Pendapatan Industri Asuransi Tumbuh 37,1 %

NERACA

Jakarta---Pendapatan sekitar 44 perusahaan asuransi yang tergabung dalam Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sepanjang kuartal I-2012 mencapai Rp33,1 triliun atau tumbuh 37,1 % dari periode yang sama 2011 yang senilai Rp24,1 triliun.

Menurut Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim dari total pendapatan ini pendapatan premi masih menjadi yang terbesar, yaitu Rp24,3 triliun atau tumbuh 14,8 % dibandingkan periode yang sama 2011 yang sebesar Rp21,1 triliun. "Sisanya dikontribusikan dari investasi senilai Rp8,3 triliun, klaim reasuransi sebesar Rp337,1 miliar dan pendapatan lain-lain sebesar Rp151,1 miliar," ujrnya di Jakarta

Hendrisman menambahkan pendapatan premi produksi baru juga tercatat mengalami peningkatan 12,1 % menjadi Rp16,6 triliun, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp14,8 triliun. "Dari angka ini, premi tradisional tetap mempertahankan pertumbuhannya dengan menyumbang premi baru sebesar Rp8,8 triliun atau naik 58 % jika dibandingkan dengan kuartal I-2011 yang senilai Rp5,5 triliun," tuturnya

Sementara unit link pada bisnis baru mencatat penurunan hingga 15,2 %, yaitu dari posisi Rp9,2 triliun menjadi Rp7,8 triliun pada kuartal I-2012. "Ini dipicu penurunan penjualan produk unit link premi tunggal, sementara produk unit link premi reguler masih mengalami pertumbuhan," terangnya.

Sementara untuk sumbangan pendapatan premi hingga kuartal I-2012 tercatat mencapai Rp7,7 triliun, naik 20,9 % dibandingkan periode yang sama 2011 sebesar Rp6,4 triliun. Untuk unit link dari premi lanjutan tercatat sebesar Rp4,4 triliun, tumbuh 31 % jika dibandingkan dengan kuartal I-2011 yang sebesar Rp3,4 triliun.

Di sisi lain, lanjut Hendrisman, fungsi proteksi dari industri asuransi juga berjalan baik. Hal ini jika merujuk pada data klaim yang dibayarkan perusahaan asuransi jiwa, yang hingga kuartal I-2012 total klaim yang dibayarkan asuransi jiwa nasional mencapai Rp14,5 triliun atau meningkat 27,2 % dibandingkan periode yang sama 2011 yang senilai Rp11,4 triliun. "Jadi industri asuransi tidak hanya rajin meraup premi dari nasabah, namun juga memenuhi kewajibannya jika ada klaim yang diajukan," pungkasnya. **lia

Related posts