Krisis Ekonomi Penyebab Proteksionisme Perdagangan

NERACA

Jakarta - Kondisi Indonesia telah berubah. Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang terjaga. Meski dunia sempat dihantam krisis keuangan pada 2008-2009, Indonesia tetap mampu tumbuh positif, sementara hampir di banyak negara harus menghadapi pertumbuhan eknomi yang negatif. Bahkan, pada 2011 Indonesia mampu tumbuh 6,5%, sedangkan di belahan Eropa dan Amerika Serikat masih terkendala dengan pertumbuhan yang terhambat akibat krisis.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde memuji keberhasilan Pemerintah Indonesia dalam mengelola perekonomian nasional yang dinilai berhasil sekalipun mengingatkan bahwa faktor eksternal bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Dalam kecenderungan penurunan ekonomi dunia, Indonesia melakukan dengan baik dengan lebih 6% dari tingkat pertumbuhan, inflasi relatif rendah dan defisit dan utang publik kurang dari 25%.

“Dalam semangat menjaga pertumbuhan ekonomi, Pemerintah harus melakukan pendekatan dengan cara mendengarkan pemahaman, pembelajaran, dan, bukan mendikte tetapi memfasilitasi dan membantu sektor swasta. Di sisi lain, belajar dari pengalaman Amerika Serikat dan ekonomi Uni Eropa, Pemerintah juga harus memulihkan, mempertahankan dan mengamankan stabilitas keuangan,” ujar Lagarde saat berpidato pada acara ASEAN-Latin Business Forum 2012 di Jakarta, Selasa (10/7).

Dari laporan WTO (World Trade Organization), lanjut Lagarde, kondisi ekonomi dunia telah menyebabkan meningkatnya proteksionisme. Tidak ada negara yang kebal dari krisis ekonomi. Dengan demikian, banyak negara yang dikenakan non tarif barrier dan standar teknis, karena tarif yang lebih tinggi memang sulit untuk dilakukan. Namun demikian, untuk memiliki perdagangan menggoda, penting untuk mendorong perdagangan dari proteksionisme dan mulai bekerja pada kerjasama.

Sementara, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menanggapi hambatan tarif beberapa produk Indonesia untuk masuk negara pasar non tradisional, seperti negara-negara Amerika Latin, Afrika Selatan serta negara bagian selatan lainnya, masih cukup besar. Hal itu akibat ketidaktahuan dari negara-negara tersebut.

Sedangkan di sisi non tarif, ada paradigma mereka terhadap produk Indonesia menyerupai negara industrialis yang besar. Dengan demikian, tingkat proteksi negara kawasan tersebut cenderung tinggi untuk menerima produk impor, terutama dari negara industri maju. “Oleh karena itu, perlu diupayakan pendekatan diri satu sama lain agar negara-negara tersebut bisa menyesuaikan postur perdagangan dengan produk dan jasa Indonesia,” pungkas Gita.

BERITA TERKAIT

Imunisasi Tak Optimal Penyebab Wabah Campak di Asmat

Campak dan gizi buruk kembali melanda anak-anak suku Asmat di Papua. Dalam empat bulan terakhir, ada 24 anak yang meninggal…

Bank Commonwealth Dukung Desainer Lokal Perluas Pasar - Membangun Kemandirian Ekonomi Wanita

Sebagai bentuk kepedulian dalam pemberdayaan ekonomi wanita, PT Bank Commonwealth (Bank Commonwealth) mendukung brand lokal Purana, fashion house yang fokus…

Ekonomi 2018 Diprediksi Mampu Tumbuh Minimal 5,1%

      NERACA   Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspansi Bisnis - Setelah ASEAN dan Asia Selatan, INKA Mulai Rambah Pasar Afrika

NERACA Jakarta – PT Industri Kereta Api (Persero) mulai merambah pasar di Benua Afrika sebagai ekspansi bisnis setelah memasarkan produk…

Berdasarkan Data KKP - Hingga Oktober 2017, Ekspor Produk Perikanan US$ 3,62 miliar

NERACA Jakarta – Berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ekspor produk perikanan Indonesia tercatat sebesar US$ 3,62…

Indonesia-Tanzania Tingkatkan Relasi Perdagangan

NERACA Jakarta – Dubes RI untuk Tanzania Ratlan Pardede melakukan pertemuan dengan Presiden Zanzibar Ali Mohamed Shein pada Jumat (24/11)…