Deflasi Maret 2011

Oleh: Prof. Firmanzah Ph.D

Dekan Fakultas Ekonomi UI

Di awal tahun 2011 yang lalu, ekonomi Indonesia dikejutkan dengan melonjaknnya beberapa harga keputuhan pokok dan pangan dan membuat inflasi tinggi di awal tahun ini. Dimana inflasi di bulan Januari sebesar 0,89% dan Februariberada di angka 0,13%. Sehingga laju inflasi Januari-Maret 2011 tercatat sebesar 0,70% dengan laju inflasi year on year (YoY) 6,65%. Dimana asumsi inflasi 2011 dalam APBN disepakati sebesar 5,3%. Kesiapan nasional untuk meredam dan stabilisasi harga sangat dibutuhkan untuk pencapaian target inflasi 2011 sesuai dengan asumsi yang telah ditetapkan.

Menurut BPS, deflasi yang terjadi pada bulan Maret 2011 merupakan tertinggi dalam 4 tahun terakhir. Dimana penyumbang terbesr dari deflasi Maret 2011 adalah penurunan harga sejumlah komoditas seperti penurunan harga cabe merah (30,5%), cabe rawit (19,57%), beras (3,54%) dan bawang merah (4,56%). Strategi yang digunakan oleh pemerintah salah satunya adalah membuka kran impor untuk sejumlah produk komoditas. Meski hal ini efektif dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang dikhawatirkan akan memukul sektor pertanian Indonesia. Oleh karena itu, ketika trend harga komodititas turun pemerintah perlu menyetop kran impor untuk menghindari penurunan harga dan dapat merugikan petani.

Dari sisi moneter, upaya serius dari pemerintah dan Bank Indonesia (BI) seiring dengan masuknya musim panen telah membuat deflasi untuk bulan Maret sebesar 0,32%. Beberapa waktu yang lalu, untuk menanggulangi ancaman inflasi, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi. 6,75%. Meski penyumbang terbesar inflasi bulan Januari-Februari bukan dari sisi moneter, tetapi langkah ini sedikit banyak membantu menyerap keleihan likuiditas di pasar.

Mengingat komponen harga pangan sangat tinggi bagi inflasi maka sektor ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Dalam jangka panjang, stabilisasi harga komoditas perlu dilakukan melalui penyeimbangan produksi, konsumsi nasional dengan pola panen yang terjadi. Mismatch antara produksi dalam negeri dengan konsumsi dalam negeri perlu dihitung dan ditopang oleh cadangan pangan nasional yang ‘aman’.

Selain itu juga, dari sistem cadangan pangan dan stabilisasi harga jual di tingkat petani perlu dilakukan. Petani membutuhkan kebijakan untuk mendukung baik dari sisi pembiayaan, penyediaan bibit, irigasi, teknologi pertanian dan pemasaran untuk menjamin keberlangsungan produksi di dalam negeri.

Menjaga inflasi terkendali perlu dilakukan secara komprehensif. Baik di tingkat moneter maupun dari sisi supply dengan tingkat permintaan yang mengikuti siklus periodik tiap tahun. Fungsi perencanaan nasional membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan vertikal pusat-daerah.

Di tengah ketidakpastian harga pangan dan komoditas global, Indonesia perlu ketahanan di sejumlah sektor termasuk ketahanan pangan yang melingkupi kebijakan di bidang pangan terkait dengan finansial, produksi, tenaga kerja dan distribusi. Tanpa adanya hal ini, maka ancaman inflsi tinggi akan terus menghantui dan dikhawatirkan penyelesaian melalui impor (jangka pendek) akan secara permanen dilakukan ketika gejolak harga pangan dan komoditas terjadi.

Related posts