Indofarma Perkirakan Semester I Penjualan Tumbuh 40%

Senin, 09/07/2012

NERACA

Jakarta - Emiten farmasi plat merah, PT Indofarma Tbk (INAF), semester I ini optimis mencetak pertumbuhan laba dibanding semester I tahun lalu. Perseroan memperkirakan terjadi pertumbuhan penjualan 40%.

Direktur Riset dan Pemasaran Indofarma Elfiano Rizaldi mengatakan, faktor pendorong mengapa perseroan optimis dapat tejadi pertumbuhan adalah karena telah mengangkat dua distributor lagi. “Tahun lalu distributor kita hanya satu, sekarang total jumlah distributor perseroan menjadi tiga distributor, yang semuanya beroperasi di Jakarta,” katanya di sela acara pemecahan rekor MURI untuk pemeriksaan dan senam mata dalam rangka rangkaian HUT Indofarma ke 31 di Jakarta, Minggu (8/7).

Penambahan dua distributor tersebut, kata Elfiano, antara lain, PT Mensa Bina Sukses (MBS) dan PT Sawah Besar. Selain itu Indofarma siap meningkatkan persentase kontribusi penjualan suplemen menjadi 20% dari saat ini baru mencapai 7%.

Elfiano mengatakan meski meningkatkan kontribusi penjualan pada suplemen, namun pihaknya tidak akan sampai mengeser dominasi yang diperoleh dari penjualan obat generik.“Strategi perseroan tetap sama, dimana bisnis utama adalah obat generik yang paling dominan, namun kita akan meningkatkan produk suplemen, dimana diharapkan dapat memberikan kontribusi sebesar 20% bagi penjualan perseroan pada 2014 mendatang,”paparnya.

Dia menambahkan untuk mencapai peningkatan stategi ini, pada pertengahan Juni 2012 lalu pihaknya telah merilis suplemen Biovisoin Kid sirup yang diperuntukan bagi anak-anak dibawah usia 12 tahun.

Menurutnya, hadirnya produk ini melengkapi produk suplemen yang telah ada sebelumnya yaitu Biovision biasa untuk remaja dan Biovision Gold buat orang tua. Produk baru ini berjuan agar semua lapisan umur dapat menikmati tersedia vitamin untuk mata. “Kita berharap produk ini menjadi pokok atau hal utama bagi masyarakat khususnya terhadap ketersedian vitamin mata,”jelasnya.

Dia menambahkan tujuan perseroan untuk merilis produk vitamin mata Biovison Kid ini didorong anak-anak sekarang matanya cepat rusak akibat dari pengaruh perkembangan teknologi seperti permainan game playstation, menonton televisi dan lain sebagainya.“Kita melihat melihat animo untuk Bovison Kid sirup ini cukup besar, kedepannya produk ini bukan hanya bentuk sirup saja, namun kita akan buat dalam bentuk hisap dan tablet,” terangnya.

Harga Produk ini kan ditawarkan Rp 20.000 per bungkusnya. Untuk target awal produk ini, Indofarma membidik penjualan mencapai 500 ribu sampai 1 juta potong dalam 1 tahun atau mencapai sekitar Rp 1 miliar.

Realisasi Penjualan

Sampai Juni perseroan sudah membukukan Rp 250-275 miliar. Elfiano mengatakan, di kuartal IV ditargetkan terjadi peningkatan yang signifikan. Dari penjualan Rp 250-275 miliar tersebut, lanjut Elfiano, kontribusi obat generik masih 95% sejauh ini.

Pemasaran obat generik tersebut, kontribusi reguler 70% dan untuk tender 30%. Pasar reguler disini adalah pasar yang dijual ke apotik, sedangkan pasar tender ini pasar yang ditender oleh pemerintah. “Sampe dengan Juni reguler masih dominan 70%. Tapi nanti sampai semester II, pasar tender sudah mulai berjalan, pemerintah sudah mulai anggarannya bisa diserap, nah di akhir tahun akan bisa sampai 40%,” ujarnya.

Dia menambahkan, bulan puasa memberikan pengaruh terhadap penurunan penjualan sekitar 30%. Sehingga akhir tahun pertumbuhan penjualan hanya ditargetkan 25% dibanding periode penjualan 2011. “Pada bulan puasa orang-orang jarang berobat dan orang-orang saat puasa jarang yang sakit, dokter-dokternya sibuk ibadah. Semua industri farmasi pada bulan puasa penjualan akan turun, beda pada sektor industri makanan dan ritel,” paparnya.

Berdasarkan data International Marketing Services (IMS) Health, Indofarma memimpin pasar obat generik nasional dengan pangsa 17,59% dengan nilai penjualan sebesar Rp 521,5 miliar di 2011. PT Kimia Farma Tbk (KAEF), emiten farmasi milik negara, menguasai 14% pasar obat generik nasional dengan penjualan sebesar Rp 416,7 miliar, kemudian PT Hexpharm Jaya dengan pangsa pasar 14%. Nilai pasar obat generik nasional di 2011 mencapai Rp 2,96 triliun, atau 11,8% dari total pasar obat resep nasional sebesar Rp 25 triliun. (didi)