Mencari Desain Tepat untuk Jembatan Selat Sunda

TERAPKAN TEKNOLOGI GENERASI IV

Sabtu, 14/07/2012

Rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) paling tidak sudah mencuat ke permukaan sejak September tahun lalu, ketika Kementerian Pekerjaan Umum menggelar sebuah seminar internasional yang mendatangkan sejumlah tenaga ahli khusus di bidang jembatan bentang panjang.

NERACA

Wakil Menteri Pekerjaan Umum A. Hermanto Dardak mengharapkan berbagai masukan yang diperoleh dari Seminar Internasional Sehari mengenai Jembatan Bentang Panjang menuju Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) dapat dipergunakan untuk menyempurnakan studi awal menjadi studi kelayakan proyek raksasa itu.

“Berbagai masukan yang saya dengar hari ini sangat berharga bagi pembuatan studi kelayakan rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda,” katanya (13 Sept. 2011).

Hadir sebagai pembicara dalam seminar sehari tersebut Klaus H. Ostenfeld dengan agenda Teknologi Baru untuk jembatan suspensi dengan bentang sangat panjang. Dia adalah konsultan ahli, mantan Ketua IABSE, mantan CEO COWI, Denmark.

Pembicara lainnya adalah EricJoly dengan agenda Desain dan Konstruksi dari Jembatan Rion-Antirion. Eric Joly adalah kepala insinyur dari Vinci Group, Perancis.

Selanjutnya adalah Xu Guoping dengan agenda Riset dan Konstruksi dari jembatan Selat di China. Xu Guoping adalah wakil presiden China Central Communication Consultant Group, China.

Selanjutnya Prof. Dr. Ir. Wiratman Wangsadinata dengan agenda Desain awal jembatan Selat Sunda sebagai jembatan dengan bentang sangat panjang. Dia dalah President Director PT Wiratman and Associates.

Lalu dilanjutkan oleh Erik Mellier dengan agenda teknologi kabel baru untuk jembatan suspensi bentang panjang. Erik adalah Direktur Teknis dari Freyssinet International, Prancis.

Hadir juga Zhang Qiang dengan agenda studi mengenai resistensi angin dan seismik serta aplikasi teknis untuk jembatan bentang panjang di China. Qiang adalah Wakil President dari Bridge Reconnaisance and Design Institute, China.

Kemudian pembicara terakhir adalah Dr. Ir. Fx Supartono dengan agenda alternatif struktur viaduct untuk Jembatan Selat Sunda Supartono adalah Presiden Direktur PT Partono Fondas.

Menurut Wamen PU, pembangunan Jembatan Selat Sunda menjadi mata rantai yang sangat pnting untuk membangkitkan perekonomian di Jawa Barat dan di Sumatera Selatan, dan secara keseluruhan di Indonesia.

“Karena jembatan ini bila kelak jadi akan menghubungkan dua pulau besar di Indonesia,” katanya.

Menurut Hermanto, masukan dari seminar internasional itu nantinya harus dikaji kembali dengan multidisiplin yang terkait seperti aspek, politik, ekonomi, sosial, budaya dan aspek transportasi.

Dia meminta Tim Nasional Pembangunan Jembatan dan Tata Ruang Selat Sunda untuk mendalami secara lebih teliti berbagai aspek yang terkait itu, sehingga bisa mengantisipasi segala hal berkaitan dengan masalah teknis dan nonteknis.

Hermanto juga minta agar tim nasional melakukan perhitungan ulang terhadap faktor biaya sehingga diperoleh biaya efektif dengan memperhatikan segi lingkungan seperti faktor angin, adanya gunung berapi Anak Krakatau, jalur transportasi tongkang batubara dan sebagainya.

“Melalui seminar sehari ini kita menghadapi tantangan di masa depan dengan kompleksitas yang tinggi, dengan memperhatikan banyak aspek dalam mengambil keputusan,” katanya.

Menurut dia, di Selat Sunda juga terdapat palung laut yang kedalamannya 120-150 m.

“Jadi kita harus merancang jembatan itu dengan kombinasi antara panjang dan kedalaman dari fondasinya,” tuturnya.

Dia mengatakan karena di laut, makin dalam fondasinya, semakin mahal biayanya, dan harus memperhitungkan faktor angin dan gempa.

Untuk mengurangi beban tadi, maka dibuat bentang yang panjang dengan fondasi agak lebih pendek .

Generasi IV

“Panjang (bentang) untuk di Selat Sunda ini, kita perlu kurang lebih 2,2 km-2,5 km. Dengan bentang sepanjang itu, tidak bisa lagi dengan cabled stayed seperti di Suramadu, tetapi dipakai suspension cable. Itu kabelnya ditaruh di menara dan lantai kendaraan digantung di kabel itu,” katanya.

Menurut Hermanto, jembatan suspensi itu lebih "gampang memaafkan (forgiving)". Hal itu terlihat pada waktu terjadi gempa di Kobe (Jepang), jembatan Akasika yang tidak jauh dari episenter gempa ternyata jembatan itu menggeser hampir 1 meter. Dengan ayunan sebesar itu, ternyata jembatan itu tidak apa-apa, karena jembatan bisa mentoleransi gempa sebesar itu.

Dia mengatakan bahwa di selat Sunda ada potensi gempa yang cukup besar, karena ada patahan di baratnya Sumatera, selatan Jawa dan pertemuan tiga lempengan kulit bumi. Berbagai kondisi itu dipakai sebagai acuan untuk mengetes seberapa toleransi model jembatan terhadap gempa horizontal yang mungkin terjadi di Selat Sunda.

Hal lain yang harus diperhatikan adalah angin, dan yang ketiga adalah Gunung Krakatau yang terletak kurang lebih 50 km dari lokasi rencana jembatan. Setelah dikonsultasikan dengan Kepala BMVKG Soerono, ternyata yang paling terpengaruh adalah pada jarak 5 km, sehingga pada jarak 50 km, tidak terlalu signifikan. Potensi bencana lainnya adalah tsunami .

“Potensi tsunami seberapa tingginya, kita desain jembatan lebih tinggi daripada potensi tsunami itu,” katanya.

Menurut Hermanto, jembatan Messina adalah jembatan yang dibangun dengan teknologi jembatan generasi I. Jembatan ini adalah jembatan rangka baja, panjangnya hampir 2 km. Generasi II adalah jembatan di China dan beberapa Negara, berupa boks dari baja, generasi ketiga adalah boks yang digabung dengan pengaku tertentu sehingga bisa aerodinamis.

Dari berbagai masukan itu, bisa dibangun Jembatan Selat Sunda dengan menggunakan teknologi jembatan Generasi IV yang paling mutakhir menggunakan suspension cable.

Para peserta seminar internasional pada hari kedua meninjau lokasi rencana pembangunan Jembatan Selat Sunda tersebut. (agus/dbs)