Penggunaan Jasa Internal Audit Terdorong Regulasi

Senin, 09/07/2012

NERACA

Denpasar---Sejumlah negara mulai mendorong para pebisnis menggunakan jasa internal auditing. Hal ini demi membuat kinerja perusahaan semakin baik. Apalagi kebutuhan jasa audit ini pada perusahaan semakin meningkat signifikan. Alasanya dalam 5 tahun terakhir ini hingga 2012 terjadi lonjakan jumlah perusahaan dari kawasan Asia Pasifik hampir 250%. “Regulasi di berbagai negara makin mendorong dan mengharuskan adanya fungsi internal audit pada perusahaan,” Demikian disampaikan Hemal Modi dan Sapan Gandhi, keduanya Partner dan Sharp & Tannan, perwakilan konsultan bisnis Russell Bedford India, di workshop internal auditing pada Russell Bedford APAC meeting di Nusa Dua, Bali 6-7 Juli 2012.

Menurut Modi, sejalan dengan peningkatan peranan internal audit, maka communication protocol internal audit akan pula berubah. , jika sebelumnya internal auditor berkomunikasi dengan CEO atau top management dengan akses terbatas. “Maka sebaliknya pada masa yang akan datang internal audit akan memiliki akses yang luas dan langsung kepada Board/Audit Committee ,” tambahnya.

Adapun Russell Bedford APAC meeting dibuka oleh Syarief Basir, Managing Partner Russell Bedford Indomitra yang merupakan perwakilan Russell Bedford di Indonesi.

Dalam sambutannya Syarief Basir menekankan pentingnya kerjasama anggota jaringan konsultan bisnis Russell Bedford. Shhingga dapat meningkatkan kapabilitas dan existensi Russell Bedford di Asia Pacific. Oleh Karena itu, pertumbuhan kawasan dan pertumbuhan jaringan Russell Bedford telah memberi peluang kepada seluruh anggota jaringan Russell Bedford utk juga ikut menikmati pertumbuhan tersebut.

Beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Russell Bedford Perth saat ini dikerjakan bersama dengan Russell Bedford Indonesia, Singapore, dan Malaysia. Pekerjaan tersebut merupakan salah satu bukti bahwa kerja sama yang erat perlu dilakukan diantara anggota jaringan Russell Bedford.

Sementara itu, pembicara lainnya, konsultan independen Paul Yeung Mo Yin dari Hong Kong, menyatakan siapapun yang berprofesi sebagai konsultan bisnis , maka dituntut memperhatikan quality control, agar kualitas servis yang diberikan kepada pengguna jasanya selalu baik dan memiliki nilai tambah.

Lebih jauh Paul menambahkan untuk menjaga quality control dalam perusahaan jasa di industri akuntansi adalah mesti menerapkan aturan kode etik akuntan dan ISQC 1 yang diterbitkan oleh IFAC. Kode etik tsb antara lain memuat persyaratan integritas dan objektivitas, kompetensi profesisional dan kehatihatian, serta menjaga kerahasiaan dan tingkah laku profesional.

Paul menggarisbawahi kebutuhan quality control itu hendaknya bukan datang dari luar diri konsultan. Quality control seharusnya merupakan sesuatu yang melekat pada diri konsultan sendiri. Oleh karena itu quality control seharusnya muncul dalam bentuk kabiasaan atau “habits” bagi diri konsultan. **rin