerja di luar negeri juga merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa, karena dengan bekerja sebagai profesional dibanyak perusahaan pertambangan dan dipelbagai kondisi yang menantang ditempat mereka bekerja justru telah mengibarkan semangat kebangsaan, “Prestasi yang mereka lakukan juga menjadi point terhadap penilaian tenaga ahli asal Indonesia,” ujar pria lulusan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) tahun 1998 ini.

Sosok yang telah lebih dari 10 tahun menggeluti bidang Supply Chain Management di dunia oil and gas dan memahami seluk beluk procurement (sourcing and vendor management), tendering, contract management (drafting, administering and close-out), inventory, warehouse, logistic (inbound and outbound), pengetahuan seputar formalitas proses eksport dan import, dan memiliki pemahaman yang mendalam terkait regulasi di Indonesia ini, mengharapkan dimasa mendatang akan lebih banyak profesional anak bangsa yang berkiprah mengelola kekayaan alam yang dimilikinya bagi kemajuan bangsa dan negara.

Saat ini dari sekitar 43 perguruan tinggi di Tanah Air, yang membuka Jurusan Teknik Pertambangan rata-rata akan melahirkan sekitar 1.600 Sarjana Tambang setiap tahun. Mereka (lulusan pertambangan) akan bekerja disemua lini bidang oil and gas baik di Indonesia bahkan mancanegara. Kalau kita perhatikan, kata Yudha, mereka (lulusan pertambangan) adalah orang-orang terbaik yang berasal dari sekolah terbaik, “Minimal mereka merupakan termasuk dalam the best ten student yang memiliki prestasi di sekolah sepanjang mereka menempuh pendidikan hingga akhirnya melangkah ke jenjang perguruan tinggi,” kata Yudha. Karena itu akan sangat disayangkan bila kepintaran yang sudah diasah dan terseleksi tersebut, tidak sepenuhnya diaktualisasikan bagi kemajuan bangsa sendiri.

Pria dengan pengalaman sebagai Project Officer pada United Nations Conferences On Trade And Development (UNCTAD) tahun 1998-2000 ini mengungkapkan bila profesional seorang sarjana tambang juga tidak cukup hanya menguasai hanya dibidang pertambangan, tetapi juga memahami pengetahuan yang kelak akan menunjang keberhasilannya di dunia oil and gas. Ia mencontohkan pengetahuan seputar sistem keselamatan kerja, keselamatan lingkungan, maupun ekonomi keberlanjutan masyarakat di daerah operasi pertambangan, atau seputar regulasi yang diterapkan.

“Seorang profesional harus pula memahami pengetahunan lainnya selain pertambangan. Karena dengan pengayaan tersebut kelak akan memperkuat performance mereka dalam aktifitas bekerja,” ungkap peraih gelar Master Accounting Management Universitas Indonesia (UI) tahun 2001 menilai.

UNCTAD adalah organisasi di bawah payung PBB yang menyangkut dengan negara berkembang untuk memperluas kesempatan ekspor komoditas diseluruh dunia dengan menyediakan akses informasi seputar peluang perdagangan.

Yudha memang sarat pengalaman dibidang oil and gas, terutama dari sejumlah perusahaan besar yang pernah digelutinya. Kariernya diawali saat ia bergabung sebagai Business Consultant pada Arthur Andersen Consulting tahun 2000, lalu pada Santa Fe Energy Resources Indonesia sebagai Stock Analyst tahun 2001.

Selanjutnya Yudha bergabung dengan Devon Energy Indonesia tahun 2002, Petrochina International Companies Indonesia tahun 2004, Unocal Indonesia Companies tahun 2005, Petronas Carigali Indonesia Operation tahun 2006, Pearl Energy Group Indonesia, hingga kini dipercaya sebagai Business Development Manager pada PT Seven Offshore Indonesia sejak April 2012 lalu.

Dengan pengalaman dan keterampilan yang ia miliki, Yudha pun mampu meneliti dan menganalisis pelbagai jenis informasi dan membuat rekomendasi yang efektif dalam menyelesaikan masalah atau isu, “Dalam setiap penilaian, kita harus tetap konsisten mengikuti standar prosedur, kebijakan perusahaan, dan regulasi yang ditetapkan,” ungkapnya, dengan demikian maka value yang dapat dipetik akan diperoleh maksimal bagi kemajuan perusahaan.

Topik Terkait

satriadi wijaya yudha