Harga Saham Unggulan Naik, IHSG Ikut Terkerek - Asing Aksi Beli

NERACA

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melonjak hingga 58 poin, diikuti dengan kenaikan saham-saham tambang, yang dipengaruhi aksi beli bersih investor asing. Hampir seluruh lapisan saham terkena aksi beli sehingga sembilan sektor berhasil naik.

Kenaikan IHSG ini mempengaruhi saham tambang unggulan yang terkena ambil untung, akibat sehari sebelumnya sudah naik sangat tinggi sehingga laju penguatannya terhambat. Ini dipengaruhi adanya investor asing yang semakin semangat menanam modal di bursa saham Indonesia.

Asisten Manager Danareksa, Gunawan Benjamin mengatakan kenaikan bursa kemarin dipicu kebijakan bank sentral khususnya di China dan Eropah yang menerapkan kebijakan uang longgar untuk memacu pertumbuhan. "Akibatnya sejumlah harga komoditas pun menjadi naik,” tuturnya.

Kebijakan itu juga, lanjut Benjamin, menambah likuiditas uang di pasar semakin besar yang memunculkan risiko kenaikan harga barang (inflasi). Rencana itu juga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami kenaikan dan berhasil menembus level 4.000.

Sementara itu, dengan adanya kebijakan itu juga membawa pengaruh positif. Pasar Eropa dan China sangat berpengaruh terhadap pasar Indonesia, apalagi di pasar saham.

"Seperti kita ketahui, Eropa sedang dilanda krisis. Sementara China merupakan negara pemegang pasar untuk saat ini. Jadi dua negara ini sangat memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia, termasuk Sumut." Untuk itu, ujarnya, pemerintah harus menerapkan beberapa strategi agar dampak krisis di Eropa tidak membawa pengaruh besar, khuususnya pasar saham.

Kenaikan IHSG Minggu lalu diikuti dengan menguatnya rupiah, ini menjadi momentum bagi saham di Indonesia untuk mengambil keuntungan dalam menarik perhatian bagi investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Analis senior Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu oleh kembali mencuatnya harapan pasar terhdap peluang digulirkannya Quantitative Easing (QE) AS untuk tahap ketiga dari The Fed. Harapan menguat setelah data manufaktur yang dirilis AS kemarin menegaskan, pemulihan ekonomi yang lemah.

Namun demikian, kata Firman, penguatan rupiah terbatas setelah kekhawatiran terhadap krisis utang di zona euro kembali merebak. Pasalnya, Finlandia dan Belanda mengutarakan ketidaksetujuannya jika fasilitas bail-out European Stability Mechanism (ESM) dapat membeli obligasi di pasar sekunder.

BERITA TERKAIT

Menteri Susi Imbau Masyarakat Ikut “Menghadap Laut”

NERACA Jakarta – Dalam rangka memeriahkan peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama dengan organisasi…

LG Targetkan Penjualan AC Komersil Naik 30% - Sertifikasi Uji Hemat Listrik

      NERACA   Jakarta – PT LG Electronics Indonesia (LG) baru saja mengantongi uji hemat listrik dari lembaga…

BEI Pastikan Dipicu Sentimen Krisis Turki - Tren Pelemahan IHSG

NERACA Jakarta – Tren pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terjadi sejak Senin awal…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…