BEI : Tidak Ada Khawatir Target IPO Bakal Meleset

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali sesumbar target perusahaan yang akan go public melalui penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) akan tercapai sebanyak 25 perusahaan.

Direktur Utama BEI Ito Warsito menyampaikan optimistis target IPO yang ditetapkan sebanyak 25 emiten bakal tercapai, meski kondisi perekonomian global saat ini tidak menentu, “Saat tidak ada khawatiran dan kami tidak akan revisi target IPO, karena yakin akan tercapai tahun ini,”katanya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Menurut Ito, pihaknya mengakui situasi perekonomian global ini yang tidak menentu dan akan tetap berimbas ke pasar modal nasional. "Namun, kita jangan pernah takut dengan kondisi perekonomian global ini," ujarnya.

Setelah PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) yang menjadi emiten kedelapan mencatatkan saham perdananya di bursa, kata Ito, akan ada lagi beberapa emiten baru yang akan menyusul pada beberapa pekan ke depan.m"Setelah Toba Bara, minggu depan atau sampai bulan depan bakal ada lima calon emiten lagi yang akan mencatatkan saham perdananya," terangnya.

Tercatat hingga Jumat ini, telah ada delapan emiten yang mencatatkan sahamnya di BEI, meliputi PT Minna Padi Investama Tbk (PADI), PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk (TELE), PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA), dan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST). Berikutnya, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC), PT Trisula International Tbk (TRIS), kemudian disusul dua pencatatan saham perdana dalam dua hari terakhir ini, yaitu PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) dan PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA).

Beberapa calon emiten lainnya yang akan menyusul, antara lain PT MNC Sky Vision, dan PT Global Teleshop, PT Tri Banyan Tirta, PT Gading Development, dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur.

Sebelumnya, Sekretaris Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Pardomoan Sihombing pernah bilang, target IPO 25 perusahaan diyakini bakal tercapai hingga akhir tahun. "Melihat fundamental ekonomi, saya optimistis target itu masih tercapai,"ujarnya.

Sementara analis PT Recapital Securities ini mengungkapkan, kondisi ekonomi makro Indonesia saat ini masih kuat, meskipun ancaman krisis ekonomi global, khususnya dari Eropa dan Amerika, masih terus berlangsung. Namun, secara fundamental posisi Indonesia masih kuat. Hal ini ditandai dengan terkendalinya inflasi serta BI Rate oleh Bank Indonesia.

Kondisi pasar modal di Indonesia, diyakininya masih lebih baik dibanding Malaysia, Thailand,. Pasalnya, pasar investasi di Indonesia masih memberikan return lebih besar. Kemudian, minimnya perusahaan melempar sahamnya ke pasar pada semester pertama tahun ini, disebabkan oleh masih dominannya faktor eksternal, seperti isu negatif seputar memburuknya krisis Eropa yang berasal dari Yunani. Adapun isu dalam negeri tidak terlalu memberikan dampak negatif. (bani)

BERITA TERKAIT

Kominfo Tidak Batasi Lagi Registrasi Kartu SIM Dengan NIK

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memutuskan bahwa satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) bisa digunakan untuk mendaftarkan lebih dari 3 nomor…

Produk Lindung Nilai LQ45 Bakal Dirilis

Dalam rangka meningkatan pertumbuhan transaksi di pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal meluncurkan produk single share option untuk…

Rupiah Bakal Tembus Rp15.000 Per Dolar?

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar cenderung fluktuatif. Namun posisi rupiah masih rawan lantaran…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

GMF Bukukan Laba Bersih US$ 7,4 Juta

Pada kuartal pertama 2018, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) membukukan pendapatan operasional senilai US$115,9 juta. Perolehan tersebut…

Investor di Bali Targetkan Tumbuh Merata

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Denpasar menyasar pertumbuhan merata jumlah investor saham di Bali untuk mendorong tingkat literasi dan inklusi…

Sepekan Nilai Kapitalisasi Pasar Turun 2,68%

NERACA Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan kemarin mengalami koreksi 2,91% menjadi 5.783,31 poin dari 5.956,83 poin…