Kisah Si Ikan Nila

Sabtu, 14/07/2012

NERACA

Ikan Nila yang konon sudah melegenda sejak 4000 tahun yang lalu, memiliki banyak nama. Salah satunya Tilapia Nilotica, sebuah sebutan yang diberikan oleh Aristoteles dan rekan-rekanya, nama itu diambil dari nama sebuah sungai terbesar di Afrika yang bermuara di pantai utara mesir.

Konon Nila merupakan makanan kerajaan karena ikan ini sangat langka pada awalnya namun jenis Nila lainnya sudah ada di seluruh perairan darat Afrika seperti Nila mosambicus, Aurea, Urelepis hornorum dan lain sebagainya. Nilotica dipelihara dalam kolam-kolam dalam istana raja.

Mesir Kuno bukan satu-satunya orang yang menghargai Nila. Nila telah, dan masih ada, ikan makanan penting bagi banyak kelompok yang berbeda yang hidup di Afrika dan kawasan Mediterania timur. Yunani dikenal sebagai penggemar dan Aristoteles Nila diyakini telah menamakannya Tilapia niloticus (ikan Nil) pada 300 SM.

Di Indonesia Nila masih cukup baru dan sudah pasti ada seseorang yang mendatangkan dari luar dan tak mesti dari Afrika.

Di Amerika Latin, lebih besar peternakan komersial mengekspor ikan Nila atau tilapia segar ke pasar AS. Hal ini telah memberikan kesempatan kerja bagi penduduk setempat. Nila beku ekspor pertanian juga merupakan sumber pendapatan yang penting bagi banyak negara di Asia Tenggara. Beternak ikan Nila dapat menjadi jalan bagi negara-negara tropis untuk memanfaatkan iklim yang hangat, karena Nila dapat tumbuh sepanjang tahun asalkan suhu air cukup tinggi.

Aspek penting lain dari beternak ikan Nila adalah bahwa banyak dari spesies Nila tidak perlu diberi makan makanan yang kaya akan protein, dan ini benar-benar dapat memberikan kontribusi.

Di banyak negara, sekarang ini petani skala kecil mengabungkan peternakan ayam atau hewan peliharaan lainnya diatas kolam ikan mereka agar ikan Nila mendapat makanan tambahan.

Ikan Nila akan menjadi salah satu ikan alternative masyarakat Indonesia di massa akan datang karena telah bertambahnya varietas baru jenis-jenis ikan. Memperkaya jenis-jenis ikan di kolam, sungai, danau. Dan lebih penting memperkaya persediaan protein tinggi konsumen.

Nila pertama kali didatangkan dariTaiwan ke Bogor (Balai Penelitian Perikanan AirTawar) pada tahun 1969.

Setahun kemudian, ikan ini mulai ditebarkan ke beberapa daerah. Pemberian nama Nila berdasarkan ketetapan Direktur Jenderal Perikanan pada tahun 1972. Nama tersebut diambil dari narna species ikan ini, yakni nilotica yang kemudian diubah menjadi . Nama nilotica menunjukan daerah asal ikan ini, yaitu di sungai air tawar.

Secara alami ikan ini melakukan migrasi dari habitat aslinya di sungai Nil di Uganda (bagian hulu Sungai Nil) kw arah selatan melewati Danau Raft dan Tanganyika hingga ke Mesir (sepanjang Sungai Nil). Nila juga terdapat di Afrika bagian tengah dan barat. Populasi terbanyak ditemukan di kolam-kolam ikan di Chad dan Nigeria. Dengan campur tangan manusia, saat ini Nila telah menyebar ke seluruh dunia mulai dari Benua Afrika, Amerika, Eropa, Asia, dan Australia.

Awalnya, Nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica atau ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva di dalam mulut induknya.

Dalam perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkannya ke dalam jenis Sorotherodon niloticus atau kelompok ikan tilapia yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induk jantan dan betina.

Akhirnya, diketahui bahwa yang mengerami telur dan larva di dalam mulut hanya induk betinanya. Para pakar perikanan kemudian memutuskan bahwa nama ilmiah yang tepat untuk ikan ini adalah Oreochromis niloticus atau Oreochromis.