Kebutuhan Subsidi BBM Bisa Capai 157,8%

Sampai Akhir 2012

Senin, 09/07/2012

NERACA

Jakarta—Hasil kajian Kementerian Keuangan menunjukkan perkiraan realisasi subsidi bahan bakar minyak pada akhir 2012 akan mencapai Rp216,8 triliun atau 157,8 %, melebihi target dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar Rp137,5 triliun.

Berdasarkan paparan Kementerian Keuangan terkait realisasi asumsi dasar ekonomi makro semester I dan proyeksi semester II 2012 yang diterima di Jakarta, Jumat, hal tersebut menyebabkan realisasi subsidi energi mencapai Rp305,9 triliun atau 151,2 %, melebihi target Rp202,4 triliun. Selain itu, subsidi energi listrik juga diperkirakan mencapai Rp89,1 triliun atau 137,1 % pada akhir 2012, melebihi target yang telah ditetapkan sebesar Rp65 triliun.

Kementerian Keuangan mencatat kenaikan beban subsidi energi tersebut dikarenakan adanya kenaikan harga ICP minyak dari 105 dolar AS per barel menjadi 110 dolar AS per barel. Kemudian, meningkatnya beban subsidi juga dikarenakan ada kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dari Rp9.000 per dolar AS menjadi Rp9.250 per dolar AS serta keterlambatan penyelesaian COD PLTU dan pemenuhan pasokan gas.

Secara keseluruhan belanja negara diperkirakan akhir tahun mencapai Rp1.553,2 triliun atau 100,3 % dari pagu Rp1.548,3 triliun, dan pendapatan negara diperkirakan Rp1.362,4 triliun atau 100,3 % dari target Rp1.358,2 triliun. Pemerintah juga akan melakukan langkah-langkah pengamanan agar defisit anggaran tidak melebihi batas maksimal defisit sebesar tiga %, sesuai UU No.17/2003.

Upaya yang dilakukan antara lain melakukan carry over terhadap subsidi listrik, penghematan belanja pegawai transito, pembayaran bunga utang dan belanja lain-lain sehingga defisit anggaran tidak terlalu jauh dari target sebesar 2,23 %.

Defisit diperkirakan mencapai Rp190,8 triliun atau 2,3 % terhadap PDB, sedikit lebih tinggi dibandingkan target rasio defisit terhadap PDB dalam APBN-Perubahan 2012 sebesar 2,23 %.

Ditempat terpisah, PT Pertamina (Persero) membangun "jobber" atau depo mini di Sanggau, Kalimantan Barat, guna mengatasi krisis bahan bakar minyak (BBM) di beberapa kawasan di provinsi itu akibat pendangkalan sungai. "Krisis itu akibat terputusnya alur Sungai Kapuas yang biasa dilalui tongkang pengangkut BBM dari dari Terminal BBM Pontianak ke Terminal BBM Sintang," Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya ketika meninjau jalur distribusi BBM di wilayah itu.

Hanung mengatakan, jobber tersebut saat ini sudah selesai 90 %, dan diperkirakan pada akhir tahun ini sudah selesai. Dengan demikian stok minyak di Sanggau dan Sintang bakal aman," katanya. **cahyo