Omzet Waralaba Tembus Rp114 Triliun - Realisasi Semester I-2012

NERACA

Jakarta - Amir Karamoy, Ketua Komite Tetap Waralaba dan Lisensi Kadin Indonesia, mengatakan fundamental ekonomi yang cukup kuat selama 6 bulan pertama 2012 menopang pertumbuhan waralaba.

"Secara konservatif, kami memprediksikan omzet waralaba tahun ini hampir sama dibandingkan dengan 2012. Per semester 1, realisasinya diperkirakan sudah mencapai 50%," katanya di Jakarta, Senin (9/7).

Dia memperkirakan omzet franchise per semester 1/2012 telah mencapai 50% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp114 triliun. Amir mengatakan pertumbuhan waralaba paling signifikan terjadi pada bidang usaha makanan dan kuliner lainnya.Selama periode libur sekolah, lanjutnya, penjualan produk makanan dan minuman mengalami peningkatan cukup tinggi.

Menurut dia, pertumbuhan omzet terjadi secara merata, baik untuk waralaba asing maupun lokal. "Berdasarkan pemantauan kami, waralaba lokal menunjukkan perkembangan positif, terlihat dari banyaknya laporan tentang pertumbuhan bisnis yang dijalankan," paparnya.

Amir mengatakan momentum pertumbuhan omzet juga akan terjadi pada periode Ramadan-Idul Fitri. Pada masa itu, lanjutnya, konsumsi masyarakat selalu meningkat dibandingkan kondisi normal. "Konsumsi masyarakat menjelang Lebaran biasanya cukup besar. Waralaba lokal punya kesempatan lagi untuk mengatrol pertumbuhan bisnis," ujarnya.

Di sisi lain, Amir mengatakan ekspansi waralaba asing mungkin akan sedikit mengendur sambil menunggu revisi Peraturan Menteri Perdagangan terkait franchise. Namun begitu, lanjutnya, minat asing untuk memperluas bisnis waralaba di Tanah Air masih terhitung bagus.

Sementara itu, Evi Diah Puspitawati, Associate Counsultant Internasional Franchise Business Management, mengatakan stabilitas politik dan ekonomi menjadi kunci pertumbuhan waralaba secara nasional. "Selama semester 1/2012 bisnis waralaba berjalan bagus, terlihat dari adanya ekspansi jaringan dan bermunculannya pemain baru," katanya.

Berdasarkan catatan IFBM, empat jenis usaha waralaba yang berkembang cukup baik ialah kuliner, pendidikan, otomotif, dan biro perjalanan wisata. Menurut dia, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih jadi kawasan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan waralaba. "Namun ada juga beberapa waralaba yang awalnya muncul dari tingkat kabupaten, kemudian ekspansi dengan membuka jaringan di Jakarta," katanya.

Evi juga mengatakan stabilitas politik dan ekonomi menjadi kunci pertumbuhan waralaba secara nasional. "Selama semester 1/2012 bisnis waralaba berjalan bagus, terlihat dari adanya ekspansi jaringan dan bermunculannya pemain baru," katanya.

Berdasarkan catatan IFBM, empat jenis usaha waralaba yang berkembang cukup baik ialah kuliner, pendidikan, otomotif, dan biro perjalanan wisata. Menurutnya, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi masih jadi kawasan penyumbang terbesar bagi pertumbuhan waralaba. "Namun ada juga beberapa waralaba yang awalnya muncul dari tingkat kabupaten, kemudian ekspansi dengan membuka jaringan di Jakarta," katanya.

BERITA TERKAIT

Produksi Nasional Disebut Tembus 60 Juta Unit - Impor Ponsel Turun Drastis

NERACA Jakarta – Industri telepon seluler (ponsel) di dalam negeri mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang cukup pesat selama lima tahun…

Multipolar Bukukan Penjualan Rp 12,80 Triliun

PT Multipolar Tbk (MLPL) meraih penjualan sebesar Rp12,80 triliun hingga periode 30 September 2017 turun tipis dibandingkan penjualan Rp12,89 triliun…

Elnusa Bukukan Pendapatan Rp 4,9 Triliun - Percepat Kinerja Operasi

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2017 kemarin, PT Elnusa Tbk (ELSA) berhasil mendongkrak kinerja dengan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp4,9…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Industri Alas Kaki Menapak Hingga US$4,7 Miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian memprioritaskan pengembangan industri alas kaki nasional agar semakin produktif dan berdaya saing, terlebih lagi karena…

Genjot Investasi dan Ekspor, IKTA Dipacu Perdalam Struktur

NERACA Jakarta – Industri Kimia, Tektsil, dan Aneka (IKTA) merupakan kelompok sektor manufaktur yang berkontribusi signfikan terhadap Produk Domestik Bruto…

Sepanjang Januari 2018 - Panen Belum Merata, Harga Gabah Kering dan Beras Tercatat Naik

NERACA Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan harga gabah kering panen dan gabah kering giling selama Januari…