Investor Asing Dorong Kenaikan IHSG

Dipicu Investment Grade

Sabtu, 14/07/2012

Kenaikan IHSG selama tiga hari berturut-turut ini karena adanya penguatan saham-saham sektor perkebunan, konsumen dan infrastruktur serta didukung oleh aksi beli bersih (Net Buying) oleh investor asing.

NERACA

Kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belakangan ini dikarenakan maraknya aksi beli yang dilakukan investor lokal dan asing. Saham-saham unggulan masih menjadi incaran investor. Kecuali saham-saham finansial yang terkena aksi ambil untung, dengan melakukan pembelian saham dengan secara besar-besaran.

Transaksi asing pun tercatat melakukan pembelian bersih dengan nilai yang signifikan. "Bursa Asia termasuk IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada minggu lalu kembali dibuka menguat menjadi penyebab sentimen positif dari penguatan bursa dan lonjakan harga komoditas," kata analis Samuel Sekuritas, Christine Salim di Jakarta.

Sementara IHSG Bursa Efek Indonesia pada Rabu (04/07), kembali dibuka terangkat sebesar 9,98 poin mengikuti bursa global dan naiknya harga komoditas. IHSG BEI dibuka naik 9,98 poin atau 0,25% ke posisi 4.059,87. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 2,55 poin (0,37%) ke level 698,21.

Kenaikan IHSG selama tiga hari berturut-turut ini karena ditopang oleh penguatan saham-saham sektor perkebunan, konsumen dan infrastruktur serta didukung oleh aksi beli bersih (Net Buying) oleh investor asing sebesar Rp 683,89 miliar.

Menurut Samuel, “kenaikan IHSG ini juga karena adanya ekspektasi pasar akan adanya potensi langkah stimulus dari beberapa bank sentral di Eropa, AS dan China menjadi salah satu katalis positif bagi bursa saham global,” tuturnya.

Namun demikian, katanya, beberapa sektor yang telah menguat signifikan dalam sepekan terakhir seperti pertambangan, semen, konsumer dan perkebunan cukup rawan aksi ambil untung.

Sementara, analis Panin Sekuritas, Purwoko Sartono mengatakan, IHSG kembali menguat dipicu oleh spekulasi Bank Sentral China akan memotong kembali reserve requirement (Giro Wajib Minimum) untuk mendorong kredit di China.

Selain itu, lanjutnya, data servis industri China bulan Juni juga tumbuh tertinggi sejak tiga bulan terakhir.

Meski IHSG menguat, menurut dia, ruang untuk naik relatif terbatas di tengah ancaman aksi ambil untung. Diproyeksikan indeks BEI akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada kisaran 4.010-4.070 poin.

Rupanya penguatan memberikan pengaruh positif terhadap reksa dana saham yang juga ikut terdongkrak untuk imbal hasil (return). Kendati demikian, kinerja reksa dana maupun IHSG pada bulan lalu dibandingkan dengan Januari 2012 menurun.

Dampak Kenaikan IHSG

Analis PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, menurunnya kinerja reksa dana maupun IHSG pada bulan lalu dibandingkan dengan bulan sebelumnya karena pengaruh sentimen di Bursa.

"Perbedaan antara kinerja Januari dan Februari, saya lihat banyak dipengaruhi oleh perbedaan sentimen yang melanda bursa pada periode tersebut," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut dia, pada Januari terjadi banyak sentimen positif yang memberi imbas positif terhadap bursa. Salah satu sentimen positif yang paling kuat adalah naiknya peringkat utang Indonesia menjadi layak investasi (investment grade). Peringkat tersebut diberikan oleh Moody's pada pertengahan Januari 2012.

Menurut dia, naiknya peringkat tersebut menyebabkan kinerja IHSG maupun reksa dana tumbuh positif. Sebaliknya, pada Februari sejumlah sentimen negatif muncul, seperti adanya kekhawatiran terhadap Yunani, yang saat itu masih dalam tahap perundingan untuk mendapatkan dana talangan.

Selain itu, isu akan dinaikkannya harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif dasar listrik yang dikhawatirkan akan memberi lonjakan inflasi.

"Perbedaan itu, yang memberi pengaruh besar terhadap kinerja reksa dana dan IHSG pada Januari dibandingkan dengan pada Februari," jelasnya.

Berdasarkan data PT Infovesta Utama, kinerja IHSG pada Februari 2012 tercatat 1,1%, sedangkan reksa dana saham mencapai 1,96%. Reksa dana campuran juga berhasil membukukan kinerja sedikit di atas IHSG, yakni mencapai 1,12%, sedangkan kinerja reksa dana pendapatan tetap mengalami jauh di bawah IHSG atau hanya memberikan return rata-rata 0,04%.

Adapun, kinerja IHSG pada Januari tercatat sebesar 3,13%, reksa dana saham 2,98%, reksa dana campuran 2,67%, dan reksa dana pendapatan tetap 2,37%.

Sebelumnya, Chief Economist and Director For Investor Relations PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat pernah mengatakan naik peringkat Indonesia ke investment grade dari lembaga pemeringkat Moodys akan berimbas pada positif pada industri reksa dana terutama pada reksadana yang berbasis saham.

Dia menuturkan, bagi asing dengan label investment grade tersebut maka Indonesia akan semakin dilirik. "Terutama kepada instrument yang memiliki risiko lebih tinggi seperti reksa dana saham, karena dengan investment grade menunjukkan risiko berinvestasi di Indonesia berkurang," ujarnya.

Dia mengatakan, pembukaan perdagangan saham di Eropa juga sempat tertekan, kondisi itu menjadi salah satu faktor penyebab IHSG tertahan penguatannya. Meski demikian, dia mengatakan IHSG masih mempunyai ruang penguatan pada perdagangan selanjutnya. Indeks BEI akan mengalami koreksi terlebih dahulu agar nilai saham tidak berada dalam area "overbought."

Menurut dia, dengan kondisi perekonomian global fluktuaktif, di mana krisis utang zona Euro masih menghantui pelaku bursa saham global baik regional dan perkembangan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat jauh lebih diminati oleh pelaku pasar.