Ekspansi Ke Batam, Hotel Mandarine Siapkan Investasi Rp 200 Miliar

NERACA

Jakarta – Emiten yang bergerak di sektor perhotelan, Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) berencana ekspansi properti ke Batam, dengan pembelian lahan seluas 20 hektare. Dana pembelian lahan tersebut diperkirakan senilai Rp 200 miliar.

Corporate Secretary HOME Henry Chevalier menjelaskan, dana untuk ekspansi tersebut akan diusahakan manajemen dengan menerbitkan saham baru atau rights issue dengan nilai yang sama."Rencana corporate action rights issue, akan tetapi masih dalam tahap pengkajian dan analisa market. Perusahaan akan akuisisi perusahaan properti yang memiliki area 20 hektare," kata Henry di Jakarta, Senin (9/7).

Sebelumnya Direktur Keuangan HOME Ardi Syofyan pernah bilang, pihaknya menargetkan rights issue terlaksana pada September mendatang. Saat ini, perseroan sedang menunjuk lembaga penunjang dan melakukan audit sebagai syarat sebelum maju ke Bapepam LK.

HOME akan mendirikan kondominium di areal terpadu. Selain itu, perseroan juga menjajaki masuknya investor asal Singapura dalam pengembang kondominium. "Batam lokasinya pinggir pantai. Masih penjajakan, siapa tahu ada stand by. Belum bisa dipastikan kapan, namun mudah-mudahan dapat berpartisipasi," ujar Henry.

Target pembeli kondominium adalah warga Singapura, karena lokasi yang berdekatan dengan Batam. "Singapura dekat dan lahan yang tersedia di Singapura sudah padat sekali," tegasnya.

Penambahan aset baru ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja HOME di masa mendatang, sehingga manajemen tidak hanya mengandalkan operasional. Tahun ini diharapkan HOME mencatat laba Rp 7 miliar dengan pendapatan Rp 50 miliar, setelah pada triwulan I menderita rugi Rp 2,022 miliar. "Batam kota industri, persaingan cukup ketat," tuturnya.

HOME berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 41 miliar pada tahun lalu, meningkat 23,93% dibanding 2010. Sedangkan kinerja perseroan tahun lalu ditunjukkan dengan laba bersih sebesar Rp 813 juta, atau turun 69,52% dibandingkan dengan 2010.

Presiden Direktur HOME, Heru Soesanto Riwanto pernah mengatakan, peningkatan pendapatan disebabkan penekanan terhadap pengeluaran dan efisiensi di segala bidang. Penurunan laba bersih disebabkan adanya beban bunga atas perlakuan penerapan PSAK No.50 (Revisi 2006) dan PSAK No.55 (Revisi 2006) terhadap hubungan istimewa serta penurunan pendapatan forex atas utang perseroan dalam mata uang dolar AS karena melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar. (didi)

BERITA TERKAIT

Zurich Jamin Kesehatan Hingga Rp30 miliar - Luncurkan Produk Critical Advantage

    NERACA   Jakarta - Zurich Indonesia meluncurkan produk asuransi untuk penyakit kritis yaitu Zurich Critical Advantage (ZCA). Produk…

Investasikan Dana Rp 87,68 Miliar - Unitras Borong 22,6 Juta Saham Saratoga

NERACA Jakarta -PT Unitras Pertama memborong 22,6 juta saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG) untuk investasi. Dalam siaran persnya…

Garap Proyek 35 Ribu MW - PLN Terbitkan Global Bond US$ 1,4 Miliar

NERACA Jakarta – Guna mendanai pengembangan dan operasional bisnis, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menerbitkan surat utang (global bond) pertama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Volume Penjualan Terkoreksi 5,58% - Astra Terus Pacu Penjualan di Semester Kedua

NERACA Jakarta – Lesunya bisnis otomotif di paruh pertama tahun ini memberikan dampak terhadap bisnis otomotif PT Astra International Tbk…

Hartadinata Akuisisi Perusahaan E-Commerce

Kembangkan ekspansi bisnisnya, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) pada tanggal 15 Juli 2019 menandatangani akta perjanjian penyertaan modal yang pada…

Kasus Hukum Menimpa Tiga Pilar - Investor Ritel Minta Kepastian Hukum

NERACA Jakarta – Kisruh sengketa manajamen PT Tiga Pilar Sejahtera Tbk (AISA) masih menyisakan masalah bagi para investor, khususnya investor…